
“Iya gapapa Vi, kami kan khawatir juga,” Sahut Rifka teman satu lokal Silvi waktu kelas 1.
“Kalau kalian mau pamit, silakan, aku udah baik-baik aja,” Ucap Silvi pada mereka yang masih berdiri, sebagian masih dengan kostum panggung mereka.
“Ya udah, kami keluar dulu Vi ya,” ucap Rifka.
“Iya 😊,” jawab Silvi.
“Bantu aku bangun Mon, kita keluar yuk, engap disini,” ajak Silvi pada Mona dan Kak Tristan yang masih disitu.
“Ya udah yok,” jawab Mona sambil membantu Silvi berdiri.
Mereka keluar dan duduk di kursi taman.
“Kalau gitu, aku tinggalin mau ke sana bentar Silvi ya,” Ucap Mona yang sengaja ingin ninggalin Silvi dan Kak Tristan berdua.
“Eh jangan, dia ini lah, nanti apa kata orang lain yang liat kami berdua-duaan disini,” jawab Silvi.
“Oo ya udah,” Mona mengurungkan niatnya untuk tidak pergi.
“Aku ambil minum dulu ya,” ucap Kak Tristan.
Silvi hanya mengangguk sambil tersenyum. Tidak berapa lama Kak Tristan pun kembali dengan 2 bungkus nasi kotak dan 2 botol air mineral.
__ADS_1
“Ini, kalian makan dulu,” Kak Tristan menyodorkan makanan tersebut untuk mereka berdua.
“Waduh, baik kali kok kak,” ucap Mona sambil menerima nasi tersebut.
“Kak Tristan sendiri gak makan?” tanya Silvi.
“Gapapa, kalian duluan aja,” jawabnya.
“Jangan, Kak Tristan makan dulu sana, nanti takutnya kita gantian pingsan,” Silvi mencoba untuk mencandai Kak Tristan.
“Ya udah, aku kesana dulu ya, kalau ada apa-apa panggil aja lagi,” kata Kak Tristan.
“Iya Kak, makasih banyak ya,” ucap Silvi.
“Hmmm ...” Silvi menarik nafas panjang.
“Kenapa Vi?” Tanya Mona yang lagi menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
“Gak ada apa-apa, makan terus,” jawab Silvi sambil membuka kotak nasi.
Mona teman Silvi yang bisa dibilang lumayan dekat, orangnya kutu buku, sedikit unik, dan tidak banyak gaya, makanya Silvi bisa berteman sama dia, Sedangkan teman-teman Silvi yang lain sangat modis, Silvi tidak punya banyak waktu untuk memikirkan gaya, jadi Silvi hanya punya teman yang sama-sama kutu buku.
“Vi, gimana jawaban untuk Kak Tristan?” tanya Mona tiba-tiba.
__ADS_1
“Aku belum punya jawabannya Mon, aku masih enggan pacaran,” jawab Silvi.
“Lhaa itu enggan pacaran, brarti jawabannya nolak dong,” Mona berkata lagi.
“Sssttt ... Jangan keras-keras ngomongnya,” Silvi berbisik pada Mona. Mona langsung menutup mulutnya.
“Aku gak mau nolak Kak Tristan di depan orang banyak, aku takut Kak Tristan kecewa dan sakit hati padaku,” Silvi berkata dengan nada sedih.
“Qe ada ide gak gimana cara aku nolaknya yang gak bikin Kak Tristan kecewa?” tanya Silvi pada Mona.
“Belum ada ide,” jawab Mona.
“Lagian, kenapa sih kamu tolak?, Kak Tristan itu, ganteng, baik, kaya pula, semua cewek tergila-gila pada Kak Tristan,” Mona berkata dengan santai.
“Termasuk kamu?” tanya Silvi pada Mona.
“Iya, tapi sayang, Kak Tristan gak tergila-gila padaku, jangan kan untuk tergila-gila, untuk ngelirik aku aja dia gak pernah,” jawab Mona.
“Gimana bisa tau kamu?” tanya Silvi lagi.
“Ya iyalah tau, yang dia perhatiin cuma kamu dari dulu, man kamu aja yang gak peka jadi cewek,” jawab Mona.
“Ih dia ini lah,” Silvi mencubit lengannya Mona.
__ADS_1