
“Ini dek pesanannya,” Pelayan warung datang membawa 2 mangkok bakso dan 2 gelas minuman yang berbeda. Vera mengambil jus mangga nya, dan Silvi mengambil jus alpukat nya.
“Aku disuruh abi lanjutin SMA di Jakarta, di tempat tante aku,” Silvi berkata sambil mengaduk-ngaduk coklat didalam jus nya.
“Srius qe?” Vera bertanya kurang yakin.
“Iya, tante aku minta aku tinggal dirumahnya, karna suaminya kerja, dia gak ada kawan di rumah.”
“Emang tante qe gak kerja?”
“Gak, gak dikasih sama om aku.”
“Gak ada anak juga?”
“Belum ada, qe doain bentar ya, semoga cepat punya momongan.”
“Amiiinnn ...” Vera menadahkan tangan mengamini doa untuk tantenya Silvi.
“Enak dong jadi qe, bisa ketemu coga-coga di sana, bisa liat konser BTS, aduhh ... aku jadi pengen juga sambung ke sana Vi,” Vera mulai berbicara ngelantur.
“Liat gedung-gedung tinggi didalam nya ada artis korea yang kinclong-kinclong, ibaratnya, lalat kalau hinggap di kulit mereka sriittt ... terpeleset jatuh tu lalat karna licin kali,” lanjut Vera meneruskan hayalannya.
__ADS_1
“Emang artis Korea tinggal di Jakarta?, kalau tinggal di Jakarta bukan artis Korea dong, tapi artis Jakarta,” Silvi mengolok-ngolok hayalan temannya.
“Ya kan mereka sering ke Jakarta juga, buat konser, uuhhh jadi pengen jumpa deh,” Jawab Vera sambil senyam-senyum sendiri.
“Aku perginya lusa,” Silvi membuyarkan hayalan Vera dengan topik utama.
“Apa? Lusa?, qe benaran pigi Vi? Gak kasian sama aku, tinggal aku sendirian di sini Vi ee,” Vera terkejut dan kembali fokus pada obrolan mereka.
“Emang orang tua qe kemana?” Silvi mencoba untuk melucu.
“Ah Silvi, lelucon qe garing, aku lagi sedih, aku gak mau ditinggal sendiri.”
“Jadi ini makan-makan terakhir kita?” Vera bertanya dengan nada sedih.
“Enak aja makan-makan terakhir, emangnya aku mau mati apa?” Silvi dengan cepat menjawab pembicaraan temannya itu.
“Bukan gitu juga maksud aku ee,” Vera berkata sambil mencubit gemes lengan Silvi.
“Eh dia ini, saket eh,” Silvi melepaskan tangan Vera sambil tertawa.
“Iya, ini makan-makan terakhir kita sampai aku balik pulang ke sini lagi,” lanjut lagi Silvi dengan senyum tipisnya.
__ADS_1
“Jangan lanjut ke sana lah, bilang sama Abi qe, disini aja.”
“Udah Vera, tetap Gak bisa, Abi aku kalau udah bilang A, gak mau lagi ganti B.” Jawab Silvi dengan mata berkaca-kaca.
“Man aku kek mana?” Vera bertanya lagi.
“Udah, habisin makanan terus, bentar lagi mau magreb, pulang kita,” Silvi tak ingin melanjutkan obrolan kesedihan mereka.
Mereka melanjutkan makan mereka, mengobrol banyak sambil berselfi.
“Nanti kirim ke wa ya, kenang-kenangan untuk kita, mau aku cuci yang besar trus aku pajang nanti di dinding kamar aku, aku tulis, “Best friend in SMP, I hope you always remember me", untuk qe satu untuk aku satu,” Vera berkata sambil memperagakan tangannya seperti sedang menempel foto.
“Aku kalau gratis mau, kalau harus bayar lagi, mending liat di hp aja,” Silvi berkata cuek.
“Untuk kali ini, gratis untuk sahabat gua.” Vera berkata dengan semangat.
“Kalau bukan mau pergi gak akan ada gratisan kan?”
“Ya lah, seperti kata pepatah inggris “No free lunch,”
Silvi dan Vera tertawa lepas.
__ADS_1