
"Prokk ... Prokk ... Prokk ...
Tepuk tangan meriah di akhir lagu Kak Tristan menambah suasana romantis bagi penonton yang melihatnya, tapi tidak bagi Silvi.
Silvi masih terdiam membisu di tempat duduknya, beberapa kamera mengarah ke arahnya. Hati Silvi berkecamuk.
“Terima aja Silvi, orangnya ganteng kek gitu,” Mona teman kelasnya Silvi berbisik pada Silvi.
Murid yang lain pun bersorak.
“Terima ...”
“Terima ...”
“Terima ...”
Silvi salah tingkah, pikirannya kalut, dia tidak lagi bisa berpikir jernih, apalagi melihat guru-gurunya juga ikut bertepuk tangan sambil tersenyum dalam artian mendukung.
“Bagaimana dengan Yasser?” Silvi bertanya pada dirinya.
“Kalau aku tolak cinta kak Tristan, takut nanti Kak Tristan kecewa, dan image Kak Tristan akan turun di mata teman-temannya.”
“Aku bingung ya Allah!, aku sangat bingung!” Silvi berteriak dalam hatinya dengan mata mulai berembun.
__ADS_1
“Aku gak bisa nyakitin orang lain di depan orang banyak, aku gak bisa, aku benar-benar gak bisa!, ya Allah bagaimana ini?” Silvi sudah sangat gugup dan tetesan keringat mulai mengalir di dahinya.
“Bruk ...” Silvi jatuh ke lantai di samping Mona.
“Eh ... tolong tolong, Silvi pingsan,” Mona berkata pada orang sekelilingnya sambil mencoba mengangkat tubuh Silvi ke pangkuannya.
“Silvi kenapa?” Tanya guru-guru yang berlari mendekat.
“Ga tau buk,” jawab Mona.
Kak Tristan langsung meninggalkan panggung dan berlari mendekati Silvi.
Kak Tristan di bantu sama guru-guru yang lain, memapah Silvi ke ruang ganti kostum, karna gak ada ruang lain disana.
“Sama siapa ada minyak kayu putih?” Kak Tristan berkata pada mereka.
“Ini Kak,” salah satu dari mereka menyerahkan minyak kayu putih untuk Kak Tristan.
Kak Tristan menerimanya, dan memberikannya pada Mona.
“Kamu olesin sedikit di hidungnya, atau kamu dekatkan aja mulut botol ke hidungnya, biar terhirup aromanya” ucap Kak Tristan.
Mona menerima botol minyak kayu putih itu, dan di dekatkan pada hidung Silvi seperti perintah Kak Tristan.
__ADS_1
“Silvi ... Silvi,” Mona menepuk-nepuk pelan pipi temannya itu sambil mengoleskan minyak kayu putih di dahi dan hidung Silvi.
“Hmm ...” Silvi membuka matanya dengan perlahan.
“Silvi kamu udah sadar?” Kak Tristan langsung bertanya dengan nada cemas.
“Udah Kak,” Silvi mencoba bangkit dari tidur, Kak Tristan mencoba membantu Silvi untuk bangun, tapi Silvi melarang tangan Kak Tristan untuk mendekat, teman-teman Kak Tristan saling berpandangan melihat Silvi menolak di bantu Kak Tristan.
“Kita belum mahram 😊,” Silvi berkata dengan menatap mata Kak Tristan sambil tersenyum tulus. Muka Kak Tristan yang tadinya menunjukkan sifat malu dan kecewa, kembali cerah lagi.
“Maaf ya, karna aku, kamu jadi kek gini,” ucap Kak Tristan yang merasa bersalah.
“Lho, bukan salah Kak Tristan kok ... Mungkin karna Silvi gak sempat sarapan tadi, karna buru-buru.” jawab Silvi.
“Ya ... Di tambah lagi sama aku, yang bikin kamu jadi bingung,” ucap Kak Tristan menyesal.
“Ga papa,” jawab Silvi singkat yang masih tetap memberikan senyuman untuk Kak Tristan.
“Oa, acaranya udah selesai?” Silvi mengalihkan topik pembicaraan dengan bertanya pada murid sekelilingnya.
“Udah, kan itu tadi acara terakhir,” jawab Mona.
“Makasih ya buat kalian semua, udah jagain aku sampai aku sadar,” ucap Silvi.
__ADS_1