Surat Izin Berjodoh

Surat Izin Berjodoh
Bab 9 : Yasser Alpa


__ADS_3

“Mas Anto, tolong panaskan mobil ambulans, kita akan membawa pasien ke rumah sakit rujukan,” perawat yang menjaga Silvi memanggil perawat laki-laki yang bertugas piket sebagai supir.


Mas Anto langsung berlari ke parkiran mobil.


Dokter yang menangani Silvi keluar buru-buru dari ruangannya dengan surat rujukan di tangannya.


Mas anto sudah menghidupkan mobil ambulans, dan membuka pintu belakangnya, tanpa menunggu lama mereka langsung mendorong dan memasukkan silvi yang terlentang lemah di atas brankar dorong ke dalam mobil ambulans.


Ummi dan Dokter duduk menemani Silvi di belakang, sedangkan Abinya Silvi duduk di depan dengan Mas anto.


Mereka melajukan mobil dengan cepat.


40 menit lebih mereka sampai di rumah sakit besar. Silvi segera diturunkan dari ambulans, mereka langsung melarikannya ke ruang UGD.


“Diluar dulu pak buk ya, biar kami tangani pasien dulu,” kata salah satu suster.


kemudian mereka menutup pintu ruang UGD.


Satu jam kemudian mereka mengeluarkan Silvi yang sudah terpasang infus dan oksigen dari ruang UGD dan menuju ruang rawat inap.


Ummi dan Abinya Silvi menghampiri dokter.


“Sepertinya anak ibu sama bapak terkena DBD, dia kehilangan banyak cairan tubuh, kita doakan semoga dia baik-baik saja!” Suster tersebut langsung menjelaskan tanpa menunggu pertanyaan dari orang tuanya Silvi.


“Boleh kami melihatnya suster?” Umminya Silvi bertanya.


“Sudah boleh, sekarang sudah kita bawa ke ruang rawat inap, karna harus di rawat beberapa hari sampai dia sehat kembali,” jawab Suster tersebut.


Ummi dan Abinya Silvi langsung menuju ruang yang ditunjukkan oleh suster.


Silvi sudah di pindahkan ke brankar kamar itu, dan telah dipakai baju rumah sakit.


Ummi dan Abi menghampiri Silvi yang terbaring lemah.


“Kakak,” Abinya Silvi mencoba untuk membangunkan Silvi dengan mengelus kepalanya.


Silvi membuka mata dengan lemas, kemudian menutupnya kembali, Air mata Abinya tumpah, begitu juga dengan Umminya.


“Ummi, adek lapar,” Tiba-tiba Ghiffari merengek, membuyarkan kesedihan mereka.


“Ya udah, yok cari makan di kantin, biar Ummi jagain kakak,” ajak Abinya Silvi mengelap air matanya sambil mencoba menggendong Ghifari, tapi Ghiffari menolak, dia memilih untuk jalan kaki.


“Ummi mau nasi putih atau nasi goreng mi?” Abinya Silvi bertanya pada istrinya.


“Apa aja boleh bi.”


Ghiffari dan Abinya Silvi ke kantin rumah sakit, Ghiffari langsung mengambil beberapa jajanan yang ada di kantin.


“Adek mau makan nasi di sini atau makan sama Ummi disana?” Abinya Silvi bertanya pada Ghiffari.


“Makan sama Ummi bi,”

__ADS_1


“Mbak, bungkus nasi goreng 3 bungkus ya, lauknya yang satu telur mata sapi, 2 nya telur dadar,” kata Abinya Silvi penjualnya.


“iya pak," jawab penjual itu.


"tunggu sebentar adek ya, biar mbak siapin dulu nasinya,” lanjut mbak penjual sambil tersenyum pada Ghiffari.


“Ini pak nasinya, yang telur mata sapi saya kasih robek bungkusannya sedikit, untuk ngebedain,” kata penjualnya sambil menyerahkan 3 nasi bungkus.


“ini uang nya, nasi 3 bungkus, air mineral 3 botol, jajanan 3 macam,” Abinya Silvi menyerahkan selembar uang ratusan.


“Ini pak kembaliannya,” penjual itu menyerahkan 4 lembar uang sepuluh ribu, dan satu lembar uang 2 ribu.


Abi dan Ghiffari kembali ke ruang rawatnya Silvi, Istrinya masih terus mengelus rambutnya Silvi dengan air mata menetes.


“Kita makan dulu mi,” Abinya Silvi menghampiri Istrinya dengan mengelus pundaknya, agar Istrinya lebih tenang dan bisa bersabar.


Mereka makan bersama di samping tempat tidur Silvi.


“Mi, apa kita pulang mandi ganti baju dulu mi?” Abinya bertanya setelah selesai makan.


“Silvi nanti siapa yang jagain bi?” Umminya Silvi bertanya kembali sambil melipatkan bungkusan bekas nasi yang mereka makan ke dalam plastik.


“Kita suruh perawat untuk sering mengecek selama kita pulang,”


“Boleh juga bi.”


Abinya Silvi keluar ruangan dan mencari perawat.


“Sus, bisa titip pasien di ruang 125 sebentar, kami pulang sebentar ambil keperluan,” Abinya Silvi berkata pada Suster yang sedang duduk di meja administrasi.


“Iya sus, ada apa?” tanya Suster lela pada Suster April.


“Itu ada keluarga pasien nitipin pasien, mereka mau pulang sebentar,” Kata suster April pada temannya.


“oke siap pak, Saya bertugas mengontrol pasien hari ini.” Jawab Suster lela dengan beranjak bangun dari tempat duduknya.


Mereka berjalan beriringan menuju ruang rawat Silvi.


“Mi, sudah ada Suster yang bisa jagain Silvi sebentar. Kita pulang sekarang ya, biar gak telat pulang ambulansnya,” Ajak Abinya Silvi.


“iya bi," jawab Umminya Silvi.


"Sus titip sebentar anak kami Suster ya, gak lama suster, kami Cuma mau mandi dulu.” Umminya Silvi berkata pada suster.


“Iya buk, udah kewajiban kami mengontrol pasien.” Jawabnya.


Mereka langsung menuju mobil ambulans yang tadi mereka tumpangi.


Dokter dan mas Anto sudah ada disana menunggu sambil berbincang dengan Dokter yang lain.


“Yok mas,” Ajak Abinya Silvi.

__ADS_1


Mereka melaju mobilnya dengan kecepatan standar.


Sesampainya di puskesmas kecamatan, Abinya Silvi berterima kasih pada mereka dan langsung pamit pulang dengan mobilnya.


Sesampainya di rumah, mereka langsung mandi dan menyiapkan peralatan penting selama menjaga Silvi di rumah sakit, seperti mukena, jilbab Silvi, tikar lipat dan bantal kecil untuk alas kepala Ghiffari untuk tidur siang.


Setelah selesai, Mereka langsung kembali lagi ke rumah sakit untuk menjaga Silvi.


... ...


Di sekolah.


Bel masuk telah berbunyi, Absensi kelas mulai dipanggil satu persatu.


“Khaleed yasser asy-syam,” wali kelas memanggil nama Yasser.



“Tidak hadir bu,” jawab mereka bersama.


“Ada yang tau kenapa dia gak sekolah? Tanya wali kelasnya.


“Tidak bu.” Jawab mereka lagi.


“Ada surat izin atau surat Sakit?”


Mereka saling berpandangan satu sama lain, mencari mungkin ada yang di titipin surat izin oleh Yasser, tidak ada juga.


Dan dengan berat hati Bu Rosma wali kelas mereka memberikan alpa.


Kemudian melanjutkan memanggil nama siswa-siswinya.


“Silvia labiqa Raisya,” Bu Rosma memanggil nama Silvi.


“Tidak hadir bu,”


“Ada surat?”


Mereka kembali menggeleng.


“Mereka ini apa kompakan libur sekolah sampe gak ada kabar begini?, kalian kalau harus libur kasih kabar ke sekolah, kalau gak ada kabar ibuk kasih Alpa, dan perjanjian kita di awal, kalau alpa harus dihukum bersihin wc, masih ingat kan kalian?” Bu Rosma bertanya pada mereka.


“Masih bu,” Jawab mereka semua.


“Nah, ini jangan salahin ibu kalau besoknya ibu hukum mereka, kecuali kalau ada alasan tertentu yang bisa dibuktikan,” Kata bu Rosma kembali.


Ke esokan harinya.


Yasser sekolah seperti biasanya. Absensi kelas pun kembali dipanggil satu persatu, tibalah giliran Yasser.


“Khaleed yasser asy-syam.”

__ADS_1


“Hadir bu.” Jawab Yasser.


“Kemarin kemana kamu gak ada kabar?” bu Rosma bertanya pada Yasser.


__ADS_2