
Seminggu kemudian.
Silvi sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Dia sudah bisa sekolah lagi, melanjutkan hari-hari yang penuh dengan belajar dan canda tawa.
3 bulan lagi mereka akan mengikuti UN, mereka lebih memfokuskan diri belajar sungguh-sungguh. Jadwal les di tambah. Buku-buku referensi UN tahun lalu pun dibeli untuk di jadikan acuan pembelajaran.
Masa deg-degan itu semakin dekat.
Mereka sudah berusaha untuk belajar buku-buku penerbit terbaik. Tapi lulus atau tidaknya, mereka menyerahkan semuanya pada Allah, itulah yang selalu di ingatkan oleh wali kelasnya.
Mereka belajar tidak hanya fokus dalam ruangan kelas, mereka sering belajar di bawah pohon rame-rame, di kursi kantin ketika kantin udah tutup.
Mereka berusaha menghilangkan kejenuhan mereka karena belajar terus menerus.
Sore hari.
saat mereka lagi les, belajar di bawah pohon, beralaskan kardus, bahkan banyak yang memilih langsung duduk di atas rumput.
“Bosan,” Yasser berkata sambil merebahkan badannya ke atas rumput. Padahal mereka lagi mengerjakan soal latihan kertas UN tahun yang lalu.
“Bangun Yasser,” bu Maya guru IPA menegur Yasser.
“Ngantuk bu,” Yasser pura-pura nguap dan memejamkan matanya.
“Bangun Yasser, kalau gak ibuk siram nanti kamu,”
Yasser masih juga rebahan, dia tau, di sisi bu maya gak ada air, kalau mau ambil di wc juga agak lama kembalinya.
“Aaw !!” Yasser berteriak dengan keras dan berdiri secepat kilat, karena merasakan sesuatu jatuh ke tangannya licin, panjang dan lentur.
Semua teman-temannya menertawakan Yasser, dilihatnya benda itu, ternyata hanya kabel bekas yang tidak terlalu panjang, dia berpikir pasti temannya ini yang isengin dia, dia bersikap bodoh amat, dan membalikkan badannya mencoba untuk tidur lagi.
“Hah !” Yasser kaget dan termundur kebelakang.
“Ibu, ibu ngapain di sini?” tanya Yasser pada bu Maya yang berdiri tepat di depan Yasser.
“Disuruh belajar malah tidur,” Bu Maya menjewer telinga Yasser.
“Adu-du iya-iya, Yasser belajar sekarang bu.” rintih Yasser kesakitan.
__ADS_1
Bu Maya melepaskan jewerannya, dan kembali menjelaskan pelajaran.
Yasser mengikuti dengan rasa malas, diambilnya kabel yang tadi mengenainya. Dikupasnya kabel itu dengan silet lipat miliknya, sampai kabel itu terbuka semua dan menampakkan kawat-kawat tembaga.
Dia asik dengan kawat-kawat itu, bu Maya membiarkan dia melakukan apa yang dia mau, asalkan tidak tidur di depan teman-temannya yang lain.
Satu jam berlalu, mereka waktunya pulang les. Bu maya udah pamit duluan masuk ke kantor sekolah. Murid yang lain memasukkan buku mereka ke dalam tas.
Yasser mendekati Silvi yang sedang membereskan kertas-kertas soal UN lama.
“Silvi,“ Yasser memanggil Silvi.
“Hem, apa?”
“Kasih tangan qe,”
“Untuk apa?”
“Udah kasih aja,”
“Jangan aneh-aneh qe,”
“Enggak,”
“Ya udah biarin aja, gak ada kaitan sama kejadian tadi, cuma mau kasih sesuatu, Bukan mau nakutin hai, Serius mau kasih sesuatu,” Yasser mencoba meyakinkan Silvi.
Akhirnya Silvi mengulurkan tangannya dengan pelan-pelan, dia takut nanti di kasih ulat seperti kebiasaan kawan lain yang ngasih aneh-aneh ke telapak tangan kawan mereka.
Yasser memasangkan sesuatu ke pergelangan tangan Silvi tanpa menyentuh Silvi, gelang dari kabel listrik yang udah di putar dan dililitkan olehnya, dan menghasilkan karya yang lumayan bagus.
“Gimana, baguskan?”
Silvi tidak menjawab, hanya membolak-balik kan lengannya melihat gelang yang di pasang oleh Yasser.
“Ba ...”
Baru hendak membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Yasser, Yasser langsung memotong pembicaraan Silvi.
__ADS_1
“Lumayan bagus lah kalau yang pakainya cewek-cewek kayak qe, cewek ... ... miring.” Yasser berkata seolah tanpa beban.
“Apa qe bilang, aku cewek miring,” “plak plak plak,” Silvi memukul Yasser dengan bukunya entah berapa kali, dan menarik keras gelang yang di pakai Yasser di pergelangan tangannya, tapi nihil, gelang itu udah di lilit kuat ujung ke dua nya. Akhirnya gelang itu amburadul bentuknya di pergelangan Silvi.
Silvi membiarkan gelang kabel itu masih melingkar di tangannya, dia keluar sekolah dengan jengkel, dan meninggalkan Yasser yang masih tertawa walaupun di pukul oleh Silvi dengan buku.
Silvi pulang naik becak, sedangkan Yasser pulang dengan sepedanya.
(“Resek banget si Yasser, kirain ngasihnya spesial gitu, ga tau nya malah resek,”) Silvi mengomel dalam hatinya. (“Padahal baru mau bilang bagus, untung gak jadi bilang bagus, kalau jadi bilang makin diejek aku.”) Silvi mendengus kesal.
Dipandang nya kabel lilitan itu di tangannya yang dia tutup dari tadi keluar dari sekolah, dia mencoba membuka kembali, tapi masih susah, dia kembali membiarkankan kabel tembaga itu melingkar ditangannya.
Sesampai dirumah, dia mencoba membuka lagi, dia mencari ujungnya dengan teliti, akhirnya dia menemukannya. Dia membuka gelang kabel itu yang udah penyok-penyok tak beraturan. Dia tinggalkan di atas mejanya dan pergi keluar melakukan aktivitas lain.
... ...
Yasser terus mendayung sepedanya.
dari semasa sekolah SD, dia udah 3 kali ganti sepeda, tapi selalu memilih warna biru. Hanya modelnya saja yang berbeda.
Yasser mendayung dengan serius, (“Apa aku bercandanya kelewatan ya sama Silvi tadi?”) Yasser bertanya pada dirinya sendiri. Dia merasa menyesal berkata miring untuk Silvi. (“Mau minta maaf gengsi, bukan gengsi sih, tapi lebih tepatnya aku gak punya nyali,”) lanjutnya lagi dalam hati.
Yasser melihat kabel bekas di jalan pulangnya.
Dia berhenti, mengambilnya dan memasukkan kedalam saku celananya.
Sesampai dirumah, dibuka nya kabel itu, diambilnya kawat tembaga itu, kemudian melilitkannya berbentuk cincin. Dia memfoto cincin itu, mengupload ke fbnya dengan hastag “Warna yang indah.”
Banyak teman-temannya yang berkomentar sekedar candaan mereka di sosmed.
“Ada yang sudah berhajat keknya ini,” komentar akun bernama Zamzami.
“Seindah tatapan mata mu.”
Beragam komentar pun muncul di postingan itu, ada yang melanjutkan kalimatnya dengan serius, ada juga yang bercanda sampai hal jorok. Seperti komentar akun ochan, “Seindah warna yang tiap pagi keluar di wc.”
Yasser membalas semuanya dengan santai dan sedikit di bumbui lelucon.
Silvi melihat postingan itu, dia teringat dengan gelang yang dipasang Yassir, dia ke kamar, dan mencoba memperbaiki gelang itu, tapi tak bisa sempurna seperti pertama dilihatnya. Disimpannya gelang itu dalam laci mejanya.
__ADS_1
Dia tidak ikut berkomentar di postingan Yasser, bahkan untuk sekedar mengasih jempol pun dia enggan. Karna masih jengkel.
Yasser merasa keningnya sakit, dia bercermin, ada warna biru disana, mungkin akibat pukulan Silvi tadi sore. Dia mengompresnya dengan air hangat, sudah terasa lebih baik dari tadi, warna birunya juga sudah agak berkurang.