Surat Izin Berjodoh

Surat Izin Berjodoh
Bab 38 : Cita-cita Silvi


__ADS_3

1 jam berlalu.


(“Ni anak kemana ya, baru pun ditabur es, eh malah ngilang tanpa pamit,”) Silvi bertanya-tanya dalam hatinya.


Dia mengabaikan ponselnya setelah menghapus semua chatnya dengan Yasser. Dia memilih untuk istirahat, karna sebentar lagi akan pergi les.


Tok tok tok ...


Tante Nani mengetok pintu kamarnya Silvi.


“Kak bangun, siap-siap pergi les.” Panggil Tante Nani dari luar kamar Silvi.


Belum juga ada jawaban dari dalam, Tante Nani membuka kamar Silvi yang tidak di kunci dan membangunkan Silvi.


“Kak bangun, udah mau sore lho, kakak ada les gak?” tanya Tante Nani.


“Ada Tante, uuwaa hmm,” Silvi yang masih mengantuk menjawab dengan malas.


“Udah jangan malas-malas, kan mau jadi dokter,” ucap Tantenya lagi.


“Hah, dokter?, iya iya, Silvi mau mandi sekarang,” Silvi menjawab dengan semangat.


Tantenya tersenyum karna berhasil membangkitkan Silvi dari malasnya Silvi dengan cepat.


Setelah mandi Silvi membuka ponselnya, dia membuka wa nya Yasser, belum juga ada balasan dari Yasser.


“Tante antar aja kak ya, sekalian Tante mau ke salon,” ucap Tante Nani pada Silvi yang sudah berpakaian rapi keluar dari kamar.


“Boleh, man nanti pulang sama siapa?” tanya Silvi.


“Bareng Tante juga, 2 jam kan Kakak les?, nanti Tante jemput,” jawab Tantenya.

__ADS_1


“Siap,” kata Silvi sambil tersenyum pada Tantenya.


Mereka masuk ke mobil dan menuju tempat lesnya Silvi, kemudian Tante Nani lanjut ke salon langganan nya.


Malamnya ...


“Lagi apa?” Silvi mengirim pesan untuk Yasser.


“Ini Silvi?” balas Yasser.


(“What?, kenapa sih dia, ya iyalah ini aku, emang siapa lagi!”) Silvi kesal dengan balasan Yasser.


“Ya iyalah, emang siapa lagi?”


“Takutnya Tante kamu nanti yang ngirim pesan,”


“Kenapa jadi tante?”


(“Ya salam ... ini lah hasil kalau kita berbohong,”) Silvi menyesali perbuatannya.


“Ooh udah gak,” balas Silvi.


“Maaf ya, kalau udah buat malu, mulai sekarang panggilnya Silvi lagi, biar gak jadi masalah,” balas Yasser.


(“Heum padahal udah senang di panggil sayang, tapi ya udah lah, gak boleh fokus pacaran dulu, fokus belajar dulu,”) Silvi mecoba untuk kembali fokus, meski agak-agak susah.


“Iya boleh, gak boleh juga terlalu berlebihan, takut gak berjodoh,” balas Silvi.


“Semoga berjodoh,”


“Amiinn ...”

__ADS_1


Ke esokan harinya, di sekolah Yasser, pengumuman pemilihan ikut olimpiade pun di umumkan satu persatu, lagi-lagi Yasser zonk.


“Aku gak terpilih😔,” Yasser mengirim pesan untuk Silvi.


Silvi harus mencerna lama maksud Yasser tanpa ingin bertanya padanya. Setelah berpikir lama, (“Oo mungkin maksud dia, dia gak terpilih untuk ikut olimpiade, pasti itu,”) Silvi menebak.


“Ga papa, berarti harus terus belajar, biar tahun depan bisa ikut💪,” balas Silvi.


“Iya makasih, udah semangatin,”


“Sama-sama, senyum dulu,”


“😃,”


“Disuruh senyum malah ketawa,”


“Man gak boleh ketawa?”


“Oo boleh, boleh banget malah,”


“😊😁,”


“Selamat tidur,”


“Selamat tidur juga,”


... ...


Tibalah hari Silvi mengikuti olimpiade. Dia mengikuti nya dengan lancar. Pengumuman hasilnya akan keluar 15 hari kemudian.


Setelah 15 hari.

__ADS_1


Kepala sekolah membacakan satu persatu juara yang mereka dapatkan dari olimpiade, ada yang juara 10, ada juga yang juara 1. Ada juga yang mendapatkan juara 15 satu orang, Tibalah giliran nama Silvi yang di umumkan.


__ADS_2