Surat Izin Berjodoh

Surat Izin Berjodoh
Bab 42 : Mona


__ADS_3

“Lha emang iya, dulu pernah kan Kak Tristan kasih minum untuk kamu pas di kantin, kamu keselek sama kuah bakso yang pedas, Kak Tristan langsung datang bagaikan pahlawan tanpa kesiangan membawakan minuman untuk putri raja,” lanjut Mona lagi.


“Iya juga ya, aku gak kepikiran,” jawab Silvi.


“Emang kenapa sih kamu nolak Kak Tristan?” tanya Mona lagi.


“Kan udah aku bilang, aku malas pacaran, mau fokus dulu, biar dapat undangan ke universitas terbaik,” jawab Silvi mencoba menutupi yang sebenarnya, dia tidak mau ada seorang pun yang tau kalau hati dia udah jadi milik orang lain. Biar lah orang melihat dia menolak Kak Tristan karna masih enggan pacaran, bukan karna ada cowok lain, demi hati Kak Tristan.


“Ya udah, nanti jangan nangis kalau di embat sama orang lain,” Mona mencandai Silvi.


Silvi tersenyum, dan berkata,


“Emang siapa yang mau embat, kamu ya?” goda Silvi.


“Gak ah aku, nanti bertepuk sebelah tangan juga,” jawab Mona sambil manyun.


“Aku bilang aja sama Kak Tristan perasaan kamu, biar nanti Kak Tristan bisa membuka hatinya untuk kamu,” Silvi menggodanya lagi.


“Udah tau dia, tiap kali dia konser di lapangan sekolah, aku selalu teriak I LOVE YOU Kak Tristan langsung di depan mukanya, dia Cuma jawab terima kasih,” Mona berkata sambil memonyong-monyongkan bibirnya.


Silvi tertawa lepas melihat tingkah temannya.


“Oa, aku keknya punya cara nolak Kak Tristan yang buat dia gak patah hati,” Mona berkata dengan serius.

__ADS_1


“Serius kamu, gimana caranya?” tanya Silvi penasaran.


“Sini aku bisikin, takut nanti ada mata-mata yang dengar,” jawab Mona.


Mona membisiki sesuatu ke telinga Silvi, Silvi mengangguk setuju dengan senyum sumringahnya.


“Makasih Kak Mona kutu buku,” Silvi mencolek hidung temannya itu.


“Sama-sama, semoga berhasil,” jawab Mona.


... ...


“Silvi pulang sama siapa?, mau aku antar?” Kak Tristan datang kembali menemui mereka.


“Ya udah kalau gitu kakak pulang duluan ya,” ucap Kak Tristan.


“Iya kak, hati-hati,” Silvi mencoba memberi perhatian kecil untuk menyenangkan hati Kak Tristan.


“Iya,” Mereka saling melempar senyum dan Kak Tristan berlalu menuju ke arah parkir mobilnya.


... ...


“Tante,” Silvi membuka pembicaraan dengan tantenya.

__ADS_1


“Iya kak, kenapa?” tanya Tante Nani mendekati Silvi yang terlihat seperti kebingungan.


“Ada cowok yang nembak Silvi, tapi Silvi gak ingin pacaran dulu, Silvi berniat nolak dia secara baik-baik, Silvi mau bilang gini, Silvi gak nolak dia, dan gak nerima dia, karna fokus Silvi sekarang Cuma belajar, kalau memang nanti berjodoh, mungkin dia bisa datang lagi kalau Silvi udah tamat kuliah. Kira-kira salah gak ya Tante Silvi bilang kek gitu?” tanya Silvi pada Tantenya.


“Insyaallah gak, udah benar kok.” Jawab Tantenya Silvi.


Ke esokan harinya.


“Kak, bisa kita ketemuan sebentar?” Silvi mengirim pesan untuk Kak Tristan, dia memang sudah lama mengsave nomor Kak Tristan, karna Kak Tristan pernah menelpon dia bertanya kesiapan kelompok Silvi dalam menyiapkan pertunjukan di acara sekolah mereka.


“Boleh, dimana?” Kak Tristan membalas pesan Silvi.


“Di cafe dekat taman aja,” jawab Silvi.


“Jam berapa?” balas Kak Tristan lagi.


“Jam 3 sore aja Kak,” balas Silvi.


“Oa, datangnya sendirian aja Kak ya,” lanjutnya lagi.


“Oke😊,” balas Kak Tristan.


... ...

__ADS_1


__ADS_2