
“ Ini kak, ini nama kakak, di kertas ini, Silvia Labiqa Raisya, nomor formulir 107, coba liat berapa nomor formulir kakak?” Umminya berkata sambil menunjukkan nama Silvia Raisha di kertas tempelan ke 3 dengan perasaan bahagia.
“Iya mi, nomor 107.” Silvi loncat-loncat kecil kegirangan.
“Alhamdulillah.” Ummi dan Silvi mengucap syukur atas kebahagiaan yang mereka rasakan.
“Ya udah kak, kita langsung ke toko ya,” Umminya Silvi mengajak Silvi untuk meninggalkan sekolah dan menuju toko untuk beli seragam.
Jam 12 siang.
“Ma, abang ke sekolah dulu ya, nanti kalau ayah pulang dari kebun bilang Sem kesekolah ma ya,” Yasser pamitan sama mamanya sambil mencium tangan mamanya.
“Iya bang, hati-hati di jalan.” Mamanya berpesan.
Yasser mendayung sepadanya ke arah jalan sekolah, 45 menit Yasser sampai di sekolah, masih ada beberapa guru disana, dia langsung ke mading sekolah.
“khaled khaled.” Dia bergumam sambil terus mencari namanya.
“Yee ketemu, Khaleed Yasser Asy-Syam nomor pendaftaran 62, Alhamdulillah ya Allah aku lewat.” Yasser ber syukur dengan melakukan sujud syukur.
Dia pulang ke rumah dengan perasaan bahagia.
“Ma, Ayah, Abang lewat,” Yasser berteriak memanggil orang tuanya sambil berlari masuk ke rumah.
Mama dan Ayahnya baru siap makan siang.
“Alhamdulillah, berarti sekarang abang harus lebih cepat bangun pagi, dan harus lebih rajin belajar, karna di sekolah sana banyak anak yang pintar.” Mamanya Yasser memberi semangat untuk Yasser.
“Iya, jangan pernah tinggalin sholat, kalau abang gak sempat sholat dirumah, abang sholat di sekolah aja, minta doa slalu sama Allah, agar abang bisa jadi anak sukses dan jadi ahli surga.” Ayahnya Yasser juga ikut memberi nasehat.
“Amiinn.” Yasser dan mamanya mengamini harapan ayahnya Yasser.
Tanggal 19.
Di tempat yang berbeda, Yasser dan Silvi bangun pagi lebih cepat, mereka menyiapkan buku tulis kosong satu dan pulpen, setelah mengecek alat tulis sudah lengkap, mereka mandi, Silvi mandi dengan air hangat yang sudah di siapkan umminya, sedangkan Yasser memilih untuk mandi dengan air biasa, dingin membuat gigi-giginya sem saling beradu satu sama lain, tapi bagi Yasser udah biasa, dan menurutnya dengan dingin itu lah yang membuat badannya terasa segar. Kemudian mereka berwudhu dan siap-siap untuk sholat subuh.
__ADS_1
Silvi sholat jamaah dengan orang tuanya, Ghiffari masih tidur pulas. Sedangkan Yasser hanya sholat dengan Ayah dan Qisti, mamanya sedang tidak bisa sholat. Adiknya yang lain masih tidur.
Mamanya Yasser dan umminya Silvi menyiapkan sarapan untuk keluarganya.
Setelah sarapan, Yasser langsung pamit sama orang tuanya, dia harus berangkat lebih cepat, dia tidak mau hari pertamanya telat.
“Yasser, hari ini ayah antar aja ya, pulang nanti ayah jemput, karna hari pertama,” Ayahnya Yasser meminta pada Yasser.
“Tapi yah ..” Yasser berusaha menolak.
“Udah, Ayah aja yang antar se kali-kali, besok kan masih bisa bawa lagi sepeda kesayangan kamu,” Mamanya Yasser memotong pembicaraan Yasser. Yasser hanya mengangguk dengan keputusan orang tuanya.
Yasser sudah sampai disekolah diantar ayahnya. Silvi datang belakangan tapi masih tepat waktu.
Siswa dan siswi disana sudah banyak yang hadir, karna hari ini hari pertama masuk sekolah.
Bel sekolah berbunyi.
Mereka disuruh kumpul di halaman sekolah. Halaman sekolah sesak dipenuhi dengan siswa -siswi.
“Alhamdulillah, setelah libur kenaikan kelas selama satu bulan, kita akhirnya bisa bertemu lagi disini untuk menimba ilmu, selamat datang untuk murid baru kelas satu, dan selamat atas kenaikan kelas untuk siswa-siswi ibu yang kelas 2 dan kelas 3, kalian adalah contoh untuk adik-adik kalian, tunjukkan kalau kalian bisa jadi contoh yang baik untuk mereka, nama kalian sudah tertempel di pintu lokal masing-masing. Di mading juga ada ditempel, terserah kalian mau mencari di mana yang kalian mau. Untuk kelas satu, lokal kalian ada di lantai satu. Sekian dari ibu, kurang dan lebih ibu mohon maaf, selamat belajar dari ibu, jadilah siswa-siswi yang menjadi teladan baik bagi orang lain, Wassalamu’alaikum wr wb.”
Dengan berakhirnya arahan dari kepala sekolah, mereka membubarkan diri mencari nama mereka.
Silvi memilih mencari namanya di ruang kelas, dia memulai mencari di ruang 3, karna ruang itu yang paling dekat dengan tangga, dia tak mendapati namanya, dia ke ruang 2, tak ada juga, kemudian ke ruang satu.
“Silvia Silvia labiqa Raisya ... yey dapat, aku di ruang 1,” Silvia bersorak, dan masuk ke dalam kelas, memilih tempat duduk paling depan di barisan perempuan, di situ sudah dibuat arahan, untuk perempuan dan untuk laki-laki.
Yasser memilih mencari namanya di mading, dia masih mencari-cari namanya, “khaleed yasser asy syam, ketemu, di ruang 1,” dia bersorak.
Dan mencoba membaca kembali nama-nama teman kelasnya, “Silvia Labiqa Raisya, berarti ...” pencarian Yasser terhenti, dan dia mendadak gugup.
Yasser menapaki tangga menuju lantai satu dan mencari ruang 1, dia melangkah dengan grogi, dan masuk ke kelas.
“Yasser ...” Silvi berkata dengan mengerutkan dahi.
“Eh Silvi, i.. iya, nama ku tertulis di ruang 1.” Yasser berusaha menjelaskan pada Silvi dengan gagap. Silvi terlihat bingung.
__ADS_1
“Eh duduk di situ aja, masih kosong.” Silvi menunjukkan tempat duduk kepada Yasser di barisan kedua di sebelah kirinya yang masih kosong.
Yasser menurut, dan memilih meja yang ditunjukkan silvi.
“Kok kita gak ketemu waktu ikut tes ya?” Silvi bertanya pada Yasser.
“Ga tau, tapi kawan yang 1 SD kita ada juga beberapa orang yang sambung ke sini juga, fadli, syukran, ulfa, aku ada ketemu mereka waktu ikut tes,” sahut Yasser.
“iya, aku ada ketemu juga sama mereka.” jawab Silvi
Hari pertama mereka sekolah hanya menyerahkan uang masuk pendaftaran, kenalan dan mencatat roster pelajaran.
Yasser dan Silvi sekolah seperti biasanya, Silvi menjadi langganan juara umum, dia aktif di semua ekstrakulikuler.
Sedangkan Yasser, hanya masuk juara 10 besar di lokal. Dia lebih aktif di bagian olahraga.
... ...
Mereka sudah berada di kelas 3, kegiatan belajar mereka semakin padat. Mereka harus ikut les tambahan untuk persiapan mengikuti UN.
Yasser dan Silvi menjadi teman dekat. Mereka sering mengerjakan tugas bersama, dan makan rame-rame dengan kawan lain di satu meja kantin
“Silvi, nanti pulang sekolah sama-sama bisa?” Yasser bertanya pada Silvi yang sedang makan di kantin.
“Pulang sama-sama?, aku naik bis, kalau mau ikut boleh, emang qe gak bawa sepeda?” Silvi balik nanya.
“Bawa, aku bawa sepeda Qistie tadi, karna sepeda aku bocor, malu aku dayung sepeda cewek,”
“Jadi?”
“Qe yang bonceng aku nanti,” Yasser menjawab dengan tertawa.
“Anak gila ko.” Silvi, Yasser dan teman-teman yang lain tertawa bersama.
“tapi mau ya, kaloe qe gak mau dayung, aku juga boleh, asal nanti kalau orang liat gak mikir sepeda aku,” Yasser berkata sambil tertawa.
“iya iya.” Silvi mengiyakan permintaan Yasser.
__ADS_1