
“Hati-hati, kata Ustad, jangan berdua-duaan, karna yang ke 3 nya adalah syetan.” Farhan memberi peringatan pada mereka.
“Loe farhan gua tabok nanti, Silvinya udah mau loe ngomong yang bukan-bukan,” Yasser meninju ringan bahu kawannya itu.
“Ya kan aku sebagai sahabat yang baik, mengingatkan sahabat aku yang hampir masuk kelubang hitam,”Farhan membela diri.
“Jangan sampai masuk ke lubang buaya,” Erni pun menambah, mereka pun tertawa bersama.
“Gak lah, gini-gini aku gak pernah absen pengajian, tau mana dosa dan gak, lagian, mana tertarik aku sama Silvi, si hitam kecut,” Yasser juga membela diri.
“Eh ... si Monyet gak sadar diri kalau ngomong, yang mau sama loe siapa juga,” Silvi menimpali dengan mengejek.
Yasser tertawa menutup muka dengan 2 tangannya, “Yang pokoknya nanti qe harus bantuin aku,” Yasser berkata sambil melanjutkan makan mienya.
Jam pelajaran sekolah pun berakhir, mereka membubarkan aktivitas belajar dan keluar ruangan menuju gerbang untuk pulang.
“Silvi jadi ya,” Yasser menepuk pundaknya Silvi sambil berlari ke arah parkiran.
Silvi menunggu Yasser di luar gerbang sama teman-temannya yang juga lagi menunggu bis sekolah datang.
“Yok silvi,” Yasser menghentikan sepedanya di depan Silvi.
Silvi duduk dibelakang di bonceng Yasser.
“Pulang duluan ya,” Mereka berkata pada teman-temannya.
Yasser terus mendayung sepeda, sedangkan Silvi duduk sambil berpegangan pada tempat duduk.
Kalau naik bukit kecil, mereka turun dan mendorong sepedanya. Dan naik kembali ketika sepeda akan menuruni bukit.
Yasser terus mendayung sepedanya, tidak banyak kata yang mereka obrolkan di perjalanan. Tiba-tiba Yasser belok ke gang yang belum pernah di lewatin Silvi.
“Eh, kita pulang lewat mana? Aku gatau jalan ini,” Silvi bertanya dengan perasaaan yang sedikit takut.
“Udah, duduk aja, ini tu jalan pintas, aku sering lewat sini,” Yasser menjawab.
__ADS_1
“Ooo ...”Silvi tidak lagi banyak bertanya, dan terlihat rileks lagi, karna di sana banyak rumah penduduk juga.
Yasser terus mendayung sepedanya, dan Yasser melewati hutan yang tidak ada penduduknya, Silvi terlihat santai menikmati pemandangan rawa-rawa yang di penuhi bunga eceng gondong di depannya, makin lama rawa-rawa itu makin tidak enak dilihat.
Dari rawa-rawa yang penuh bunga berganti dengan hutan lebat, jalan yang mereka lalui menjadi lebih sejuk tapi menyeramkan, pohon yang tinggi dengan semak-semak yang merambat hampir menutupi badan jalan. Silvi mulai ketakutan, tapi dia menampakkan sikap yang biasa aja pada Yasser.
“Yasser, aku video call sama Lidya ya?” Silvi meminta pada Yasser, Silvi hanya takut teringat kata-kata temannya disekolah tadi, jangan berdua-duaan, karna yang ketiganya adalah syetan. Dia takut jika Yasser ternyata hanya ingin berbuat jahat padanya.
“Untuk apa sih? Gak usah lah,” Yasser menjawab, dia takut teman-temannya tau kalau dia ajak Silvi pulang lewat hutan.
Tapi Silvi tidak menggubris larangannya Yasser, dia tetap menelfon video Lidya, teman sebangkunya.
(“Setidaknya jika aku kenapa-kenapa, Lidya tau dimana aku dan sedang bersama siapa aku,”) hanya itu yang ada dalam benak Silvi, Silvi takut jika Yasser hanya ingin mencelakai Silvi, karna bagaimana pun mereka pernah tak akur waktu SD.
Lidya tidak menjawab telfon Silvi, Silvi makin cemas, keringat dingin mulai menetes dari darinya, karna jalan yang mereka lalui tidak ada orang lewat, hanya jalan setapak.
Tiba-tiba Yasser menghentikan sepedanya, Silvi rasanya ingin menangis karna ketakutan, dia menyesali keputusannya mau di ajak pulang bersama Yasser.
Yasser menghentikan kayuhan sepedanya di tengah jalan yang dikelilingi hutan besar, dia turun dari sepeda, dan menghadap Silvi. Yasser dengan perlahan mendekati wajahnya pada Silvi, Silvi memundurkan kepalanya ke belakang mengikuti gerakan Yasser.
“Lepasin sir, qe kenapa jahat sama aku? Aku pikir qe udah berubah, udah baik gak jahat kek dulu lagi, aku mohon, lepasin aku sir,” Silvi berkata dengan air mata mulai tumpah.
Yasser terlihat bingung. Tapi belum melepaskan cengkramannya pada lengan Silvi.
“Apanya Silvi? Kenapa nangis? Kenapa qe dorong aku?” Yasser bertanya bingung. Dan mencoba melepaskan cengkramannya dengan perlahan.
“Hei hitam kecut, di depan ada sungai, ada jembatan, tapi jembatan kecil, aku turun dari sepeda mau dorong sepeda, gak bisa kita boncengan, emang qe mau kita jatuh?” Yasser menjelaskan pada Silvi yang sedang berusaha memalingkan wajahnya sambil menghapus air matanya.
“Man tadi qe dekat-dekat mau ngapain?" Silvi bertanya lagi.
“Mau ngapain, mau usir ulat tadi di baju qe, mau ngapain lagi, emang qe pikir aku mau macem-macem sama qe?, Su’uzon aja sama orang.” Yasser menower dahi Silvi dengan telunjuknya sambil nunjuin ulat yang udah di pijak silvi mungkin waktu meronta-ronta tadi.
“Lagian, ngapain qe ajak aku pulang lewat hutan gini, kan aku takut,” Silvi menjelaskan.
__ADS_1
“Ya udah, yok pulang terus, hampir sampai ini,” ajak Yasser tanpa mempedulikan ocehannya Silvi.
“Gimana caranya, aku takut gak bisa nyebrang gak ada pegangan itu,” Silvi berkata sambil melihat jembatan yang hanya ada 3 pohon kelapa sebagai jembatan penyebrangnya, memang itu hanya sungai kering, tidak ada air di bawahnya.
“Ya udah aku di depan, qe dibelakang, pegangan di tas aku ya,” Yasser memberikan instruksi.
“Sepedanya?” Silvi bertanya lagi.
“Aku bawa lewat qe aja dulu, udah tu balek ambil sepeda,” jawab Yasser.
“Iya ya udah, mulai jalan terus, ngeri kali lama-lama di sini,” Silvi menyuruh Yasser untuk jalan.
Yasser berjalan di depan Silvi dengan santai, sedangkan Silvi berjalan dibelakangnya Yasser dengan berpegangan pada tas belakangnya Yasser.
Mereka berdua sampai di seberang, Yasser kembali untuk mengambil sepedanya, dan mendorong hati-hati di atas jembatan. Sedangkan Silvi menunggu Yasser di seberang.
Mereka melanjutkan boncengan sepeda.
“Aku sering pulang lewat sini, kalau pagi jarang lewat sini, karna pernah ketemu sama ****, untung ada bapak-bapak yang lewat pergi ke sawah, jadi berangkat sama bapak itu, kalau gak ada bapak itu gak jadi ke sekolah aku hari itu,” Yasser bercerita dengan tertawa pada Silvi.
“Kata bapak itu, kalau pagi emang lagi banyak **** lewat cari makan, tapi kalau siang jarang ada **** katanya, makanya aku berani pulang lewat sini, dekat juga kalau lewat sini, itu udah perbatasan kampung kita.” Yasser menunjukkan tembok yang di cat merah putih dengan tulisan “Selamat datang di desa MAGENANG”
Silvi hanya diam dan memperhatikan keadaan sekelilingnya, dia belum pernah lewat jalan ini, karna jalan ini tidak bisa dilalui mobil. Motor masih bisa lewat, tapi harus hati-hati menyebrang di jembatan.
“Kita jadi orang gak boleh cepat su’uzon, kata ustadz, yang berpakaian preman, belum tentu hati dan kelakuannya juga preman,” Yasser menyindir Silvi dengan tertawa cekikikan.
Tangan Silvi yang tadinya pegangan di tempat duduk berpindah ke bahu kirinya Yasser dengan mencubit keras bahunya Yasser.
Yasser tertawa cekikikan lagi, “Eh bukan mahrom, haram pegang-pegang,” Yasser mengingatkan Silvi biar melepaskan cubitannya.
Silvi langsung melepaskan cubitannya dan kembali berpegangan di tempat duduk.
“Haram pegang-pengang, tadi qe ngapain man pegang aku?” Silvi bertanya dengan nada kesal.
“Kapan? Tadi itu qe duluan dorong aku, aku hampir jatuh, makanya pegangan sama qe, qe pun aneh-aneh aja, nangis-nangis gak jelas,” Yassee kembali mengejek Silvi dengan tertawa.
__ADS_1
“Phukk,” Silvi yang masih kesal mengetok kepala Yasser dengan tas samping miliknya.
Yasser kambali tertawa sambil mengelus kepalanya.