Surat Izin Berjodoh

Surat Izin Berjodoh
Bab 8 : Silvi Sakit


__ADS_3

“Tadi man waktu aku bilang mau telfon lidya kenapa gak boleh?” Silvi bertanya lagi.


“Ya malas aja, nanti dia pikir kita mau ngapain ke hutan, takot su’uzon juga macem qe tadi,” Yasser menjawab dengan santai.


Silvi kembali mencubit bahu Yasser dengan lebih keras sebagai pelampiasan rasa malunya. Muka Silvi memerah menahan rasa malu di belakang Yasser.


“Silvi, kaloe dari sini kan duluan jumpa rumah aku, qe ku antar sampe kerumah terus ya,” Yasser bertanya pada Silvi.


“Gak usah, aku dah biasa pulang jalan kaki dari jalan gang,” Silvi mencoba menolak tawaran Yasser, padahal sebenarnya Silvi sangat kelelahan dengan kejadian tadi, perasaan takutnya menguras banyak tenaga.


“Itu beda arah blo’on, itu arah dari kiri rumah qe, ini arah dari kanan rumah qe, ga papa aku antar aja, kalau ummi qe nanya, bilang aja yang jujur, jangan bohong sama orang tua, dosa,” Yasser menceramahi Silvi, Silvi tak banyak bicara, perutnya sudah sangat lapar, dia memilih diam dengan keputusan Yasser.


Yasser mengantar Silvi sampai depan rumah, tak ada orang di luar rumah Silvi. Yasser pamit pada Silvi, Silvi hanya mengangguk tanpa melihat wajah Yasser, untuk melihat muka Yasser pun Silvi masih belum berani, dia masih sangat malu dengan pikiran negatifnya terhadap Yasser.


... ...


Yasser dan Silvi sekolah seperti biasa, Yasser tak pernah mengungkit kejadian hari itu, begitu juga dengan Silvi. Yasser masih bersikap seperti biasa terhadap Silvi, tapi Silvi banyak salah tingkah kalau lagi bersama Yasser.


“Silvi,” Yasser menghampiri Silvi di mejanya yang sedang menulis.


“Iya Sir, ada apa?” Silvi bertanya pada Yasser.


“Besok aku di suruh izin sama Ayah untuk jaga kebun, Ayah ku ada keperluan sama mama ke kota,” Yasser menjelaskan pada Silvi.


“Trus?” Silvi bertanya lagi.


“Tolong tulis surat izin bentar, aku gak hafal cara tulisnya,”jawab Yasser.


“ Ya gak bisa lah pakek tulisan aku, harus qe sendiri yang tulis,”


“Gak bisa aku.”


“Bodoh.”


“Makanya aku minta bantu sama qe, mau ya,” Yasser kembali meminta bantu pada Silvi dengan wajah memelas.


Lagi-lagi Silvi tidak tega untuk menolak permintaan Yasser.


“Ya udah, aku dikte aja, qe yang tulis sendiri, aku ga mau ambil resiko kena hukuman nanti.”

__ADS_1


“Boleh juga, yang penting di ajarin,” Yasser nyengir pada Silvi, Silvi hanya menggeleng-geleng kepala melihat tingkah Yasser.


Silvi mengeja isi surat yang harus di tulis Yasser sampai selesai, tinggal tanda tangan.


“Trus ini tanda tangan harus tanda tangan ayahku gitu?” tanya Yasser.


“ya iyalah,”


“Bantu palsuin lah bentar, kalau nunggu tanda tangan ayah ku kan harus pulang ke rumah dulu,”


“Emang qe nanti gak pulang kerumah?” tanya Silvi


“pulang,” Yasser menjawab tanpa beban.


“Ya udah nanti sampai dirumah qe suruh tanda tangan sama ayah qe, trus qe antar ini surat ke rumah aku, apa susahnya, kan itu surat untuk besok, bukan untuk sekarang,” Silvi menjelaskan dengan intonasi tinggi.


Yasser tersenyum sambil menggaruk-garuk kepala.


“ooiya lupa aku.”


Silvi mendengus sinis ke arah Yasser sebagai bentuk ejekan, dan pergi ke kantin meninggalkan Yasser yang masih mematung dekat mejanya Silvi.


“Assalamu’alaikum!” Yasser mencoba memberi salam sambil mengetuk pintu rumahnya Silvi.


“Wa’alaikum salam, eh Yasser, ada apa?” Umminya Silvi membuka pintu.


“Ini tante, Yasser mau nitip surat izin sama Silvi sebentar,”


“Silvi udah pergi ngaji, pulangnya nanti siap sholat magreb, kalau mau dititipin sama tante boleh juga,” jawab umminya Silvi.


“Boleh juga tante.”


Yasser menyerahkan surat izinnya pada Umminya Silvi, dan kembali pulang kerumahnya.


“Kak, tadi Yasser datang nitip surat izin, Ummi taruh di atas meja kakak,” Umminya Silvi berkata pada Silvi yang baru pulang dari mesjid.


“Iya mi,” Silvi langsung menuju kamarnya dan membuka surat izin Yasser, dilihatnya sudah ada tanda tangan ayahnya Yasser di sana, Silvi melipat kembali surat itu, dan memasukkannya kedalam tas. Dan memilih buku pelajaran untuk besok. Setelah semuanya selesai, Silvi keluar untuk makan malam dengan keluarganya, kemudian Sholat isya, nonton sebentar langsung tidur.


Ke esokan paginya.

__ADS_1


“Udah abang kasih surat izinnya sama kawan abang?” Ayahnya Yasser bertanya Setelah selesai sholat subuh.


“Udah yah,” jawab Yasser.


“Ya udah, Ayah sama mama ke kota sebentar mau beli mesin cuci untuk mama, abang jaga kebun sebentar, karna biasanya ada kambing nakal melompat pagar, nanti kalau abang liat ada kambing dekat pagar, abang usir aja, karna kalau udah terlanjur loncat dalam kebun udah susah kita keluarin, lari sana, lari sini, rusak tanaman kita,” Ayahnya Yasser menjelaskan pada Yasser.


Yasser mendengar dengan seksama, tanpa membantah, jika tak perlu kali pasti Ayahnya Yasser tak akan meminta Yasser untuk libur sekolah.


Di tempat berbeda.



“Silvi bangun kak, sholat subuh, mandi pergi sekolah,” Umminya Silvi mengetok pintu kamarnya Silvi.


Beberapa ketokan belum juga ada jawabannya, Umminya Silvi mencoba buka pintu kamar Silvi dan masuk ke dalam.


Dilihatnya Silvi masih berbalut Selimut. Umminya mendekat dan menepuk-nepuk badannya Silvi mencoba membangunkan Silvi. Tapi silvi belum bergerak juga. Di sibaknya selimut Silvi oleh ibunya.


“Astaqfirullah!” Umminya kaget melihat Silvi yang menggigil dengan mata yang hanya nampak putihnya saja.


“Abi abi, Silvi demam tinggi bi,” Umminya Silvi memanggil Suaminya, dan Abinya Silvi pun langsung lari ke dalam kamar Silvi.


“Kakak, kakak masih dengar suara Abi?” Abinya Silvi berkata sambil menepuk-napuk pipi Silvi, tapi Silvi tidak merespon.


“Mi kita bawa Silvi ke rumah sakit mi ya, Abi keluarin mobil dulu, ummi jagain Silvi,” Abinya Silvi berkata dengan tergesa-gesa sambil mengambil kunci mobil, dan memanaskan mobil yang sudah di keluarkan dari bagasi, pintu mobil pun di buka lebar.


Umminya Silvi terus membaca Al-fatihah di telinganya Silvi sambil memeluk Silvi. Abinya Silvi masuk kekamar Silvi sambil mengancing bajunya dengan buru-buru.


“Ummi bangunin Ghiffari, biar Ayah gendong Silvi ke dalam mobil, kita ke rumah sakit” Abinya Silvi meraih tubuh Silvi yang terasa sangat panas, sambil terus membaca ayat-ayat Al-qur’an Abinya Silvi membaringkan Silvi di atas kursi mobil, Umminya Silvi pun keluar dengan baju seadanya di badan, tapi masih tetap syar’i, sambil menggendong Ghiffari yang masih mengucek-ngucek matanya karna mengantuk dan langsung mengunci pintu.


“Ummi masuk lewat sana, biar bisa mangku kepalanya kakak,” Abinya Silvi berkata pada Istrinya yang berlari menuju mobil.


Mereka menutup pintu mobil dan melajukan mobil dengan cepat membelah Remang-remang cahaya lampu di jalan.


Mereka sampai di puskesmas kecamatan, Abinya Silvi langsung menggendong Silvi masuk ruang UGD.


Perawat dan Dokter yang bertugas langsung menangani Silvi, Dokter langsung memeriksa keadaan Silvi.


“Maaf pak, anak bapak harus kita rujuk ke rumah sakit di kota, sebentar biar kami buat surat rujukan dulu,” Dokter tersebut berkata sambil berlalu dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2