
Setelah siap Sholat subuh, Yasser mengaktifkan kembali ponselnya, dan mengecek sosmed miliknya.
Grett ...
Ponsel Yasser bergetar.
Yasser membukanya, ada pesan wa yang masuk.
(“pesan ini telah dihapus,”) pesan wa dari Silvi.
(“Kenapa dihapus ya?, emang dia kirim pesan apa?”) Yasser bertanya-tanya dalam hati, penasaran.
Karna penasaran dengan isi pesan itu, akhirnya Yasser men download aplikasi pembaca pesan yang dihapus, dia mengcopy link wa nya, dan membukanya di aplikasi itu, walaupun itu beresiko datanya tidak aman, Yasser tetap nekat menggunakannya.
“Kening kamu gimana, baik-baik aja?” Yasser membaca pesan yang dihapus oleh Silvi.
Yasser tersenyum, dia meletakkan kembali ponselnya, dan pergi membantu Mamanya sebelum berangkat sekolah.
“Apa yang bisa Yasser bantu ma?”
“Tolong bawa piring kotor ini ke sumur, udah itu kamu sapu lantai ruang tamu sampai depan bentar, takut ada yang datang nganterin cucian, rumah masih kotor.” jawab Mamanya.
Yasser nurut dan melakukan yang disuruh Mamanya.
Sekarang Mamanya Yasser sudah membuka usaha Laundry, Ayahnya Yasser juga masih berkebun, kesibukan mereka bertambah, ekonomi mereka pun sekarang menjadi lebih sejahtera.
Setelah selesai membantu ibu, Yasser siap-siap berangkat sekolah.
“Ma Pa, Yasser pamit dulu ya,” Yasser berpamitan pada orang tuanya.
“Iya hati-hati di jalan,” Jawab keduanya.
“Assalamu’alaikum.” Yasser memberi salam sambil mencium tangan mereka.
“Wa’alaikum salam.”
Sebelum keluar dari rumah Yasir berdoa, (“Ya Allah fokuskan Yasser untuk bisa konsentrasi belajar, karna beberapa minggu lagi akan UN, Amiin,”) Yasser mengaminkan doanya dalam hati dan berangkat ke sekolah.
Di sekolah.
Silvi dan Lukman menjadi topik pembicaraan di kelas dan di sekolah. Mereka kasak kusuk bertanya “Apa mereka pacaran?”.
__ADS_1
Silvi dan Lukman menjadi canggung. Yasser tidak terlalu memikirkannya, dia berusaha fokus pada ujiannya.
“Sepertinya ibu dengar ada yang berbeda di kelas ini,” bu Rosma angkat bicara melihat ketegangan antara Silvi dan Lukman.
Mereka berdua menundukkan kepala.
“Anak-anak ibu, jangan fokus masalah lain dulu ya, kalian harus melepaskan masalah lain dari pikiran kalian, kalian harus benar-benar fokus, harus sangat fokus anak-anakku, karna 2 minggu lagi kalian akan mengikuti UN, persiapkan diri kalian untuk mengikuti UN dengan maksimal. Sering berdoa sama Allah supaya kalian semua di beri kelulusan 100%. Sering berdoa di tengah malam, supaya Allah menjernihkan pikiran kalian semua ketika menjawab soal itu semua. Kami guru-guru kalian hanya bisa mendoakan kalian, tidak bisa membantu lebih banyak.” Bu Rosma memberi petuah dengan mata berembun.
Semua murid menunduk menyadari kesalahan masing-masing yang masih main-main di saat mau UN.
Setelah pidato dari bu Rosma, semua murid melupakan kasak kusuk antara Silvi dan Lukman, mereka sudah fokus lagi untuk belajar.
... ...
Hari ini mereka semua mengikuti Ujian Nasional.
Setelah diberikan sedikit aba-aba dari kepala sekolah, mereka langsung masuk ruangan untuk mengikuti ujian.
Yasser dan Silvi berbeda ruangan, karna di atur berdasarkan abjad nama mereka.
Hari pertama berjalan dengan lancar. Begitu juga selanjutnya. 3 hari mereka mengikuti UN dan mengikuti UAS seminggu lebih.
Ujian menguras banyak tenaga mereka.
“Assalamu’alaikum wr wb, Alhamdullillah, kita semua sudah mengikuti ujian, kita sekarang hanya menunggu pengumuman kelulusan, sambil menunggu pengumuman keluar, kalian boleh pergi piknik bersama teman sekelas untuk mempererat tali pertemanan kalian di saat kalian akan berpisah, dan juga nanti kita akan mengadakan acara perpisahan besar-besaran, yang ikut dalam kegiatan acaranya masih harus hadir ke sekolah, untuk berlatih agar bisa tampil maksimal, hanya itu yang dapat saya sampaikan, Semoga kita semua di beri kelulusan oleh Allah, Amiinn ... Wassalamu’alaikum wr wb.” Kepala sekolah menutup pembicaraannya.
“Wa’alaikum salam wr wb,” jawab mereka semua.
Mereka telah selesai mengikuti ujian, tinggal menunggu pengumuman kelulusan mereka.
Untuk merileks pikiran mereka, wali kelas mereka masing-masing mengajak mereka untuk piknik.
Sekalian untuk acara perpisahan kecil-kecilan mereka bersama teman-teman sekelas mereka, karna nanti perpisahan besar-besaran yang diadakan di sekolah untuk semua murid-murid kelas 3.
“Jadi anak-anak kita akan kemana, ada 3 pilihan, ke laut, ke gunung yang ada air terjun, atau ke tempat wisata buatan?” bu Rosma bertanya pada muridnya.
“Gunung bu,” Mereka menjawab dengan serentak, tapi ada juga beberapa orang yang memilih tempat wisata buatan, karna permintaannya lebih banyak ke gunung, mereka memilih pergi ke pegunungan yang ada air terjunnya.
“Untuk perlengkapannya, kalian harus bawa baju ganti, karna nanti disana kita bisa mandi air terjun, dan untuk cemilan lebih baik kalian bawa dari rumah, karna itu lebih irit, nasi dan minum juga kalian bawa dari rumah, untuk lauknya nanti kita bakar-bakar ayam di sana, ayamnya nanti biar ibu yang urus semua,” bu Rosma menjelaskan pada mereka.
“Asikk, makan ayam panggang hasil panggangan sendiri, yummy,” Doni mempraktekkan sedang menggigit daging ayam.
__ADS_1
“Huuu ... giliran makan!” Teman-temannya bersorak.
“Bu, saya gak suka ayam, gimana dong?” Julia bertanya pada bu Rosma.
“oh ada yang gak suka ayam, siapa aja yang gak suka ayam?” bu Rosma bertanya pada murid-murid yang lain.
Ada lima orang yang tidak suka makan ayam.
“Untuk yang tidak suka ayam kita ganti ikan boleh?” tanya bu Rosma lagi.
“Boleh bu,” jawab mereka.
“Kita beli ikan bandeng apa ikan tongkol?”
“Bandeng bu, tongkol bu”
“Wah beda-beda juga, yang mau ikan bandeng tunjuk tangan?” perintah bu Rosma.
Mereka semua menunjuk tangan lagi.
“Yang ibu suruh tunjuk tangan itu yang gak suka ayam, jangan yang suka ayam juga tunjuk tangan lagi,” bu Rosma menaikkan suaranya.
Mereka semua tertawa.
“Kalian giliran makan aja, semua kalian mau. jadi yang pilih ikan bandeng berapa orang?”
“3 bu, berarti 2 nya lagi ikan tongkol,” jawab mereka.
“oke berarti ayam 30 potong, ikan bandeng 3 ekor, ikan tongkol 2 ekor.” Bu Rosma mencatat di buku kecilnya.
“Yang rumahnya dekat dengan sekolah ibu minta bantu bawa tikar piknik bisa?”
“Bisa bu,” jawab mereka semua.
“Yang jawab bisa yang dekat rumahnya sama sekolah aja, bukan semua jawab bisa, nanti pas harinya, gak ada bawa bu!, kan rumah saya jauh dari sekolah,” bu Rosma pun mempraktekkan berbicara dengan wajah memelas.
Lagi-lagi mereka tertawa kembali.
“Yang bersedia bawa tikar siapa?, kalau bisa tikar lipat piknik yang ringan itu aja, sama siapa ada?” bu Rosma bertanya kembali.
Ada banyak yang menunjuk tangan. Bu rosma hanya memilih 10 orang yang terdekat rumah nya dari sekolah untuk membawa tikar.
__ADS_1
Hari perjanjian untuk piknik pun tiba.
Mereka semua bersiap seperti aba-aba. Mereka disewa 2 bus kecil untuk jumlah tumpangan 20 per bus, satu untuk laki, yang satu untuk perempuan.