Surat Izin Berjodoh

Surat Izin Berjodoh
Bab 43 : Menolak


__ADS_3

Silvi bersiap-siap untuk pergi menemui Kak Tristan, dia pergi naik motor sendirian.


Sesampainya disana, Silvi langsung memilih meja yang tidak terlalu pojok, dia sengaja datang lebih cepat, agar tidak keduluan sama Kak Tristan.


Silvi memesan jus alpukat kesukaannya sambil menunggu Kak Tristan.


Tidak lama kemudian, Kak Tristan muncul. Silvi tak bisa berbohong pada dirinya, Kak Tristan memang sangat tampan, apalagi memakai baju seperti di hadapannya sekarang, celana jeans hitam kuncup bawah, dengan sepatu kerennya, dan baju biru pudar, dengan lengan panjang, di tambah aksesoris jam tangan hitam sambil memegang kunci mobilnya.


"Kak Tristan!" Panggil Silvi.


Kak Tristan menoleh ke arah suara Silvi dan berjalan menuju meja Silvi duduk.


" Udah lama nunggu Silvi? " tanya Kak Tristan sambil menggeserkan kursi di depan Silvi untuk duduk.


"Belum Kak, baru aja sampai," jawab Silvi.


"Mau makan apa Kak?" Tanya Silvi.


"Apa aja boleh, kamu pesan duluan,"


"Mbak!" mereka memanggil pelayan di cafe itu, pelayan itu datang sambil membawa buku catatan.


"Mbak saya pesan ini ya, Kakak pesan apa?" Tanya Silvi pada Kak Tristan.


"Saya ini aja," jawab Kak Tristan.

__ADS_1


"Udah itu aja mbak," ucap Silvi.


sambil menunggu makanan datang, Silvi membuka obrolan.


"Kakak rencana sambung Kuliah di mana?" Tanya Silvi.


"Kakak rencananya di fakultas teknologi,


Silvi sendiri mau sambung di mana di universitas kedokteran ya?" tanya kak Tristan


"Kok kakak tahu?" Tanya Silvi.


"Kan Silvi pernah cerita,"


"Hehe ... Iya Kakak pernah dengar Silvi lagi ngobrol sama kawannya Silvi," jawab kak Tristan sambil tertawa.


"Oo iya rencana Silvi mau sambung di universitas kedokteran, makanya Silvi sering kejar les biologi," kata Silvi.


“Kenapa Kakak milih masuk di kampus itu?” tanya Silvi.


“Enggak tau ya, Kakak merasa cocok aja di kampus teknologi, mungkin karena Kakak orangnya penasaran, sering otak-atik bagian teknologi. Jadi kebawa aja sama hobby,” jawab Kak Tristan.


“Oh gitu,” respon Silvi.


“Ini makanannya,” kata pelayan yang datang dengan membawa makanan di nampan.

__ADS_1


“Makasih,” ucap mereka berdua.


“Ya udah makan dulu kita Kak,” ucap Silvi.


“Iya,” jawab Kak Tristan.


Setelah selesai makan Silvi membuka pembicaraan.


“Kak,” Silvi berkata pelan pada Kak Tristan.


“Ya,”


“Silvi ingin menjawab tentang kejadian yang di sekolah waktu perpisahan,” kata Silvi.


“Heu eum, gimana man?” tanya Kak Tristan dengan penuh pengharapan.


“Silvi minta maaf Kak, untuk menolak kakak tidak juga, untuk menerima kakak juga enggak bisa, karena Silvi Lagi fokus ke sekolah kak, kan kakak tahu Silvi lagi mengejar cita-cita Silvi untuk bisa masuk universitas kedokteran kalau memang nanti kita berjodoh Silvi tunggu Kakak datang setelah Silvi lulus kuliah,” berkata Silvi dengan hati-hati.


Kak Tristan menghela nafas panjang.


“Kakak terima apapun keputusan Silvi asalkan Silvi tidak terbeban dengan perasaan Silvi,” ucap Kak Tristan dengan sedikit keputus-asaannya.


“Tapi kakak jangan marah,” Silvi memohon pada Kak Tristan dengan meraapatkan 2 telapak tangan di dada tanda pengharapan.


“Gak kok, Kakak gak marah, Kakak senang Silvi bisa berterus terang sama Kakak, karna bagi Kakak, melihat Silvi bisa senyum gini aja, Kakak udah bahagia kali, apalagi sekarang kita sedang duduk ngobrol berdua, ini udah lebih dari cukup untuk Kakak,” ucap Kak Tristan.

__ADS_1


__ADS_2