System Rich Over Famous

System Rich Over Famous
BAB 34


__ADS_3

"Oh, kalau begitu tunjukkan video yang kalian rekam," pinta Karmila.


"Videonya … Videonya terhapus," ucap Ando ngeles.


"Ck! Terhapus? Ha-ha-ha, proyek macam apa itu yang bisa terhapus? Lalu kenapa 0ada ku tidak terhapus? Karena itu adalah video asli dan tidak di buat-buat. Waktu itu aku makan di restoran Quad, waktu itu mereka juga maka di sana. Pertanyaannya kenapa mereka makan di restoran Quad dan tidak makan di restoran dekat dengan perusahaannya, itu karena restoran Quad jauh dari perusahaannya dan jauh dari rumahnya, jadi dia punya kesempatan untuk berduaan dengan Sekretarisnya. Tapi dia tidak menyangka jika restoran Quad sangat dekat dengan kediaman ku, sehingga aku bisa merekam adegan mesra mereka," jelas Alfazro sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Papa … kamu … Benar-benar keterla … luan," ucap Karmila dengan suara yang tersendat-sendat. Ia memegang dadanya dan itu terasa amat sakit. Dengan air mata yang berlinang dan jatuh ke tanah.


"Papa! Kau sangat keterlaluan! Aku malu punya Papa seperti mu!" teriak Andi berlari ke arah gerbang sekolah.


"Hey tunggu dulu Andi!" panggil Alfazro.


Andi berhenti dan diam mematung. "Bilang saja jika kau ingin mengejek ku kan?" tanya Andi dengan mata berkaca-kaca.


"Ya! Kau sangat menyedihkan, Dulu kau bully aku habis-habisan, hingga aku hampir merenggang nyawa di toilet, tapi mendadak kau menjadi penyelamat. Saat kau membully ku tidakkah kau berpikir akan datang hari ini? Hari di mana datangnya karma yang lebih menyakitkan, yaitu hancurnya keluarga mu," ucap Alfazro.


Akan tetapi tiba-tiba saja sektretarisnya yang bernama Lara datang dengan tergesa-gesa.


"Hey! Kenapa kau datang ke sini?" tanya Ando kaget saat melihat Lara datang.


"Aku menelpon mu berkali-kali tidak kau angkat! Saat aku melacak ponsel mu ternyata kau ada di sini rupanya!" denggus Lara kesal.


"Apa! Jadi kau melacak ponsel ku?" tanya Ando terbelalak.

__ADS_1


"Lara!" teriak Karmila dengan mata berapi.


Plak!


Sebuah tamparan yang mendarat di pipi Lara dan seketika pipi Lara memerah.


"Berarti benar ya kau dan dia selingkuh!" hardik Karmila murka.


"Tidak Ma, kami tidak selingkuh," ucap Ando berjalan mendekati istrinya dan menengahinya.


"Jika tidak apa semua ini! Aku saja tidak pernah melacak ponsel mu, tapi dia hanya seorang pekerja tapi bisa melacak mu! Jadi apa lagi jika kalian tidak punya hubungan! Lebih baik kalian mengaku saja!" teriak Karmila.


"Ya! Aku dan dia memang punya hubungan! Bahkan aku hamil 3 bulan! Aku ingin suami mu bertanggung jawab untuk menikahi ku!" seru Lara.


"Mama!" teriak Andi berlari ke arah mamanya dan menopang kepala mamanya sambil menangis.


"Lara! Kamu ini apa-apa! Kenapa kamu malah berkata seperti itu di tempat ramai seperti ini!" teriak Ando.


"Kenapa memangnya! Kau selama ini terus menyembunyikan hal ini dan tidak mengatakan pada dia! Lebih baik aku yang mengatakannya langsung. Aku ingin anakku punya ayah! Jika kau tidak mau bertanggung jawab seharusnya kau tidak melakukan itu pada ku! Aduuuuuh!" teriak Lara tiba-tiba perutnya merasa sakit.


"Lara, kamu … kamu tidak apa-apa kan?" tanya Ando memeluk Lara.


"Perut ku … perutku sakit banget," ucap Lara menahan sakit.

__ADS_1


"Ya sudah, ayo ke rumah sakit," ajak Ando.


"Papa!" teriak Andi dengan berderai air mata. Ando berhenti dan melihat ke arah Andi.


"Dari tadi mama pingsan Papa tidak langsung membawanya ke rumah sakit, saat selingkuhan Papa sakit, Papa panik dan segera membawanya ke rumah sakit! Mama adalah istri sah Papa! Tapi Papa lebih memilih selingkuhan Papa! Papa tidak peduli lagi dengan aku dan Mama! Papa adalah pria terjahat di dunia ini! Aku tidak mau Papa lagi!" teriak Andi dengan isak tangisnya hingga suaranya parau.


Ando menekuk alisnya. "Ya sudah, ayo sekalian bawa ke dalam mobil," ajak Ando.


"Papa! Kau tak punya hati! Kau tak punya perasaan! Mulai hari ini aku bukan anakmu lagi!" teriak Andi.


"Ya sudah, bapak akan telpon ambulan, biarkan papa mu pergi bersama selingkuhannya," ucap kepala sekolah.


Kepala sekolah pun menelpon ambulan.


Alfazro menatap Andi yang sedang menangis itu.


"Kenapa sudah puas kau!" teriak Andi.


"Belum, selain keluarga mu yang hancur, aku juga ingin kau merasakan bagaimana hidup serba kekurangan. Selama ini kau mengejek ku orang miskin, jadi kau juga harus merasakan hidup melarat, bekerja berat di saat perut masih kosong dan tinggal di bawah kolong jembatan," ucap Alfazro.


"Kau benar-benar kejam!" teriak Andi.


"He-he-he, mana lebih kejam antara kau dan aku?" tanya Alfazro.

__ADS_1


__ADS_2