
"Andika, datang 6 bulan lalu? Apa ada petunjuk tentang laki-laki itu?" tanya polisi itu lagi.
"Tidak ada, dia tiba-tiba saja menghilang," jawab Alfazro mengangkat bahunya.
"Haishhhh, petunjuknya sedikit sekali, tapi kami usahakan mengindentifikasi siapa korban ini lalu mencari tahu siapa saja orang di sekitarnya," ucap polisi itu.
Mereka pun membawa masuk tulang belulang itu dengan memasukan ke dalam pembungkus jenazah.
Bus pun datang, hari ini seharusnya mereka akan melakukan hiking, sayangnya itu di batalkan karena ada kejadian seperti ini.
Para murid pun masuk ke dalam bus satu persatu.
Akan tetapi baru saja Alfazro ingin masuk, seorang pria keluar dari mobil dan ia berlari ke suatu tempat.
"Tolong! Lepaskan aku!" teriak pria itu yang terus berjalan dan sampailah ia pada galian yang di gali oleh Alfazro dan yang lain.
__ADS_1
Alfazro langsung mengikuti pria itu dan terlihat ia seperti di bawa seseorang dan pria itu berlutut.
Melihat Alfazro berlari, pak Hendra dan pak polisi juga mengikuti Alfazro.
"Kau tahu kenapa aku bawa ke sini kan Andika!" terdengar suara seorang wanita yang menggema.
"Kau … kau … apa yang kau mau?" tanya pria itu.
"Andika, apa kau sudah melupakan aku? Aku ada orang yang pernah kau cintai. Tapi kau bunuh dengan sadis karena hanya aku hamil anakmu. Kau malu mempunyai anak dan akhirnya kau pun membunuh ku!" ucap bayangan hitam itu.
"Jika kau merasa bersalah seharusnya bukan bersembunyi, kenapa kau tidak datang kepada ku. Tidak seharusnya aku menunggu mu lebih lama lagi."
"Gina … aku benar-benar bersalah pada mu, tolong hukum aku! Hukum aku Gina! Aku akan terima hukuman apa pun, dan kalau perlu … bunuh diri ku juga!" teriak pria itu dengan isak tangis.
"Tidak. Kau harus tetap hidup. Hiduplah dengan damai. Aku … ingin pergi, kau … jagalah dirimu baik-baik. Aku mendatangi kamu ke sini hanya untuk berpamitan. Aku bahagia setelah bisa melihat mu, aku tidak menyesal meskipun aku mati, tapi setidaknya aku mati di tangan orang yang aku cintai," ucap bayang-bayang itu.
__ADS_1
"Tidak! Gina! Jangan pergi! Aku minta maaf! Tolong jangan tinggalkan aku! Teruslah bersama ku!" teriak Andika menangis sesenggukan dan ingin menggapai bayangan itu.
"Dunia kita sudah berbeda. Selamat tinggal Andika," ucap bayangan itu perlahan-lahan memudar.
"Ginaaaaaa!" Andika memeluk bayangan yang berubah menjadi asap dan pergi ke langit.
Dan ia pun berlutut dengan tangisan penuh penyesalan.
"Menyesal susah tidak berguna lagi, dia sudah mengatakan kau harus hidup berarti dia tidak dendam pada mu," ucap Alfazro.
"Benar, tapi setiap perbuatan ada balasannya, kau akan tetap hidup seperti yang dia katakan, tapi kau tetap mendapatkan hukuman setimpal dengan perbuatan yang kau lakukan," ucap pak polisi.
Andika hanya diam dan menatap kosong. Tangannya di borgol dan ia di bawa masuk ke dalam mobil polisi.
Alfazro dan yang lain pun meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1