
"Jika begitu terima kasih banyak," ucap gadis itu.
Mereka pun masuk ke dalam kelas bersamaan-sama.
"Kamu duduk di mana?" tanya Alfazro saat melihat gadis itu kebingungan.
"Nggak tau," jawabnya menggeleng.
"Ya udah, duduk bareng aku aja, aku duduk sendirian kok," tawar Alfazro.
Gadis itu pun duduk di sebelah Alfazro. Akan tetapi ia masih tetap diam.
"Nama kamu siapa?" tanya Alfazro.
Belum sempat gadis itu menjawab wali kelas pun masuk ke dalam.
"Selamat pagi anak-anak," ucap buk Mei.
"Selamat pagi," jawab anak-anak.
"Ah, akibat hujan jadi belum datang semua ya? Oh ya, kelas kita kedatangan murid baru. Ayo ke depan dan perkenalkan diri," ucap buk Mei.
Gadis itu pun berjalan ke depan dan ia berdiri menghadap teman sekelasnya.
"Ayo," ucap buk Mei.
"Perkenalkan nama saya Alfazira, umur saya 16 tahun yang sebentar lagi menuju 17 tahun. Salam kenal semuanya buat teman-teman," ucapnya menundukkan kepala memberi hormat.
__ADS_1
Tidak ada yang menyahutinya dan buk Mei juga merasa canggung.
"Baik Alfazira, kamu silakan duduk, jika ada pertanyaan apa pun itu kamu bisa bertanya pada teman-teman dan pada ibu juga," ucap buk Mei.
"Baik Buk." angguk Alfazira kembali duduk di samping Alfazro.
Alfazro ternganga menatap Alfazira.
"Kamu kenapa?" tanyanya menekuk alisnya.
"Kamu serius nama kamu Alfazira?" tanya Alfazro rasanya tak percaya.
"Jadi siapa lagi namaku?" Alfazira balik bertanya.
"Nama kita sama lho, nama aku Alfazro, dan nama kamu Alfazira. Jangan-jangan kita kembaran yang terpisahkan, atau kita … Jodoh lagi," ucap Alfazro tersenyum dengan menaik turunkan alisnya.
"Rumah kamu di mana? Nanti biar aku antar," ucap Alfazro.
"Anak-anak, buka buku halaman 34, di sana ada contoh dan soal, Ibu akan menjelaskan contohnya dan kerjakan solanya nanti ya," ucap buk Mei.
"Baik Buk," jawab mereka.
Mereka pun memperhatikan secara saksama, tapi tidak sedikit juga yang mengantuk, yang gambar anime, coret-coret kertas, lempar-lemparan kertas, ada yang serius, ada yang pura-pura serius tapi tidak memperhatikan.
Tapi Alfazira sangat memperhatikan pelajaran yang ada di depan, sekali pun ia duduk di belakang bersama Alfazro, ia benar-benar belajar dengan serius.
"Kamu sangat serius sekali?" tanya Alfazro.
__ADS_1
"Belajar itu penting agar berguna di masa depan," ucap Alfazira.
"Ya aku tau itu, tapi kamu seriusnya kebangetan," ucap Alfazro.
Alfazira melihat ke arah Alfazro. "Kalau nggak serius belajarnya, nanti masa depannya juga nggak serius."
"Jadi … itu masa depan juga bermain-main sama kita gitu ya?" tanya Alfazro.
"Kamu ini, udah ah, aku belajar," ucap Alfazira kembali melihat ke depan.
"Sebelumya kamu sekolah di mana?" tanya Alfazro penasaran.
"Nanti saja ku jawab," jawabnya terus melihat ke depan.
"Baiklah, baiklah." Alfazro mengambil ponselnya dan ia malah bermain game. Alfazira memegang kepala melihat kelakuan Alfazro.
"Bagaimana? Apa kalian mengerti? Jika belum mengerti silakan bertanya waktu 5 menit saja," ucap buk Mei.
Murid-murid hanya diam saja dan tidak ada yang bertanya.
"Hey kau, bertanyalah. Dari tadi aku melihat mu main game aja," senggol Alfazira.
"Hm … Enggak," jawab Alfazro santai.
"Baiklah jika kalian tidak ada yang bertanya, kalian kerjakan soal di samping contohnya ya, setelah selesai antar ke depan," ucap buk Mei.
"Ya Buk," jawab mereka.
__ADS_1