
*Jaafar menyesap teh buatan Jasmin sambil menikmati cemilan yang sudah Jasmin siapkan untuknya
" Bagaimana Afar kamu menyukainya ?" tanya Jasmin tersenyum memandang wajah Jaafar
" Tentu saja Jas , apapun yang kamu buat untukku aku selalu menyukainya " jawab Jaafar tersenyum memandang wajah Jasmin
" Berhenti melihatku seperti itu Afar " kata Jasmin
" Akh aku merasa sudah lama sekali tidak melihat senyum cantikmu ini Jas " Ujar Jaafar
Jasmin tertawa
" Bagaimana bisa kamu tidak melihatku tersenyum Afar, setiap hari kita selalu bertemu bukan ??" tanya Jasmin
Jaafar meraih tangan Jasmin
" Entah kenapa aku sangat merindukanmu Jas, jangan sampai kita berpisah Jas" kata Jaafat mencium punggung tangan Jasmin
" Hmm kita tidak akan berpisah Afar tidak akan " kata Jasmin memberi senyuman ke pada Jaafar
" Afar aku akan kebelakang dulu, kamu nikmati tehnya" kata Jasmin
" Tunggu Jas" ujar Jaafar
" Ada apa ?" tanya Jasmin
" Bisakah kamu memberiku pelukan ?" tanya Jaafar
Jasmin tersenyum dan mengangguk memberi pelukan ke Jaafar
Jaafar memeluk erat Jasmin membenamkan wajahnya di pelukan Jasmin*
" Kek bangun kek " panggil Daniel sambil menggoyangkan badan Jaafar pelan
Mata Jaafar terbuka melihat ke sana sini
" Ternyata aku hanya bermimpi" kata Jaafar dalam hatinya
" Kek kakek cari apa ? " tanya Daniel
Jaafar menatap Daniel
" Akh tidak kakek tidak mencari apa apa " kata Jaafar
" Kek kenapa kakek tidur di meja, badan kakek akan sakit jika tidur seperti ini " kata Daniel
" Akh kakek ketiduran saat menulis " kata Jaafar
" Kamu sudah pulang ? bagaimana dengan Arin ?" tanya Jaafar
" Iya kek Arin ada di kamarnya " jawab Daniel
" Kalau begitu lekaslah ganti pakaian kita makan siang bersama " kata Jaafar bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar Daniel
Jaafar duduk di ruang makan menunggu ke dua cucunya setelah menunggu beberapa saat Arin dan Daniel datang lalu duduk di tempat mereka masing masing
__ADS_1
Kini Jaafar menikmati makan siang bersama Daniel dan Arin suasana ramai dengan cerita Arin dan sesekali mereka tertawa karena cerita Arin
Selesai makan mereka duduk di sofa sambil menonton televisi
" Kek " panggil Arin
Jaafar menatap Arin
" Ada apa sayang " kata Jaafar mengusap kepala Arin lembut
" Kakek dimana dulu bertemu dengan nenek " tanya Arin
" Kenapa tiba tiba bertanya Arin ?" tanya Jaafar
" Tidak apa apa cuma mau tau aja kek ,boleh kan ?" tanya Arin
" Aku juga mau denger cerita kakek waktu muda " kata Daniel
" Ceritanya panjang anak anak "kata Jaafar lembut
" Apa sepanjang ini ?" tanya Arin dengan kedua tangan merentang
Jaafar menggeleng
" Lebih panjang lagi " kata Jaafar
" Apa kekek tidak ingin bertemu nenek ?" tanya Daniel
Jaafar tersenyum pahit
" Kekek minta sama Ayah aja aku juga kangen sama nenek " kata Arin
Jaafar menatap Arin
" Ayah kalian masih sangat sibuk bagaimana bisa kakek merepotkan ayah kalian karena keinginan kakek " kata Jaafar
" Kek , aku bisa mengantar kakek bertemu dengan nenek " kata Daniel
" Benarkah ? bagaimana caranya ?" tanya Jaafar
" Aku tahu rumah tante kita bisa kesana kek " kata Daniel
" Tidak Daniel itu terlalu beresiko kakek tidak mau jika hanya berangkat bersamamu saja " kata Jaafar
" Lalu sampai kapan kakek menahan rindu dengen nenek ?" tanya Daniel dengan tatapan yang sangat dalam menatap Jaafar
Jaafar mencoba tersenyum
" Kamu jangan pikirkan kakek , kakek baik baik saja " kata Jaafar Arin memeluk Jaafar
" Aku menyayangimu kek " Kata Arin
" Tentu Arin kakek juga sayang denganmu " kata Jaafar
Daniel hanya diam enggan untuk berbicara lagi dan mengarahkan matanya ke televisi
__ADS_1
Mata Daniel memang melihat televisi tapi tidak dengan otaknya dia tengah mengatur cara agar bisa membantu kakeknya..
Menjelang sore Daniel dan Arin mengajak kakeknya untuk berjalan jalan Jaafar senang dan menurut
libur bekerja dan di temani Daniel serta Arin membuat kesedihan Jaafar sedikit berkurang
Daniel dan Arin sungguh menyayangi Jaafar dengan sangat tulus bahkan di banding dengan Hana dan Nathan , Daniel serta Arin lah yang lebih menghargai keberadaan Jaafar di rumah tersebut
Semenjak Jaafar bekerja di perpustakaan Jaafar kini lebih sering makan dua kali sehari karena setiap malam pulang dari bekerja Tidak ada makanan untuk dirinya
Jaafar bisa saja makan di luar tapi dia enggan sekali karena jika Jaafar berhenti dan makan malam di luar maka semakin malam pula Jaafar akan menghubungi Jasmin dan dia tidak ingin itu terjadi
*
*
*
" Bu bangunlah ini makan siang untuk ibu " kata Jessie
" Iya nak terima kasih " kata Jasmin
" Bagaimana keadaan ibu apa sudah lebih baik ? atau aku perlu membawa ibu ke dokter ?" tanya Jessie
" Tidak ibu sudah lebih baik Nak, ini berkat dirimu juga " kata Jasmin
" Yasudah bu habiskan makanan ibu aku tinggal dulu " kata Jessie
Jasmin hanya mengangguk dan mulai melahap makan siang yang di antar oleh Jessie
Jasmin makan dengan perlahan dan begitu selesai Jasmin bangkit dan berjalan ke dapur mencuci piring bekas makannya sendiri lalu berjalan menuju ke kamar Dira
" Nak " kata Jasmin di ujung pintu
" Ibu ? kenapa kesini ? kenapa ibu tidak istirahat saja " kata Jasmin
Jasmin berjalan masuk ke dalam kamar Dira dan lalu ikut duduk bergabung dengan Jessie san Dira
" Ibu sudah tidur dari pagi Nak, badan ibu terasa semakin sakit jika terus terusan berbaring " Ujar Jasmin
" Hmm yasudah bu " kata Jessie
" Jes apa tidak ada kabar dari Jihan ?" tanya Jasmin
" Tidak bu , Jihan juga belum menghubungiku "kata Jessie
Jasmin mengangguk
" Bagaimana kabarmu nak di luar sana " kata Jasmin dalam hati
" Akh tadi pagi Jaabier menelfon bu " kata Jessie
" Benarkah ? bagaimana kabar Jaabier ?" tanya Jasmin
" Dia baik baik saja bu tadinya dia mencari ibu tapi karena ibu sedang istirahat jadi dia titip salam saja sama ibu " kata Jessie dan Jasmin hanya mengangguk tanda mengerti
__ADS_1
**** Jika kekuatan cinta bisa mengalahkan segalanya lalu apa arti dari kehidupan yang di jalani dua insan ini ****