
Matahari perlahan naik dari timur. Mereka berdua tetap terpejam sambil memeluk satu sama lain. Alpha yang terbangun lebih awal menggoyangkan badan Ana agar ia juga bangun. Rasa ngantuk masih saja menghantui Ana. Untuk mata yang lebih terbuka Alpha menyipratkan air ke arahnya.
“Iya, iya aku bangun. Sekarang jam berapa?”
“Jam 6. Aku pamit ingin ke rumah tuan Robert. Seperti biasa nanti malam aku pulang.”
“Hmm..ya sudah aku ingin mandi.”
Anna dan Alpha kembali ke aktivitas mereka masing-masing. Pergi ke sekolah dan mengurus rumah tuan Robert. Setibanya di tujuan Alpha melihat makhluk itu berbincang dengan Robert di jam sepagi ini.
“Selamat pagi, tuan Robert.”
“Selamat pagi. Kau masuk saja duluan.”
bermaksud pergi menghindar, ia tercegat dengan sapaan mahkluk yang menurutnya asing.
“Kau ke sini cukup pagi, ya?”
“Tidak, kau lebih pagi dari aku.”
“Panggil aku Ankou. Berhenti mengatai aku makhluk asing. Setidaknya aku tidak terlalu asing sepertimu yang tidak punya tubuh.”
“KAU....” Alpha mulai naik darah karena hinaan dari Ankou. Amarahnya mereda ketika Robert berusaha menenangkan.
“Kalian apa berbaikan tidak bisa? Kalau ingin bertengkar jangan di rumahku.”
__ADS_1
“Ini bukan di rumahmu.” potong Ankou.
“Tapi ini halaman rumahku. Masih di sekitar rumahku. Lebih baik kalian saling akur karena aku menyuruh kalian ke suatu tempat.”
“Tidak mau jika tuan menyuruhku pergi dengannya.”
“Robert, kau menyuruh kami ke mana?”
“Bisakah kalian ke alamat ini?” Robert memberikan secarik kertas pada Alpha dan Ankou.
“Aku bisa sendiri. Jika tidak salah ini toko perhiasan di mall besar, kan. Aku pergi dulu.”
“Kau pergi dengan Alpha untuk mengakrabkan diri. Sudah ya aku mau sarapan.”
“Kau menyuruh kami pergi tanpa menawarkan aku sarapan begitu?” tanya Ankou sambil menyilangkan kedua tangannya.
Ankou jengkel dengan sikap temannya. Hampir ia merobek kertas pemberian Robert.
“Kau mau ikut atau tidak?”
Alpha berjalan ke depan tanpa menjawab pertanyaannya. Dianggap patung, rasa kesal harus ditahan karena yang ia hadapi adalah sahabatnya sendiri. Di perjalanan mereka hanya terdiam. Berbeda dengan masa lalu mereka yang sangatlah akrab. Tersadar ia melihat toko yang sama 5 tahun lalu.
“Aku pernah ke sini.”
“Kapan dan untuk apa?” Ankou sangat kaget dengan kalimat yang ia dengar.
__ADS_1
“Beli perhiasan.”
“Kau beli perhiasan?”
“Bukan aku tapi majikanku sekaligus sahabat. Ayo, masuk.”
Karyawan toko yang bahkan menyambut mereka orang yang sama. Tidak ada perbedaan dengan interior toko. Hanya ada tambahan di sekitar furniturnya.
“Aku ingin mengambil pesanan cincin atas nama Robert.”
“Robert Collin?”
“Ya.”
“Ini cincinnya. Bisa saya ambil sisa uang pembelian?” Ankou baru tahu jika cincinnya baru ditebus sebatas uang muka. Hari ini adalah kesialan beruntun baginya. Jalan dengan sahabatnya yang dingin, cari sarapan sendiri dan membayar pesanan cincin Robert. Di moment itu ia ingin berteriak.
“Ini kartu ATM saya.”
Muncul sosok pria yang diketahui pemilik toko. “Wah, wah kau membeli cincin untuk siapa? Kekasihmu?”
Tahu akan suasana yang mulai berubah Ankou berusaha mengalihkan topik, namun sayang cara itu tidak berhasil. Ia menyuruh Alpha untuk pulang dan menitipkan cincin padanya. Tentu agar Alpha tidak mengganggu pertemuannya dengan Dewa Cinta, Eros. Walaupun sebenarnya ia tidak tertarik.
“Apa kau mau minum kopi? Biar aku yang traktir.”
“Boleh juga.” Eros tersenyum licik.
__ADS_1
BERSAMBUNG