Terbatas Takdir

Terbatas Takdir
Bab 15: Kebimbangan


__ADS_3

“Hei, tunggu."


“Apa?”


“Haruskah aku tinggal serumah denganmu?”


Ankou memutar bola matanya “Iya kau harus tinggal denganku. Apa aku akan mengatakan untuk yang kedua kalinya? Ana tidak bisa bergantung denganmu terus dan setelah berpisah dengannya, kau akan hidup di mana? Seperti biasa di jalanan yang tak punya arti mengapa kau ada di sini?”


Alpha menundukkan kepalanya “Aku tidak tahu karena aku belum memutuskan. Tidak mudah untuk mengatakan selamat tinggal. Aku sudah terlanjur menyayangi Ana.”


“Mau bagaimana lagi? Mungkin terlihat kejam tapi kau harus bisa menerimanya. Aku akan memberi ruang untukmu berpikir dan cara agar kalian berdua bisa saling melepaskan.”


“Setelah ini kau akan bekerja? Dimana?”


“Aku baru mendapatkan klien baru. Jadi, aku tidak tahu dimana alamat rumah muridku. Aku akan ke kantor terlebih dulu. Tapi sebelumnya aku akan mengantar kau ke rumahku.”


“Berikan petunjuk untuk sampai ke sana. Aku kan bukan manusia.”


“Ha..ha..ha, aku lupa.” Ankou menjetikan jarinya sehingga mengeluarkan cahaya biru.


“Ikuti cahayanya. Nanti kau akan sampai.”

__ADS_1


Alpha mengangguk arti dari mengerti. Akhirnya Ankou bisa menuju kantor dengan pikiran sedikit lega. Beban hidupnya yang ratusan tahun menumpuk punggungnya mulai terangkat.


Trringg....Trringg.... bunyi pesan masuk.


From: Ms Joanna


To: Mr Andre


“Mr Andre, ini alamat rumah muridmu di xxx-xx. Kau mengajarinya seperti biasa 1,5 jam untuk satu murid. Kabari jika sudah selesai mengajar.”


Mengapa alamatnya tidak asing. Sepertinya aku pernah ke sana. Ankou mengemudikan mobilnya menuju alamat pada ponselnya. Jika di dunia manusia Ankou mempunyai nama samaran yaitu Andre. Jika orang lain tahu akan nama aslinya, pasti semua orang akan takut karena namanya selalu berkaitan dengan kematian.


Sampai di tujuan Ankou membaca ulang alamatnya, takut jika rumah yang akan dikunjungi salah. Ketika ia dipersilahkan untuk masuk betapa terkejutnya jika anak yang akan diajarinya adalah Ana.


“Mr Andre, ini anakku Ana. Kalian boleh belajar di ruang yang sudah aku siapkan. Aku tinggal kalian sebentar ke dapur.” Kata Grace.


Ankou menatap Ana dengan tatapan kaget dan jantungnya terus berdetak cepat. Wajahnya sangat mirip karena memang yang dihadapannya adalah Iriana, kekasih Alpha.


“Baiklah kita duduk. Keluarkan buku lesmu dan beritahu aku sampai dimana pelajaranmu.”


“Jika matematika aku baru sampai dengan pecahan.”

__ADS_1


“Baiklah, aku akan mengajarkanmu bagian ini.


1,5 jam akhirnya selesai. Ternyata tidak sulit mengajar Ana karena pada dasarnya ia sudah pandai hanya perlu diasah sedikit saja. Nyonya Grace membawakan minuman dan cemilan untuk mereka makan dan minum.


“Sebelum pergi minumlah dulu. Pasti tenagamu terbuang tadi.”


“Ah, tidak Nyonya. Anakmu sangat pintar. Mungkin jika belajar sendiri ia bisa."


“sebenarnya....”


Grace melirik anaknya yang kemudian menatap Andre “Anakku tidak pernah mau bermain dengan anak seusianya di sekolah. Dia sangat pasif soal itu, namun untuk urusan akademik tidaklah masalah.”


“Lalu mengapa Nyonya memanggil kami? Mengapa tidak ahli psikiater saja. Mereka lebih mengetahui kondisi Ana.”


“Apa perlu aku mengantarkannya ke psikiater?”


“Yang saya khawatirkan ke depannya Ana tumbuh dengan sifat sangat anti-sosial dan banyak yang akan mengira jika Ana sombong. Padahal ia hanya suka menyendiri.”


“Baiklah aku akan pikirkan itu dengan suamiku nanti. Setelah ini aku akan menelepon Ms Joanna dengan hasil pengajaranmu.”


“Terima kasih sudah mempercayai kami untuk mengajari putrimu.” Ankou bergegas keluar dengan kecemasan yang ia tutupi.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2