
Ankou terus mengendarai mobilnya sambil membantingkan tangannya pada roda setir. Ia sedang kesal sekarang karena merasa dimainkan oleh takdir. Ia ingin memisahkan Ana dan Alpha demi kebaikan mereka berdua, terutama Alpha.
“Tinggal sedikit lagi. Mengapa selalu ada hambatan di setiap rencana. Aku hanya tidak mau sahabatku menerima hukuman lagi.”
Ia tidak bisa berpikir jernih dan memilih menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Menundukkan kepala pada roda setir. Terdiam tanpa suara.
**Kantor Pusat Les Privat
“Oh ya Nyonya Grace, bagaimana dengan Mr Andre?”
“Dia sopan. Aku lihat juga wawasannya luas, dia menyarankan aku untuk mengantarkan Ana ke psikiater.”
“Mengapa dengan anakmu?” tanya Joana.
“Dia sangat pasif. Lebih suka diam di kamar.”
“Oh ya? Begitu, aku akan ke rumah Nyonya besok bagaimana? Mungkin aku bisa membantu karena aku dulu seorang konselor dan psikolog. Jika memerlukan obat tertentu dan Ana perlu penanganan khusus aku akan merujukan anda ke psikiater.”
“Itu ide yang bagus. Tidak salah aku memilih kalian untuk membimbing anakku.”
“Nyonya terlalu berlebihan.” Joana tertawa mendengarnya.
“Baiklah aku tunggu Ms Joana besok. Sampai jumpa.”
“Sampai jumpa.”
__ADS_1
Joana menutup ponselnya dan mencari nomor Andre. Ia menelepon karena tidak biasanya Andre pulang telat ke kantor.
“Andre kau dimana?”
“Sebentar lagi aku sampai.”
“Kau ada masalah? Terdengar sangat berat dari suaramu.”
“Hanya masalah pribadi, secepatnya aku ke kantor untuk absen.”
Joana membuka kertas absen pegawai. Ia melihat jika Andre sudah absen pulang lebih cepat karena izin untuk pulang awal.
“Kau tidak perlu ke kantor, kau sudah izin kulihat. Aku ingin bicara mengenai Ana. Besok kau tidak usah mengajarkannya karena aku yang akan ke rumahnya besok.”
“Tidak, tidak. Dia bahkan suka denganmu. Tapi, Ana bermasalah dengan karakternya. Untuk itu setelah Ana sudah normal aku akan menyuruhmu untuk mengajarnya lagi.”
“Baiklah.”
Ankou sedikit ada ruang untuk menyusun rencananya lagi. Mood-nya naik kembali.
Kita akan ke rumah, mobil. Ayo, sahabatku menunggu di rumah.
Alpha terus berbaring di kamar Ankou. Entah apa yang membuatnya senang berada di sana dalam waktu yang lama. Matanya terbuka ketika mendengar pintu rumah terbuka.
“Alpha kau dimana?”
__ADS_1
“Aku di kamarmu.” Ankou menuju kamarnya.
“Hei lihat dirimu. Hidupmu santai sekali ya. Aku bekerja sangat lelah di luar namun kau hanya tidur-tiduran.”
“Lantas kau mau aku apa?”
“Haih, aku mandi dulu.”
**Kamar Ana
“Alpha akan ke sini tidak ya? Aku tidak sabar menunggu malam.”
Langit senja sudah berubah menjadi langit malam. Sosok yang ditunggu juga tidak datang.
Kemana Alpha? Padahal aku ingin memamerkan nilaiku. Sudah jam 11, aku tunggu satu jam lagi.
Tidak ada kemunculan dari Alpha hingga Ana kelelahan menunggu. Ia tertidur sambil memegang kertas yang ingin diperlihatkan pada Alpha. Sekelabat bayangan muncul di jendela, semilir angin masuk seketika jendela itu terbuka.
Maaf aku harus menghilangkan pikiran ini. Semakin kau mengingatnya, semakin kau akan tersiksa. Sekali lagi maafkan tindakanku. Ini adalah tugasku. Mulai dari sekarang kau tidak akan pernah ingat dengan Alpha.
Ia menutup jendelanya, menghilang dari gelapnya malam. Menyusuri jalanan dengan langkah tergesa-gesa. Di perjalanan pulang ia bertemu sosok itu. Ia sudah menduga jika ia dalangnya.
“Ternyata, kau Dewa Eros?”
BERSAMBUNG
__ADS_1