Terbatas Takdir

Terbatas Takdir
Bab 28: Caffeciato


__ADS_3

“Wah ternyata ada cafe sebagus ini. Aku pikir kau anak rumahan yang tidak tau apa-apa.”


“Kau suka?”


“Iya suka sekali. Kita mau duduk di mana?”


“Di dekat dinding sana saja. Tidak terlalu kena angin malam.”


Ana memanggil waiter untuk memesan makanan. Muncullah waiter dengan name tag di bajunya, Tom.


“Mau pesan apa?”


“Saya pesan nachos dan minumannya cokelat cream. Kalau kau?”


“Hmm aku pesan steak chicken untuk minumannya samakan saja.”


“Baik ditunggu sebentar.”


Alpha memandang Ana dan itu cukup membuatnya memalingkan wajah . Ana tidak tahan ditatap terlalu lama. Alpha memulai pembicaraan mengenai sosok pria yang terus mengintai kediaman Ana.


“Ditelpon aku ada menyuruhmu untuk tidak keluar jika aku belum menjemput. Saat aku keluar untuk pulang tadi sore aku melihat ada pria tidak dikenal melihat ke arah rumahmu terus. Sebaiknya kau berhati-hati.”


“Aku juga melihat tadi. Jika sekarang dia mengikuti kita sampai ke sini bagaimana?”


“Aku akan suruh anak buahku untuk menjaga sekitar rumah. Tenang saja.”

__ADS_1


“Sekali lagi aku merepotkanmu.” Ana merasa tidak enak.


“Katanya kita juga akan membahas masalah tugas kelompok. Mengapa tidak ada apa-apa di chat grup?”


“Aku juga bingung apa aku harus chat duluan?”


“Biar aku saja.”


Alpha bertanya di chat grup tapi hanya di read tidak ada yang mau membalas. “Mereka ini mengapa? Apa hanya ingin baik di depan Helene mereka jadi bersikap sok ramah. Ternyata ini sifat asli mereka.”


Alpha terlihat kesal. Untuk mencairkan suasana Ana menyuruh makan sebelum mereka kembali membahas tugas.


#Selesai makan


“Nama itu diambil dari Nama seseorang. Apa kau arti dari nama itu.”


Alpha menggangguk. “Caffeciato singkatan dari Caffe Cinta Amy dan Tom. Amy itu pemilik cafe ini dan Tom adalah anak buah. Mereka saling jatuh cinta walaupun mereka berbeda umur. Katanya Amy lebih tua dari Tom.”


“Jadi bisa dibilang cafe ini adalah bukti cinta?”


“Ya betul. Lain kali jika ada waktu senggang kita ke sini lagi, ya.”


“Siap, tapi tadi aku melihat waiter bernama Tom?”


“Dia orangnya. Walaupun pelayan dia anak orang kaya loh. Dia bekerja di sini karena ingin dekat saja dengan Amy. Aslinya dia pengusaha besar.”

__ADS_1


Alpha mengaduk-aduk cream yang ada pada minuman. Ia tersenyum mendengar penjelasan Ana. Menurutnya Ana sangat romantis sampai tahu akan hal itu. Mereka kembali membahas tugas hingga tak terasa sudah menujukkan pukul 10 malam.


“Akhirnya selesai.” Ana membentangkan tangannya bukti jika ia sangat lelah.


“Jaga-jaga jika Helene tidak mengerjakan.”


“Kita pulang yuk. Aku sudah mulai mengantuk.”


“Padahal aku ingin lebih lama denganmu.” Alpha kecewa.


“Apa aku pesan kopi ya? Di sini terkenal dengan kopinya yang nikmat. Aku mau pesan satu.”


Perbincangan dimulai kembali. Mereka membahas apapun. Dari apa yang mereka suka dan tidak suka.


“Ternyata kau orang yang asik, ya.”


“Apa kau awalnya mengenalku orang yang aneh atau membosankan?”


“Tidak, dari awal aku mengenalmu bukan karena itu. Kau imut.”


Pipi Ana memerah mendengar kata imut. Ia sangat senang malam itu. Saat ingin mengambil pulpen di meja, jari tangannya tidak sengaja menyentuh jari tangan Alpha. Namun sentuhan itu membuat Alpha memegang tangannya.


“Terima kasih atas makan malamnya. Aku tidak akan pernah melupakan hari ini.”


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2