
“Kau mengapa sangat kaget? Yang ada kertas itu jadi lecek karena kau terus membolak-baliknya. Kau kenal dia?” tanya Fobis penasaran. Wajah pucat Alpha membuat Fobis bertambah cemas.
“Kau ini kenapa? Hey!”
“Dia teman lamaku. Aku kaget setelah sekian lama akhirnya kami dipertemukan di kampus yang sama.”
“Aku kira apa. Kau melihat data dirinya seperti melihat hantu.” Fobis duduk di samping Alpha sambil meminum jus yang ia beli.
“Aku jelas kaget karena aku juga punya masalah pribadi dengannya. Aku tidak mengerti mengapa ia memilih untuk kuliah di sini dan mengapa harus di tahun sekarang?”
“Alpha, kau tidak bisa menilai seseorang setelah sekian lama tidak pernah bertemu. Hal yang baik jika ia berpikir melanjutkan pendidikan, bukan?”
Perkataan Fobis memang ada benarnya namun semua itu tidak sesederhana yang dibayangkan. Pasti dibalik aksinya tersimpan rencana. Alpha memilih memakan makanan yang disajikan dan memikirkannya nanti.
Rumah Robert
__ADS_1
“Kau sedang apa? Kau terus saja melihat laptop.” Robert menengok apa yang dikerjakan temannya sedari tadi.
“Melihat dokumen yang aku upload. Mulai besok aku akan kuliah di tempat yang sama dengan Alpha.”
“Apa? Kampus yang sama dengan Alpha? Sebenarnya aku pusing dengan cara hidup para Dewa. Ada cara hidup yang mudah malah memilih yang sulit. Sekarang apa rencanamu?”
“Karena aku adalah teman lamanya aku akan membelanya walaupun di awal sedikit menyakitkan. Tenang saja aku tidak akan bertindak gegabah lagi. Ini rencanaku dengan Dewa Eros dan sedkit bantuan dari teman sesama murid Dewa.” jelas Ankou pada Robert.
“Terserah kau saja.” Robert pergi ke kamarnya.
Ankou mengambil ponsel dan menekan salah satu nomor di kontaknya. “Apa kau sudah mencetak data diriku?” tanya Ankou pada teman yang masih dirahasiakan.
“Dunia manusia sangat melekat dengan uang, ya?” Ankou menyindir.
“Ini bumi bukan kayangan yang semua kita miliki memakai sihir. Kau tahu itu, kan? Tanpa uang hidup di bumi akan sulit. Kau juga harus lebih berusaha jika ingin hidup di sini. Aku akan memberimu pekerjaan jika kau mau. Bagaimana?”
__ADS_1
Ankou mempertimbangkan tawaran yang diberikan oleh temannya. Ia akhirnya mengiyakan karena merasa apa yang dikatakan memang masuk akal. Ia harus bekerja karena selama ini ia selalu menumpang hidup pada Robert dan Dewa Kematian.
“Aku terima. Memangnya pekerjaan apa yang kau tawarkan padaku?” tanya Ankou.
“Menjadi penanggung jawab salah satu penulis. Kau bisa ikut di salah satu klub dimana Alpha juga berada di sana. Selain pengalaman yang kau dapat ekskul itu bisa menghasilkan pendapatan. Aku berteman dengan penulis ternama. Aku akan mengajukan namamu padanya.”
“Apa tidak aneh? Aku kan nanti menjadi anggota baru.” tambah Ankou.
“Aku tahu kau punya pengalaman. Aku akan memikirkannya lagi. Ini memang tugasku. Sudah dulu ya aku ada urusan.”
Ankou merasa deg-degan ekspresi apa yang akan diperlihatkan Alpha padanya. Ia membuka laci yang di dalamnya tersimpan sebuah kalung pemberian Alpha. Ia mengenang masa-masa pelatihan dulu.
Sebagai teman aku akan terus mendukungmu. Kalung ini sebagai bukti walaupun kau memilih untuk menjauh kau tetap teman bahkan sahabatku. Apa kau juga masih menyimpannya? batin Ankou.
Alpha mengambil kotak perhiasan yang di dalamnya juga sebuah kalung. Ia memakaikan pada lehernya dan melangkah ke depan cermin. Alpha memandang dirinya tanpa ekspresi, sangat dingin.
__ADS_1
“Mengapa aku memakai kalung ini?” Alpha bertanya pada diri sendiri.
BERSAMBUNG