
Alpha kaget mendengar pertanyaan yang menyambutnya.
“Darimana kau tahu?” Alpha menebak jika Ankou yang membocorkannya.
“Kau berpikir jika Ankou kan yang mengatakannya. Dia anak yang sangat baik sampai kau manfaatkan kebaikannya. Ketika Dewa Kematian menerima kartu kematian seseorang, ia akan menempelkankannya pada bingkai foto yang akan diambil rohnya. Suatu keanehan terjadi sampai aku menaburkan bubuk bidara. Bubuk ini bisa melepaskan sihir yang melekat pada kartu. Setelah dipikir-dipikir untuk apa Ankou melakukannya? Apa karena roh itu adalah roh kekasihmu? Jangan kaget jika akupun tahu karena aku adalah Dewa.”
Maaf sudah membohongimu. Ini demi kebaikanmu sendiri. Kau harus siap akan yang namanya kehilangan, Alpha.
Dua pengawalnya menyeret Alpha ke ruang yang sangat gelap, jauh dari kata kehidupan. Ankou yang lewat langsung menghampiri mereka. “Kalian mau membawanya kemana?”
“Ankou sudahi saja dramamu itu. Kau menukarnya dengan yang palsu kan tadi malam? Kalian berdua duluan saja. Aku ingin berbicara dengan Ankou.” Dua pengawalnya terus menyeret Alpha. Ankou kebingungan melihat ke arah Alpha kemudian Dewa Kematian.
“Ini kartu yang kau berikan jika ditaburi dengan bubuk bidara akan menjadi kartu biasa. Kau sudah mulai kuat sekarang tapi kau menggunakan kekuatan untuk hal pribadi. Tenang saja atas pertimbanganku aku akan menghukumnya sedangkan kau tidak.”
“Tapi aku juga ikut andil?”
__ADS_1
“Lebih tepatnya ini keputusan Dewa Api bukan aku. Ia akan dihukum menjadi Dewa yang tidak memiliki wujud dan ingatan. Dia akan terjebak dalam kehampaan. Dunia yang tidak pernah ditinggali oleh Dewa sekalipun. Aku tidak tahu butuh berapa ratus tahun akan berakhir. Jangan pernah berpikir Dewa itu kejam.”
Tubuh Ankou lemas. Dia terjatuh karena ketidakberdayaannya. Melihat sahabatnya dihukum membuatnya menangis, terus menangis hingga terangnya pagi berubah menjadi malam.
250 tahun kemudian
“Pak Albert, istri anda sudah melahirkan seorang putri dengan selamat. Anda bisa melihatnya jika anda mau. Karena setelah ini akan dipindahkan ke ruang khusus.”
“Saya ingin lihat dan langsung memberi nama.”
“Baik, silahkan masuk.”
10 tahun kemudian
“Ibu, aku mau main ke taman dekat komplek. Nanti saja ya makan siangnya.”
__ADS_1
“Ini kan sudah jam makan siang. Nanti kamu sakit loh. Emangnya kamu mau main sama siapa di sana?”
“Sama Susan. Dia udah tunggu di depan rumah soalnya.”
“Susan?”
Setahu Grace tidak ada anak di sekitar komplek yang bernama Susan. Karena penasaran akhirnya ia mengikuti anaknya ke depan.
“Itu dia.” Sambil menunjuk sesuatu yang tidak terlihat. Grace bingung apa yang ditunjuk oleh anaknya. Ia tidak melihat siapapun. Hanya ada tanaman di depan rumahnya. Sadar akan itu Grace menasehati Ana untuk makan dan menyuruh Susan untuk pergi. Ana menuruti perintah ibunya walaupun sebenarnya ia lebih memilih untuk bermain.
Kejadian tadi siang ia ceritakan pada suaminya, Albert.
“Sayang, aku sudah tidak tahan lagi melihatn Ana yang selalu bisa melihat hal-hal di luar itu. Apa lebih baik kita bawa ke orang pintar ya? Aku takut suatu saat kelebihannya itu menjadi dia dianggap anak aneh .”
“Baiklah, temanku ahli dalam hal yang berbau supranatural. Hari ini kau telpon gurunya bahwa Ana sedang sakit agar kita bisa membawanya besok ke rumah temanku. Aku akan telpon Robert.”
__ADS_1
Ana mendengar percakapan ayah dan ibunya. Bermaksud ingin memamerkan nilai ujian matematika, ia mengurungkan niat dan kembali ke kamarnya. Ia berbaring di tempat tidur, melihat langit atap-atap sambil merenung.
BERSAMBUNG