
Di lorong kampus pertemuan dua insan tak diinginkan terjadi. Para gadis yang iri dengan Ana terus berbisik sepanjang ia melangkah. Karena pria idaman yang menjadi incaran para gadis kampus semua mendekat ke arah Ana. Alpha yang sadar akan hal itu langsung menelpon Ana untuk datang ke sebuah ruangan rahasia. Ia memberi petunjuk Ana berupa jalan menuju ke sana.
“Aku baru tahu kampus sebesar ini punya jalan dan ruang rahasia. Sepi sekali aku jadi takut.”
“Tidak perlu takut...” Alpha muncul di belakang hingga membuat Ana terkejut.
“Kau...da-dasar.”
“Aku mendengar kau menjadi perbincangan hangat di pagi ini karena aku dan Ankou. Ternyata kau sudah bertemu dengan dia.”
Ana melipat kedua tangannya di dada. “Lebih baik kau temui temanmu itu. Aku merasa kasihan karena ia tidak punya teman di sini. Jadi...” perkataan Ana dipotong oleh Alpha.
“Aku akan menemuinya setelah membahas ini denganmu. Waktu itu aku pernah mengatakan akan membuat kenangan yang indah bersamamu sebelum aku meninggalkanmu. Aku....”
“Ketika aku mendengar hinaan itu ingin sekali aku tidak memperdulikannya. Namun aku tetap harus mendengar hingga telingaku panas. Aku sudah membuat keputusan, kau tidak perlu repot-repot membuat kenangan indah bersamaku. Anggap peristiwa yang lalu sebagai bonus dariku. Aku ingin lepas dan melupakanmu. Menjadikanmu sebagai sahabat terbaikku, hanya itu.”
“Itukah permohonanmu?” tanya Alpha untuk meyakinkannya.
__ADS_1
“Iya cukup bertindak begitu agar tidak ada yang saling tersakiti. Aku pergi dulu.”
Ana meninggalkan Alpha yang masih tetap berdiri di posisi yang sama. Ketika akan membuka pintu Ana kaget akan kehadiran Ankou yang berusaha ingin membuka pintu juga.
“Kau mengapa bisa di sini? Bukannya kau tidak tahu jalan kampus?” tanya Ana.
“Seharusnya aku yang bertanya begitu. Ah aku lupa kan kau ke sini pasti karena orang itu. Aku mau lewat, permisi.”
“Hey kau belum menjawab pertanyaanku tadi.” Ana menghalanginya agar tidak pergi.
Ankou melewatinya begitu saja setelah menjelaskannya pada Ana. Ia merasa seperti dipermainkan oleh dua pria sekaligus. Tidak peduli ia pergi dengan wajah kesal. Keluar dari jalan rahasia ia terus ditatap sinis seisi kampus. Baru di semester satu ia mendapat hinaan bagaimana dengan semester lainnya. Menjengkelkan, pikirnya.
“Kau mengundangku ke sini untuk apa?”
“Tidak usah basa-basi. Selanjutnya apa rencanamu? Siapa yang memasukkanmu hingga bisa masuk ke kampus ini? Ternyata kolegamu banyak, ya?”
“Kau sama seperti Ana. Terlalu banyak tanya.” ujar Ankou berputar menegelilinginya.
__ADS_1
“Aku mendengar percakapanmu dengan Ana walaupun aku berada jauh dari kalian. Kau ingin berpisah tetapi kau sulit melepaskannya. Kau itu aneh bung.” ejek Ankou. Ingin membalas namun perkataannya terpotong.
“Daripada kau emosi tidak jelas lebih baik pikirkan kau yang akan menikah sebentar lagi dengan Helene. Aku mendukung rencanamu karena itu aku ada di sini. Anggap ini bantuan dari seorang sahabat. Jangan salahkan aku jika kau akan menyesal.”
“Maksudmu apa?” Alpha bingung dengan kata menyesal. “Aku meninggalkan Ana demi kebaikan kami berdua dan aku berusaha untuk ikhlas jika ia akan dekat dengan pria lain.”
“Baik aku pegang kata-katamu itu. Kau membiarkan Ana dekat dengan pria lain berarti aku boleh mendekatinya?”
Alpha menarik kemeja yang dipakai Ankou dengan kasar. Ia menatapnya dengan mata memerah. Ankou tidak bergeming sedikitpun dan malah mengatakan suatu hal yang membuat Alpha menjadi bertambah marah.
"Hei tidak ada tahu dengan takdir Ana. Jika aku berjodoh dengannya bagaimana?" tanya Ankou dengan nada meledek.
“Aku ingin dia dengan pria lain tapi kau pengecualian. Jangan pernah mencintainya atau terbesit suka dalam hatimu. Mengerti?” Alpha melepas kemeja yang ia tarik dan meninggalkannya dengan sebuah ancaman.
“Jika kau melakukan apa yang kau ucapkan tadi aku tidak tahu apa yang akan kulakukan padamu.”
BERSAMBUNG
__ADS_1