Terbatas Takdir

Terbatas Takdir
Bab 24: Anggota Baru Club (ABC)


__ADS_3

Alpha memarkirkan motornya dan menyuruh Ana untuk pergi bersama ke taman kampus. Semua mata memandang mereka tak terkecuali Helene. Mereka berbisik mengapa seniornya bisa berangkat bersama dengan Ana.


“Mengapa mereka jalan berdua?”


“Ana ternyata kenal dengan senior lebih dulu.”


“Aku bingung dengan senior. Apa kelebihannya? Padahal Helene lebih cantik dibanding gadis itu.”


Helene yang mendengar namanya disebut hanya terdiam sambil menatap seniornya. Tatatapan datar tertuju pada Ana.


“Semuanya, nanti kita akan berkumpul di sini lagi untuk diskusi setelah penyampaian para mentor. Kita ke aula sekarang.”


Tatapan tidak menyenangkan berhenti sementara. Ana yang menyadari hal itu hanya mampu menunduk.


Apa yang salah denganku? Mengapa mereka menatapku begitu? batin Ana.


“Bagaimana kabar kalian hari ini?” tanya salah satu mentor.


“Baik senior.”


“Aku senior kalian yang bernama Fobis akan menyuruh kalian untuk menghapal lagu mars fakultas kita. Nanti aku akan menyuruh satu diantara kalian untuk maju di depan.”


Semua bernyanyi tanpa menggunakan kertas syair. Ana yang terlihat tidak hapal di tarik tangannya oleh Fobis untuk maju.

__ADS_1


“Nyanyi lagu selanjutnya. Semuanya ayo bernyanyi.”


Para senior yang melihat Ana mengerutkan dahi. “Kau tidak hapal dengan lagu mars fakultas? Apa kau tidak mempelajari liriknya di rumah?” tanya Fobis.


Alpha langsung berdiri di samping Ana dengan membawa kertas yang berisi lirik lagu. Fobis tidak menegur temannya itu. Ia kembali ke tempatnya.


“Tidak usah lihat mereka. Lihat saja yang ada di depanmu.” Ana lega karena Alpha menolongnya. Acara bernyanyi di aula akhirnya selesai.


“Kau tidak melihat chat grup?” tanya Alpha.


“Sudah. Senior menyuruh kami untuk menghapal lagu tapi aku selalu lupa dengan liriknya.”


Apa Ana ada masalah? Menghapal sesuatu bukanlah hal yang sulit baginya. Aku tanyakan nanti saja.


“Sudah senior.” Jawab ketua tim, Dion.


“Kita di sini akan mendiskusikan mengenai proyek kecil tentang penanganan sosial. Tema bisa apa saja, kebersihan, pendidikan, teknologi. Terserah kalian mau yang mana. Aku sebagai mentor akan mengarahkan saja.”


“Teman-teman menurut kalian apa tema yang bagus kita angkat?”


Helene mengacungkan tangan. “Bagaimana jika mengangkat tema pendidikan? Aku akan mencari pembahasannya.”


“Wah, selain cantik tapi juga pintar, ya.” yang lain ikut memuji. Bahkan Ana kagum padanya.

__ADS_1


“Bahas lagi saja di grup chat, kita bicarakan di sana. Kemarin aku mengatakan pada kalian jika klub pena membuka angggota baru. Sebagai ketua klub aku ingin bertanya apa diantara kalian ada yang berminat?”


“Aku berminat.” Helene bersuara.


“Jika Helene berminat aku juga berminat.” kata Ken.


“Kau berminat masuk club karena Helene, bukan hobi?” tanya Alpha sambil bercanda.


“Saya....se-sebenarnya pernah menerbitkan satu novel.”


Ana tertegun. Ia coba mengingat apa pernah ia membaca buku dengan penulis bernama Ken. Ternyata benar, ia pernah membacanya yang berjudul “Caffeciato”. Teman kampusnya adalah salah satu penulis favoritnya.


“Saya ingin masuk klub pena. Saya ingin seperti Ken yang sudah pernah menerbitkan novelnya.” Ana tersenyum.


“Siapa yang ingin masuk klub lagi selain Helene, Ken dan Ana?”


Tidak ada satupun yang mengacungkan tangan. “Baiklah kalian boleh pulang, dan untuk Helene, Ken dan Ana ikut aku.”


Alpha mengantar mereka ke ruangan. Di sana banyak senior yang sibuk dengan deadline novel.


“Ini seperti bukan klub melainkan kantor penerbitan.” Ken kagum dengan ruangan luas dan rapi seperti kantor sungguhan.


“Selamat datang anggota baru.” Senior pria menyambut mereka. Tertulis tag name di bajunya, Fobis.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2