
#Kampus
“Wah, cantiknya. Siapa ya namanya?”
“Apa ada anak baru secantik itu selain Helene?”
“Aku belum pernah lihat gadis secantik dia.”
Semua terus membicarakan penampilan Ana hari ini. Gaun berwarna pink pastel dengan jaket lengan pendek juga make up korean style. Sangat cocok dengan anak muda. Alpha yang berpapasan tidak bisa berhenti melirik. Sampai ia terbentur pilar beton.
“Aww...”
“Kak Al? Mengapa sampai terbentur?” Ana melihat dahinya sedikit mengeluarkan darah.
“Hati-hati kalau jalan.”
Alpha meringis kesakitan, berdiri pun dipapah. Lukanya langsung diobati dan ditutup dengan plester. Untungnya Ana selalu membawa kotak P3K di tasnya.
“Kak nanti pulang dari kampus aku mau bicara berdua.”
“Bukannya kita selalu jalan berdua, ya?”
“Oh iya. Jangan lupa, kak.” Ana mengingatkan.
Alpha sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh Ana. Ia sudah memberikan jawaban yang pastinya akan menyulitkan keduanya. Tapi sebagai seorang pria ia harus tegas. Alpha sudah belajar dan memahami watak Ana di masa lampau maupun di masa sekarang.
Momen yang ditunggu pun tiba, Alpha mengajak Ana ke suatu tempat yang cukup jauh dari tempat tinggalnya yaitu pegunungan.
__ADS_1
“Aku ingin bicara tapi mengapa jaraknya sangat jauh dari rumahku? Kan bisa di cafe.”
“Aku juga ingin ada yang dibicarakan. Mungkin keputusanku bisa membuat kita bertambah dekat atau sebaliknya.”
“Hal apa?” tanya Ana penasaran. Ia tidak mengerti dengan tingkah Alpha yang menurutnya aneh dan juga gugup. Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan.
“Kau akan tahu setelah sampai di atas. Di sana pemandangannya indah juga menawarkan penginapan. Semuanya biar aku yang bayar.”
“Penginapan? Aku belum bilang orangtuaku.”
“Lihatlah ke arah samping. Bagus, kan?”
Hamparan hijau pepohonan, udara sejuk menusuk tulang, bunyi jangkrik sangat berbeda dengan suasana perkotaan. Ia kagum seketika.
“Iya aku suka. Tapi, kau sampai membawaku ke sini ....”
“Ana aku tahu setelah kau melihat memorimu di masa lampau, pasti kau akan membenciku. Aku patut dibenci Ana.”
“Memori apa yang kau maksud?”
Alpha memberi perintah. “Lihat mataku baik-baik.”
Yang pertama Ana lihat adalah sepasang lensa mata berwarna coklat. Menurutnya sangatlah indah, namun perlahan membuatnya hilang kesadaran.
Ana terbangun di tempat asing. Ia melihat dirinya sendiri memakai baju eropa klasik sedang menangis di kamar yang gelap. Di sanalah ia melihat Alpha. Ana terus memanggil namun semuanya terlihat seperti film. Tidak ada yang peduli bahkan Ana sampai berteriak.
__ADS_1
“Sebenarnya aku di mana? Mengapa gadis itu sangat mirip denganku?”
Kedua insan itu bertengkar yang membuat Ana paham jika mereka sepasang kekasih. Di pagi harinya ia melihat sebuah pernikahan mewah yang berakhir tragis. Tidak sampai disitu ia juga melihat Alpha yang ditarik paksa oleh seseorang yang ia tidak kenal.
Pria tersebut mendorongnya ke jurang yang akhirnya sosok itulah yang ia kenal sebagai Alpha. Dewa yang dihukum karena mencintai manusia. Ana tersadar dari masa lalunya. Ia memandang Alpha yang memasang wajah kaku dan tegas. Tidak ada senyuman yang selalu ia berikan.
“Alpha...” Ana membelai pipi Alpha namun tidak ada reaksi.
“Inilah yang ingin kubicarakan padamu, Ana. Aku takut di kehidupanmu yang sekarang kau juga jatuh cinta denganku sama seperti dulu. Sebelum rasa sukamu bertambah dalam aku membiarkanmu tahu hal ini. Aku tahu ini sangat mengecewakan.”
Ana menangis sejadi-jadinya. “Kau tahu bahwa aku menyukaimu?”
“Ya aku tahu bahwa itu yang akan kau utarakan sekarang. Maaf aku menolak.”
“Sangat menyedihkan. Mengapa di kehidupanku yang sekarang aku masih mencintai orang yang sama? Lalu untuk apa semua ini? Kau menyediakan penginapan, tempat dan pemandangan yang bagus, untuk apa? Sebagai kompensasi?”
“Dari memori ingatan yang kuberikan seharusnya kau tahu akan melakukan apa. Jika aku jadi dirimu aku akan habiskan waktu bersama....”
“UNTUK APA?? Tidak ada guna...”
Alpha menutup bibir Ana dengan bibirnya. Ia menolak ciuman itu sampai mereka terjatuh. Namun Alpha terus membungkam Ana dengan bibirnya, tidak memberi kesempatan.
Ana menangis, menerima nasib yang diberikan Dewa padanya. Ia terus menangis. Tidak tega Alpha kembali mencium Ana untuk menenangkan sampai langit berubah menjadi senja.
Ciuman yang menjadi awal atau tanda perpisahan. Entahlah, mereka yang menentukan.
BERSAMBUNG
__ADS_1