Terbatas Takdir

Terbatas Takdir
Bab 26: Kenangan


__ADS_3

“Bu aku pulang.”


“Eh ada Alpha juga.” Grace kaget akan kedatangannya.


“Permisi tante. Saya ke sini mengerjakan naskah karena anak tante masuk klub penerbitan.”


Grace yang mendengarnya langsung senang. Menurutnya ini perkembangan yang pesat karena Ana mau bersosialisasi. Ia langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan makan dan minum bagi keduanya.


Rumah itu tetaplah sama, tidak siginifikan berubah. Alpha melihat bingkai foto yang terpajang di dinding ruangan. Ia masih ingat betul foto itu diambil saat Ana berulang tahun sekaligus menjadi pertemuan mereka.


“Kamu tidak usah sungkan ya. Anggap rumah sendiri. Tante tinggal ke kamar, soalnya capek baru beres-beres rumah.”


“Tante istirahat saja. Tapi saya sampai sore apa tidak masalah?”


“Tidak masalah buat tante. Malahan tante yang tidak enak karena meninggalkan tamu.”


“Ibu tidur saja jika capek. Biar aku yang urus.”


Grace naik ke lantai dua menuju kamarnya. Sekarang hanya mereka berdua di dapur. Alpha mulai merasakan jantungnya berdegup.


Ayolah Alpha, bukan waktunya kau deg-degan.

__ADS_1


Ia berusaha tetap tenang dan untuk membuang rasa itu Alpha memilih menuju ruang belajar, mengeluarkan laptopnya.


“Ana aku ambil naskah di dalam tasmu, ya?”


“Iya Alpha ambil saja.”


Alpha mulai melihat lembar demi lembar untuk melihat kesalahan dalam pengetikan. Sangat teliti sekali. Ana yang sudah selesai membereskan piring di dapur segera membantu seniornya itu.


“Ini setengah dari naskah. Coba kau periksa setelah itu berikan padaku agar kuperiksa ulang.”


Mereka berdua serius sekali sampai tidak ada diantara mereka yang bicara. Di tengah kesibukan Ana yang melihat Alpha sangat serius rasanya ingin ia memfotonya. Sadar terus ditatap oleh Ana, Alpha meliriknya. Saat menengok Ana tidak sadar dilihat oleh Alpha.


“Apa sudah puas kau memandangku?”


Ya tuhan bagaimana aku sampai lupa diri? Aku benar-benar malu.


“Sudah selesai tugasmu? Sini biar aku cek.”


Alpha tersenyum bangga pada Ana. Tidak sia-sia Selena menyuruhnya. Tugas ini sangat cocok untuk Ana yang memiliki ketelitian tinggi. Ponsel Alpha tiba-tiba berdering dengan nama pemanggil di layar, Evan. Jelas saja karena Alpha tidak izin jika pulang telat.


“Kau sangat senang ya sampai tidak ingat rumah? ”

__ADS_1


“Aku ada tugas perbaikan naskah dengan juniorku.”


“Juniormu itu pasti Ana, kan? Ya sudah aku hanya ingin berpesan bahwa nanti aku akan pulang malam. Aku ingin ke rumah Joana. Kau bawa kunci cadangan bukan?”


“Aku bawa.”


“Bersenang-senanglah. Ingat jangan terlalu dekat.” Alpha mengingat kembali kalimat itu “Jangan Terlalu Dekat”. Ya, dia hanya boleh mencintai bukan memiliki.


“Aku ingin bertanya padamu Ana. Mengapa tadi kau tidak ingat dengan lirik lagu fakultas? Setahuku dari sifatmu yang sangat teliti itu aku pikir kau tipe orang yang mudah mengingat suatu hal.”


“Aku hanya banyak pikiran saja. Karena baru pertama kali ke kampus, aku terbawa perasaan sampai ke rumah. Aku selalu berpikir bagaimana dengan esok hari? Apa yang harus kulakukan ketika bertemu dengan yang lain. Seperti senior tahu...”


"Bicara tidak formal saja."


“Seperti kau tahu aku sangat tertutup sekali dengan lingkungan. Itu yang menghambatku untuk mengingat sesuatu. Aku terlalu memikirkan hal yang tidak penting.”


Mendengar penjelasan Ana akhirnya ia mengerti bahwa ia tidak pernah berubah. Dia memang pintar tetapi terlalu khawatir pada diri sendiri.


Alpha tersenyum. “Jika kau perlu bantuan untuk mengurangi beban pikiranmu hubungi aku.”


Selain tampan ternyata dia sangat baik.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2