
Alpha terduduk lemas mendengar penjelasan Robert. Ana menutup mata batinnya dan karena itu ia juga akhirnya lupa dengan Alpha.
“Maaf Alpha aku mengerti perasaanmu namun aku tidak bisa menampik jika temanku tidak ingin anaknya dianggap aneh. Kau pelan-pelan melupakannya, ya?”
Alpha pergi begitu mendengarnya. Ia tidak menghiraukan teriakan Robert untuk menenangkan diri. Tiba-tiba awan gelap entah darimana dengan cepat menghapus langit biru.
Petir menyambar, sangat menakutkan. Alpha duduk di kursi taman ditemani hujan. Mencerna kembali kalimat yang menyuruhnya untuk melupakan Ana.
“Mengapa bisa sesakit ini? Padahal ia hanya gadis kecil.”
Pria muncul mendekati Alpha sambil membawa payung hitam. Alpha menyadari karena hujan yang tidak jatuh ke tubuhnya.
“Kau di sini rupanya?”
Alpha terkejut pria pemilik toko ternyata bisa melihatnya. “Kau...bisa melihatku?”
“Ya, kau basah kuyup. Tidak pulang?”
“Aku...tidak ingin pulang.”
“Kau tinggal dengan siapa?”
“Ah..aku tinggal dengan Ankou. Kau pasti kenal karena bertemu di toko.”
__ADS_1
“Kau patah hati?” dia menebak.
“Hhmm..aku juga bingung karena ini pertama kalinya. Sebelumnya tidak.”
“Boleh aku menawarkan diri menjadi tempat curhatmu. Kau terlihat dilema. Pasti dia sangat cantik, kan? Buktinya kau sampai tergila-gila. Kau bisa geser, aku ingin duduk.”
Alpha mempersilahkan orang itu duduk di sampingnya. Ia merasa nyaman, tidak seperti ia bertemu dengan Robert atau Ankou dulu.
“Dia...hanya..ga-gadis kecil.”
“Apa? Oh perkenalkan diriku dulu, Evan J.”
“Evan J?” ia teringat dengan penulis buku cerita yang pernah dibacanya. “Kau benar Evan J? Apa kau seorang penulis?”
“Aku pernah membaca karyamu. Sangat fantasi. Aku pernah mengingatkan Ana untuk tidak perlu membacanya karena kisahnya terlalu rumit untuk anak kecil.”
“Itu bukan fantasi tapi kisah nyata yang kuambil dari pengalaman hidup manusia. Banyak pertentangan dalam hubungan mereka, sehingga aku tertarik menuangkannya dalam karyaku.”
Evan menatap kasihan ke arah Alpha. Ia kemudian berdiri untuk pergi. Sebelum kepergiannya ia berpesan...
“Aku tidak tahu kisahmu dengan Ana bagaimana, aku hanya menasehatimu untuk terus ada di sampingnya walaupun jarak itu sudah jauh. Sesakit apapun dirimu tetap jaga dia. Aku khawatir akan banyak tangan yang akan menyentuhnya.”
“Maksudnya? Kau tahu darimana?"
__ADS_1
“Senang berkenalan denganmu. Ternyata selain kau keras kepala, kau juga baik. Berhati-hatilah dengan apa yang di depanmu. Sampai jumpa.”
Kemudian ada yang meneriaki namanya.”Alpha, sedang apa kau di situ? Buat aku cemas saja.”
Baru ia menengok ke arah Ankou tidak sampai semenit pria itu menghillang. Alpha bingung apa ada manusia yang sangat cepat untuk lenyap dari pandangan.
“Mengapa kau hujan-hujanan. Aku tadi ditelepon oleh Robert. Karena khawatir ia menyuruh aku mencarimu.”
“Kau tidak bekerja?”
“Aku baru selesai mengajar. Siang nanti aku akan mengajar lagi. Ayo, kita pulang dan aku tidak ingin kau sakit. Repot karena jika kau sakit aku harus membawamu ke mana?”
“Aku ingin sendiri. Tinggalkan aku di sini. Jangan memaksaku untuk pulang.”
“Alpha, kau boleh sedih tapi tidak boleh menghentikanmu untuk maju. Robert menceritakan tentangmu dan Ana. Aku berkesimpulan kau memang harus melupakan....”
“BERHENTI UNTUK MENYURUHKU LUPA.”
Alpha pergi sangat cepat agar Ankou tidak bisa menemukannya. Tentu saja ia tidak tinggal diam. Ankou pun mengejarnya.
Sepertinya ada yang butuh bantuan.
Cahaya putih menyelimuti tubuh Alpha dan membuat ia tak sadarkan diri. Ankou yang mengejarnya kesulitan akibat jejak Alpha yang hilang.
__ADS_1
BERSAMBUNG