
“Ana? Pagi-pagi kau sudah ada di club. Kau tidak ada kelas?” Selena menyapa Ana.
“Ada kak tapi di jam 10. Oh ya kakak juga sepagi ini di ruangan. Apa ada yang perlu ku bantu.” Ana mendekatkan tempat duduknya ke kursi Selena.
“Nanti akan ada penulis baru yang akan bekerjasama dengan kita. Kalau tidak salah nama penulisnya Arka. Tapi itu hanya nama samaran. Besok kita akan bertemu dengan dia.”
“Wah, saya sudah tidak sabar mengedit novel kedua.”
“Untuk kali ini kau tidak menjadi pengedit....”
Ana tertegun mendengar seniornya mengatakan jika ia tidak menjadi editor melainkan penanggung jawab penulis. Sontak saja Ana kaget. Ia baru saja bergabung dalam ekskul tersebut namun ia diberi kepercayaan sebesar ini.
“Aku memberi tugas ini padamu bukan karena kau berteman dengan Alpha seperti semua orang menggosipkanmu.” ternyata kabar itu didengar juga oleh seniornya. Jelas saja karena mereka satu kampus.
“Aku lihat hasil kerjamu bagus juga kau punya banyak referensi atau ide yang bisa dikembangkan dalam sebuah cerita agar itu hidup. Selain itu kau mendengarkan pendapat dan komentar dari para pembaca sehingga kau segera memperbaikinya. Itulah penilaianku, selamat.”
Ana sangat senang karena ini pertama kalinya menjadi penanggung jawab seorang penulis akan tetapi ia tidak enak dengan Helene yang selalu diberi tugas menjadi penanggung jawab.
__ADS_1
Selena menjelaskan bahwa Helene tidak bisa karena sedang menjadi penanggung jawab penulis yang lain sehingga ia meminta tolong.
“Aku awalnya menyerahkan tugas ini pada Helene. Entah kenapa ia menolak dengan alasan menjadi penanggung jawab penulis lain. Padahal ia bisa mengerjakan dua sekaligus.”
Ana teringat akan pernikahan Helene dengan Alpha yang akan berlangsung beberapa bulan lagi. Mungkin ini yang membuatnya kerepotan untuk mempersiapkan pesta.
“Sepertinya dia ada kesibukan lain. Jam berapa besok saya bisa menemuinya?”
“Oh dia menitipkan nomor teleponnya padamu. Aku sudah mencatatnya dalam kertas ini. Kau bisa membaca hardcopynya.”
Ana membuka amplop berwarna coklat yang diberikan. Ia mengambil naskah tersebut dan membacanya. Setelah itu ia merasa seperti membaca kisah hidupnya sendiri. Tidak asing dan benar-benar mirip.
“Wah kau sudah membaca ceritanya sampai akhir?”
“Iya dan aku sudah bisa menyimpulkan seperti apa cerita ini berakhir. Apa karena cerita yang terlalu biasa atau serupa dengan kisah hidup seseorang?”
“Tugasmulah merundingkan ini dengan penulis agar novelnya laris di pasaran. Aku juga akan membantu jadi kau tak perlu khawatir.” Selena memberi dukungan pada juniornya itu.
__ADS_1
Tiba-tiba perbincangan mereka terputus akan kehadiran Helene. Ana yang melihatnya menjadi canggung karena sebentar lagi mantan kekasihnya itu akan mejadi milik orang lain.
“Helene kebetulan sekali kau datang. Kau kan sudah berpengalaman dalam hal pertanggungjawaban penulis, bisa tidak kau ajarkan juga pada Ana. Ini pengalaman pertamanya.” pinta Selena.
“Bisa saja.” jawab Helene dingin.
“Baiklah kalau begitu. Aku keluar dulu ya karena aku ada kelas. Bye~”
Sekarang di ruangan hanya tinggal mereka berdua. Untuk memecah kesunyian Ana memberanikan diri berbicara duluan. “Aku ingin bertanya mengenai.....”
“Kau berbohong padaku. Aku ada bertanya padamu apa kau punya hubungan dengan Kak Alpha? Kau mengatakan tidak yang ternyata kau adalah reinkarnasi dari kekasihnya terdahulu. Aku sangat sedih mendengar hal itu.”
“Bagaimana denganku? Apa kau tidak memikirkannya? Di sini bukan hanya kau yang sedih aku pun sama. Betapa kecewanya aku dengan takdir yang mengatakan bahwa kami tidak akan pernah bersatu. Sekian lama untuk bertahan, sekian lama untuk menunggu dan sekian lama untuk menemukannya yang akhirnya berujung perpisahan.”
Ana tidak bisa lagi menyembunyikan air matannya. Ia berusaha menutupi kesedihan yang tidak ingin dibagi dengan sebuah senyuman. Namun kesabarannya sudah habis sampai tumpah begitu saja.
“Kau tidak perlu sedih, kecewa apalagi cemburu karena aku sudah memutuskan untuk melupakan Alpha.”
__ADS_1
BERSAMBUNG