
“Kau kenapa?”
“Ah..tidak apa. Namaku Ana, salam kenal semuanya.” akhirnya hal yang membuatnya berdebar selesai. Rasanya ia ingin pulang saat itu juga.
“Silahkan selanjutnya.” gadis di samping Ana berdiri. “Namaku Helene, salam kenal.”
Semua anak berbising memuji kecantikan Helene tidak terkecuali Ana. Rambutnya yang bergelombang keemasan menambah aura karismatiknya.
“Selanjutnya....”
Semua selesai memperkenalkan diri, mereka diajak berkeliling dan kegiatan apa saja yang ada pada kampus. Ana tertarik untuk mengikuti kegiatan sastra karena ia selalu membaca novel. Kali ini ia berpikir untuk menjadi novelis.
Setelah berkeliling mereka diberi istirahat 1 jam oleh senior. Ana lebih memilih untuk menyendiri. Ia tidak suka menjadi pusat perhatian.
“Kau tidak bersama yang lain? Mengapa menyendiri di pojok taman?” ternyata senior Al terus melihat Ana karena selalu diam selama masa perkenalan.
“Ah, saya lebih suka disini.”
“Apa kau keberatan jika aku temani?”
“Tidak tapi aku lebih banyak diam. Saya takut jika senior bosan.”
Al tertawa dengan ucapan Ana. “Kau ini. Dulu aku punya sahabat yang sepertimu. Dia sangat pendiam, tidak mau bergaul. Tapi aku tipe yang sangat ramah pada orang lain hingga sahabatku nyaman denganku. Boleh aku menjadi temanmu?”
“Boleh.” Ana tersenyum.
“Apa aku ini teman pertamamu di kampus?”
__ADS_1
Ana menganggukan kepalanya. Di dalam hatinya, akhirnya ia punya teman. Mereka berbicara diselingi tawa yang tidak terasa 1 jam mereka habiskan waktu bersama.
“Senior, apa aku boleh minta nomor teleponmu? Aku ingin tahu lebih dalam mengenai kampus.”
“Kau junior pertamaku yang meminta nomor telepon. Baiklah mana ponselmu?”
Ana memberikan ponselnya. Al terlihat menekan nomor telepon dan ia memasukan dengan nama kontak Alpha.
“Alpha?”
“Ya itu nama lengkap depanku. Ayo, kita berkumpul sekarang.” Al berjalan duluan diikuti Ana.
“Baiklah untuk hari pertama kalian cukup sampai di sini. Besok jam 6 pagi kalian harus sudah berada di kampus. Mengerti semuanya?”
“Mengerti senior.”
Semua langsung membubarkan diri untuk pulang. Ana pergi menuju gerbang untuk memanggil taksi. Namun tak satupun taksi yang berhenti. Akhirnya ia memutuskan berjalan kaki menuju pemberhentian bus.
“Kau sedang menunggu bus juga. Aku pikir kau dijemput.”
Ana terkejut dengan seseorang yang menegurnya di samping. Ternyata seniornya, Al.
“Iya, Ayah saya tidak bisa menjemput. Jadinya saya naik bus saja. Padahal tadi bermaksud naik taksi.”
“Jika di daerah kampus sedikit sulit menemukan taksi. Lebih baik naik bus saja. Jika kau berminat aku bisa membawa motor untuk memboncengmu.”
“Tidak perlu. Saya baru kenal senior tapi sudah merepotkan.”
__ADS_1
“Aku tidak merasa direpotkan. Di luar kampus kau boleh panggil aku Al.”
“Tidak masalah? Rasanya tidak sopan.”
“Untukmu pengecualian.” Ana tersipu mendengar ucapan itu. Ia seperti mendengar gombalan pria yang pernah ia lihat di TV. Menunggu sekitar 10 menit akhirnya bus berhenti di depan mereka. Al dan Ana duduk bersebelahan.
“Alamat rumahmu dimana?”
“Di jalan Mocca no.10.”
“Besok aku akan menjemputmu.”
“Tidak usah. Ayah saya bisa mengantar.”
“Di jam 6 apa bisa?”
Ana berpikir apa ayahnya bisa mengantar. Ia lupa jika besok harus berangkat lebih awal.
“Aku bicarakan dengan Ayah dulu.”
“Silahkan.”
Rumah Al lebih jauh dari kampus sehingga Ana keluar dari bus lebih dulu. Setelah Ana tidak ada, Al tersenyum puas sambil memegang ponselnya. Ia sengaja memotret tanpa sepengetahuan Ana. Ia ingin menyimpannya.
Senang bertemu denganmu lagi, Ana.
BERSAMBUNG
__ADS_1