
“Ibu dan Ayah sampai khawatir karena aku. Apa aku aneh? Mereka saja yang tidak bisa melihat apa yang aku lihat.”
Seorang pria dewasa mengelus rambutnya agar Ana tidak kesal lagi. Ia selalu berada di samping Ana setiap saat. Namun, tetap hanya Ana yang bisa melihatnya.
“Aku tidak aneh kan, Alpha.”
“Iya kau tidak aneh. Suatu saat pasti mereka mengerti.”
Akhirnya Ana tertidur dalam pelukannya. Ia tetap mengelus rambut Ana agar lebih terlelap tidur. Kehidupan yang sepi akhirnya terhenti sementara ketika ia tahu akan tugasnya. Namun ia tidak tahu akan masa lalu yang membuatnya menjadi hantu.
“Aku akan terus menjagamu sampai kau tidak ada di dunia ini lagi. Aku berjanji.”
Pagi hari
“Ana, hari ini ibu akan ajak kamu ke rumah temannya ayah. Ibu sudah izin dengan gurumu. Selepas makan ganti bajumu dengan baju jalan saja.”
“Iya.”
__ADS_1
Ana tentu tidak kaget karena sudah mendengar percakapan ayah dan ibunya tadi malam. Hantu yang berada di sampingnya menatap kasihan pada Ana. Andai ia bisa menampakkan wujudnya. Sepertinya itu pemikiran yang membuat suasana menjadi runyam.
“Ana tidak usah khawatir. Teman ayahmu tidak akan bisa mengusirku.”
Sesudah sarapan, Ana mengganti pakaiannya dan bersiap untuk berangkat.
“Ayo Ana. Kenapa kamu malasan-malasan begitu? Cepat masuk mobil.”
Ana tidak menjawab perintah ayahnya. Ia terus menuruti sampai akhir perjalanan. Ketika sudah sampai Ana merasakan aura yang sangat pekat dari rumah yang mereka datangi. Sempat Ana berjalan mundur namun langkahnya tertahan oleh ayahnya. Kemudian pemilik dari rumah itu keluar dan melihat langsung Ana tanpa berbicara dengan Albert. Ada 1 menit ia melihat Ana, ia langsung mempersilahkan mereka masuk ke rumahnya.
“Kalian tidak perlu khawatir dengan anak kalian...” Robert berkata sambil berjalan untuk duduk.
“Baiklah...” Robert kembali menatap Ana. Lebih tepatnya ia sedang berkomunikasi dengan makhluk yang berada di samping Ana.
“Kalian boleh pulang.”
“Apa? Pulang? Itu saja? Lalu apa Ana akan berbicara dengan hal-hal yang tak nampak lagi?”
__ADS_1
“Akan aku ceritakan lewat telepon saja. Intinya kalian berdua tidak perlu terlalu khawatir. Sisanya biar aku yang bereskan. Percayakan padaku.”
Albert dan Grace tetap merasa cemas namun karena temannya mengatakan seperti itu, ia memilih untuk percaya dengan kata-kata Robert. Ana mengikuti orangtuanya di belakang kemudian ia menoleh pada Robert. Sadar ia dipandang oleh gadis kecil itu, ia menganggukkan kepala tanda akan baik-baik saja.
“Mereka semua sudah pergi. Sekarang katakan semuanya padaku siapa dirimu dan darimana asalmu sekarang. Aku merasa jika kau bukan hantu awalnya karena energimu yang berbeda dengan mereka. Auramu sangat putih bersinar.”
“Entahlah...” masih dengan rasa takutnya.
“Katakan saja. Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Aku hanya ingin menyelesaikan permintaan temanku. Kenapa kau terus berada di samping anaknya?”
“Aku tidak tahu siapa aku. Aku....hanya tahu namaku. Jika aku berada di samping Ana itu karena akhirnya aku merasa tidak kesepian saja. Jika aku adalah hantu, aku tidak tahu apa penyebab kematianku.”
“Pergilah. Tidak baik terus-menerus ada di sampingnya. Mengapa ia bisa melihat hal-hal yang tak nampak itu karenamu. Lagipula jika kau berada di sampingnya, yang aku lihat adalah kesedihan diantara kalian.”
“Bagaimana kau tahu?”
“Aku indigo.”
__ADS_1
BERSAMBUNG