Terbatas Takdir

Terbatas Takdir
Bab 45: Kiss


__ADS_3

“Baiklah diskusi sampai disini dulu. Besok kita akan...”


“Sepertinya tidak bisa besok.” Ankou memotong perkataan Ana dan itu membuatnya bingung. Ekspresinya sangat tidak mudah ditebak. Ankou terus menunduk seperti takut namun ingin segera berbicara.


“Alpha mempercepat pernikahannya dengan Helene besok atas perintah Dewa Zeus. Aku mendengar langsung dari temanku.”


Ankou melihat Ana dengan tatapan tidak tega. “Kau tidak apa?”


“Mengapa sangat cepat bukannya beberapa bulan lagi?”


“Aku saja yang mendengar berita dari kayangan sangat kaget. Jika Dewa Zeus sudah memberi perintah kami tidak bisa memberontak.”


“Apa bisa kau mengantarkanku ke sana. Aku ingin melihat mereka menikah.” kalimat yang didengarnya membuat Ankou terkejut karena tidak mengira Ana melakukan itu. Menurutnya apa yang dilakukan Ana sangatlah bodoh, hanya menyakiti hatinya saja.


Jelas saja Ankou menolak. “Aku tidak akan membantumu untuk naik ke kayangan. Cari saja bantuan dari yang lain.”


“Aku mohon....” suara Ana sampai bergetar karena sambil menahan air matanya. Tidak tega akhirnya Ankou mengabulkan permohonan gilanya. “Baiklah aku akan membantumu. Tapi ingat jika kau sudah tidak sanggup jangan segan untuk memberitahu.”


“Aku janji. Antar aku ke rumah boleh?” tanya Ana.


“Aku antar kau ke rumahmu.”


Ankou menyetir mobil sambil sesekali melihat ke arah Ana. Ia hanya terdiam memalingkan wajahnya ke luar jendela. Tidak ingin menggangu Ankou hanya fokus untuk menyetir.


Di dalam mobil suasana sangat hening tidak seperti mereka pergi ke kafe, mereka hanyut dengan pikiran mereka masing-masing.


Sesampainya di rumah Ana, Ankou berkata akan menjemputnya besok jam tujuh malam. Ana hanya mengangguk tanpa berkata dan langung pergi ke kamarnya.


Ia menangis dalam diam agar Ibu dan Ayahnya tidak khawatir. Kemudian ia membongkar lemari dan mengambil semua barang yang pernah diberikan Alpha. Ana menaruhnya di dalam kardus agar masa lalunya bersama Alpha tidak tergiang di dalam otaknya.


Keesokan Harinya


“Ana...”

__ADS_1


“Cepatlah bawa aku ke pesta setelah itu antar aku pulang segera.”


Ankou tidak berani membantah dan langsung mengaktifkan portal. Sejenis pintu masuk sihir bagi kaum Dewa untuk bolak-balik antara kayangan dengan bumi. Di balik istana terdapat taman yang sudah dihiasi dengan lampu kelap-kelip serta bunga mawar kesukaan Putri Helene.


Suasana meriah yang berbanding terbalik dengan kedua calon pengantin. Alpha dan Helene tidak saling pandang namun mereka seperti artis profesional yang melakukan adegan dengan sempurna.


Ana dan Ankou yang baru saja sampai melihat sandiwara mereka sangatlah terpukul. Kedatangan mereka bertepatan dengan dimulainya penobatan untuk menjadikan Alpha dan Helene sebagai sepasang pengantin.


“Baiklah kita mulai penobatanya. Putra dari Dewa Hefaistos yaitu Alpha bersediakah kau menerima Putri dari Dewa Zeus, Helene sebagai istrimu dalam suka dan duka hingga kematian memisahkan kalian?”


Sangat lama Alpha menjawab hingga akhirnya... “Aku bersedia menerima Helene, Putri Zeus sebagai istriku.”


“Putri dari Dewa Zeus yaitu Helene bersediakah kau menerima Putra dari Dewa Hefaistos, Alpha sebagai suamimu dalam suka dan duka hingga kematian memisahkan kalian?”


“Aku bersedia menerima Alpha, Putra Hefaistos sebagai suamiku.”


Setelah penobatan mereka berciuman di depan para tamu. Air mata Ana langsung jatuh seketika. Ankou kemudian menggenggam erat tangannya sebagai bentuk ia memberikan kekuatan.


Alpha memohon padanya untuk ia bisa pergi keluar sebentar. Terlihat dari raut wajah Helene yang sangat sedih ketika suaminya masih mengejar mantan kekasihnya.


“Ana cepat masuk ke portal. Aku merasa Alpha mengejar kita.”


“Tidak perlu. Aku hanya ingin ia melihat adegan kita saat ini. Aku merasa nyaman di dekatmu karena itu aku berani melakukan ini.”


“K-kau...”


Bibir yang lembut dan manis menyentuh bibir Ankou secara tiba-tiba. Ia terkejut karena belum siap menerima cumbuannya. Perlahan ciuman tersebut makin dalam dan Ankou merasa ada lidah yang ingin menembus pertahanannya. Sudah tahu apa yang harus ia lakukan, Ankou mendekap Ana dalam pelukannya yang hangat.


Langkah kaki yang tadinya sangat cepat melangkah kemudian terhenti dan berbalik setelah melihat dua insan yang saling memadu kasih di tengah malam yang indah.


Rasa marah, menyesal, sedih, ketakutan semua menjadi satu. Tak ada yang bisa diselamatkan lagi. Cerita cinta Ana dan Alpha telah usai.


Ankou yang merasakan tidak adanya aura Alpha di sana mulai melepaskan bibirnya perlahan. Air mata Ana tidak berhenti menangis dari mereka berciuman. Ankou yang tak tega kemudian mengantar Ana untuk sampai ke rumah. Namun Ana memilih mencari tempat yang menurutnya bisa membuatnya tenang.

__ADS_1


Mereka pergi ke pantai lewat jalur portal. Angin pantai yang dingin bercampur air yang tenang benar-benar bisa membuat Ana sedikit tenang. Ia terus menatap ke arah depan pantai. Ankou yang berada di samping juga melakukan hal yang sama.


“Terima kasih sudah mau menemaniku. Padahal aku adalah orang lain dalam hidupmu.” ucap Ana dengan segan.


“Aku bukanlah orang lain bagimu. Menurutmu saja kita pertama kali bertemu. Sebenarnya tidak terhitung berapa kali. Hanya saja aku menghapus ingatanmu juga kedua orang tuamu.”


“Benarkah? Kapan kita bertemu?” tanya Ana antusias.


“Aku lupa waktu itu berapa umurmu. Tapi yang pasti saat kau kecil aku pernah menjadi guru lesmu walaupun akhirnya bosku yang mengambil alih. Namun setelahnya aku menjadi guru lesmu kembali.”


Ana tersenyum kecil mendengarnya. Ia tidak menyangka orang yang sempat membuatnya jengkel dan ketakutan karena terus mengawasi rumahnya kini menjadi sosok yang bisa diandalkan.


“Maafkan aku atas tindakanku yang tidak sopan tadi.”


Mengingat ciuman yang baru saja dilakukan kedua pipi Ankou berubah menjadi merah. “Apa yang telah aku lakukan. Aku terbawa suasana.” ia menutup mulutnya dengan tangan.


“Kau pernah jatuh cinta sebelumnya?” tanya Ana tiba-tiba.


“Tidak pernah sama sekali. Yang selalu kupikirkan adalah...Ahh yang selalu kupikirkan adalah mengurus kematian seseorang.” Ankou hampir saja membuat Ana menangis lagi karena hampir mengucapkan nama Alpha.


“Memangnya kenapa tanya begitu? Kau mau menawarkan diri jadi pacarku.”


“Jika kau bersedia aku mau.” jawab Ana tegas tanpa basa-basi. Ankou langsung menengok ke arah Ana karena menurutnya yang ia pikirkan sekarang adalah bentuk emosi belaka.


“Kau terlalu frontal. Aku bukanlah dia yang sangat fanatik akan hal cinta. Secinta-cintanya diriku pada seseorang aku masih rasional. Kau begini karena kau mau melampiaskannya padaku, kan? Aku tidak mau, aku menolak.”


Ana tersenyum licik dan mendekat ke arahnya. “Akan kubuat kau tahu akan arti cinta dengan seorang perempuan.” Ana mencium Ankou untuk yang kedua kalinya.


Ankou berusaha keras melepaskan ciuman itu namun itu tidak berhasil. Ada penolakan tak sejalan di dalam hatinya. Ia menatap Ana sangat tajam di tengah cumbuannya.


“Kau berbahaya Ana.”


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2