
“Kau mengapa menangis? Pasti kau habis putus dari pacarmu ya?” tebak Ankou yang sebenarnya tanpa diberitahu ia sudah mengerti.
“Iya aku putus dari Alpha karena sebentar lagi dia akan menikah. Aku mengikhlaskan dan kami tahu jika kami melanjutkan hubungan ini pasti akan berakhir menyakitkan. Oh ya apa kau ada waktu luang? Aku ingin membahas novelmu daripada dirundingkan besok.”
Ankou menanyakannya dengan hati-hati. “Apa tidak masalah dengan suasana hatimu? Aku takut akan mempengaruhi karyaku.”
“Aku baik-baik saja selama kau memutar lagu happy ending untukku. Ayo kita ke kafe dekat sini saja.”
Ankou menurutinya dari belakang dengan berat hati. Ia tahu hatinya pasti sangat sakit sekarang. Dalam hatinya ia bergumam mengapa ada perempuan sekuat dia. Mereka memesan jus mangga dan jus stroberi big.
“Kau memesan ukuran besar? Kau tidak kenyang?”
“Jika aku dalam keadaan sedih aku terbiasa minum jus ukuran besar sambil menulis. Jika kau sedang sedih kegiatan apa yang kau lakukan?” tanya Ana. Sedikit demi sedikit ia mulai merasa dekat walaupun tadi pagi mereka bertengkar.
“Aku suka merenung ke tempat yang sepi. Aku tidak ingin ada yang menggangguku. Jika aku merasa bahwa aku sudah tidak emosi aku akan menegur seseorang terlebih dulu.” jawabnya.
__ADS_1
Ana hanya menganggukkan kepalanya seakan mengerti. Kemudian ia kembali bertanya bagaimana akhir dari cerita yang Ankou buat. Mereka menikmati waktu diskusi ditambah kedua jus mereka yang sudah datang di meja.
“Kau mau akhir cerita yang bahagia atau sedih? Kalu aku tebak pasti akan berakhir sedih.”
“Darimana kau tahu?”
“Kau terlalu menutup diri saat kau marah, kesepian dan lainnya. Berdasarkan apa yang kulihat saat kau berbicara mengenai apa yang kau lakukan disaat sedih kau memilih untuk mencari tempat yang hening. Dari situ aku menarik kempulan bahwa kau akan membuat jalan cerita yang sedih dengan sedikit sentuhan romantis. Sehingga tidak terlalu mainstream.”
“Ternyata kau tipe orang yang suka menganalisa. Tebakanmu benar. Ini bacalah lanjutan naskahku di laptop.”
Ana sangat serius mengamati hasil ketikan penulisnya itu sampai jus yang ia pesan tidak tersentuh sama sekali. Ankou menempelkan jusnya ke pipi Ana. “Hey itu dingin.” ia mengelap pipinya yang basah dengan tisu.
Ana sampai lupa dengan jus-nya. Ia minum dengan sangat cepat karena memang cuaca di luar sangat terik. Ankou yang melihatnya tersenyum kecil akan tingkahnya. Ana yang memergoki Ankou langsung bertanya.
“Ternyata kau juga bisa senyum, ya?”
__ADS_1
“Soalnya kau itu lucu. Setelah aku mengingatkanmu dengan jusnya kamu langsung hampir menghabisinya. Minumanmu tinggal seperempat. Mau kupesankan lagi?”
“Iya aku sangat haus.” ucap Ana.
“Mbak pesan satu lagi jus stroberi ukuran besar.” Ankou memesan minuman untuknya yang kemudian bertanya bangaimana dengan hasilnya. “Menurutmu ceritaku bagus? Ada masukan?”
“Aku setuju dengan alurnya yang mungkin sedikit sedih tapi kau menambahkan nasib main character terdapat kisah happy setelahnya itu membuat reader-mu tidak terlalu kecewa.”
“Aku menulisnya karena aku yakin dibalik kesedihan ada kebahagiaan. Lalu apa suasana hatimu sudah membaik?” Ankou bisa merasakan gadis di depannya mulai tersenyum walaupun ada sedikit rasa sakit.
Ia memberikan earphone pada Ana dan menyuruhnya untuk mendengarkan lagu yang ia rekomendasikan. “Ini cocok untuk membangun hati yang sedih.”
“Benarkah? Coba kudengar.”
Ana mulai menikmati alunan musik dengan menjetikkan jarinya. Ia tersenyum ke arah Ankou yang duduk di seberangnya.
__ADS_1
“Kau memang mood booster-ku.”
BERSAMBUNG