
Di kayangan semua membahas perjodohan Alpha dan Helene sampai kabar itu terdengar oleh Ankou. Ia kaget karena selama ini terus mencari keberadaannya namun selalu tidak pernah bertemu.
“Kalian dapat kabar ini dari mana?” tanya Ankou pada salah satu Dewi.
“Aku mendengarnya langsung dari Dewa Hefaistos dan Dewa Zeus.”
Ankou yang mendengar langsung berlari mencari Dewa Hefaistos ke istana timur. Tidak ada disana, yang ia temukan hanya Dewi Artemis.
“Dewi aku sungguh lancang berlari tanpa izin terlebih dulu. Tapi bisakah aku menemui Dewa Hefa?”
“Kau kenapa terburu-buru?”
“Banyak yang mengatakan bahwa Alpha akan dijodohkan dengan putri Dewa Zeus. Apa itu benar? Selama bertahun-tahun aku mencari namun tidak menemukannya. Dimana ia tinggal?”
Dewi Artemis menghembuskan nafas berat. “Alpha memakai kekuatan sihir di seluruh tubuhnya. Itu mengapa kau tidak pernah ingat walaupun kau berpapasan dengannya. Dia tinggal bersama Dewa Eros.”
“Dasar bedebah itu.”
“Ankou dia seorang Dewa. Kau tidak boleh berkata kasar.”
“Memang benar kan dia bedebah. Pasti dia dalang dari semua ini.” Ankou meluapkan kemarahannya pada Dewi Artemis.
“Aku yakin dengan Dewa Eros. Terbukti Alpha memilih Helene dibandingkan Ana.”
“Apa?”
“Iya, Alpha memilih perjodohan ini. Sebelum mereka menikah Alpha menghabiskan waktu bersama Ana. Ia ingin meninggalkan kesan yang baik padanya.”
Ankou bertanya dengan nada tidak percaya. “Apa tidak masalah membiarkannya bersama Ana? Aku takut hal itu terjadi lagi.”
“Alpha sangat mencintai Ana namun ia juga sudah belajar dari kesalahan. Jangan khawatir. Setelah mendengar semua ini aku sarankan kau mendatangi Dewa Eros. Aku merasa ia ingin mengatakan pesan padamu.”
“Dewi tahu dari mana jika dia ingin menemuiku? Terus terang aku selalu menaruh curiga.”
__ADS_1
“Datangi saja dia.”
“Baiklah.”
Sebenarnya Ankou paling malas berurusan dengan Dewa yang sok selalu mengatur percintaan manusia walaupun memang itu tugasnya. Di perjalanan ia menemukan Ana dengan Alpha sedang membeli minum di minimarket. Mereka berpapasan tidak saling menegur.
Aneh dilihat dari reaksinya mengapa ia setenang ini setelah perdebatan waktu itu?Batin Alpha.
Selepas membeli minuman Ankou meninggalkan mereka seperti tidak melihat. Alpha kemudian mengantar kembali Ana ke rumahnya. Di dalam mobil Ana menegurnya karena Alpha terlihat seperti berpikir keras.
“Kau kenapa?”
“Kau ingat pria yang tadi di depan kita saat di kasir? Dia teman lamaku, Ankou.”
“Benarkah? Aku baru ingat.” Ana membelalakkan matanya.
“Anehnya ia seperti tidak mengenalku. Sebelumnya aku pernah bertengkar.....” Alpha menutup mulut dengan telapak tangannya. Ia keceplosan.
“Di-dia pria yang beberapa hari terus mengawasi rumahmu. Sepertinya ia bertingkah begitu karena mencariku.”
“Mengapa dunia ini sempit? Antar aku pulang segera. Aku tidak enak dengan Ayah dan Ibuku.”
Alpha kembali mengendarai motornya menuju rumah Ana. Sesampainya di sana ia memberi tahu Ana jika sihirnya akan hilang 30 menit dan membuat alasan jika Ibu atau Ayahnya tiba-tiba bertanya.
Ana langsung masuk ke rumah dan pergi ke kamarnya untuk ganti baju. Grace yang melihat anaknya turun dari kamar langsung menegur.
“Kapan kamu pulang, sayang? Kok Ibu tidak melihat kamu masuk?”
“Ah i-itu hanya perasaan ibu.” Ana tidak tega membohongi Ibunya tapi jika tidak begitu ia tidak bisa menghabiskan waktu dan tahu masa lalunya.
#Rumah Eros
Tok...Tok...Tok
__ADS_1
“Hei kau kemari rupanya?”
“Tidak perlu basa-basi. Katakan apa yang ingin kau katakan. Aku muak denganmu.”
“Tenanglah terlebih dulu, masuklah.” Eros mempersilahkan Ankou.
“Dewi Artemis menyuruhku ke sini. Jika bukan suruhannya aku tidak akan mau.”
Eros menatapnya dengan serius. “Pasti banyak pertanyaan di dalam kepalamu, aku akan menceritakan satu persatu. Pertama mengapa ia memakai sihir di seluruh tubuhnya agar kau tidak terus-menerus mencarinya. Kedua ada yang lebih penting dari itu dan Alpha sudah tahu akan takdirnya dan juga Ana.”
“Apa yang lebih penting?”
“Cinta Alpha dan Ana ada kaitannya dengan dirimu. Kau akan mengerti setelah menjalaninya.”
Perbincangan mereka terhenti ketika Alpha datang. Ia kaget karena Ankou berada di depannya sedang berbicara serius dengan Eros.
“Kau...”
“Permisi, aku undur diri dulu.”
“Ah aku hampir lupa menawarkan minum.”
“Tidak perlu karena aku takut kejadian di cafe terulang akibat aku meminum kopi yang kau beli.” sindir Ankou.
“Selalu menaruh curiga.”
Kepergiannya tanpa meninggalkan suara. Kedua kalinya Ankou tidak menghiraukannya. Apa persahabatan mereka berakhir seperti ini?
“Apa dia sudah tahu?” tanya Alpha.
“Ya dia tahu semuanya dariku dan Dewi Artemis. Tapi tidak dengan takdirnya.”
BERSAMBUNG
__ADS_1