
Sebelum pesta pernikahan
Ankou menuju istana bagian barat dengan hati tak tenang. Ini pertama kali baginya melakukan suatu kesalahan fatal bagi kehidupan manusia. Ia harus berbohong demi sahabatnya.
Kau yang melakukan aku pula yang harus menanggungnya, sial
Sunyi sepi, hawa dingin menusuk tulang merupakan ciri khas dari istana kematian. Setenang mungkin Ankou berusaha agar Dewa Kematian tidak curiga. Ia sudah menyiapkan trik untuk menutupi kebohongannya dengan kartu jadwal kematian palsu yang sudah dilumuri sihir.
“Kau sudah kembali rupanya, sini berikan kartu kematiannya padaku.”
“Ini..”
“Beristirahatlah, aku ingin ke kamar dulu.”
Ankou terus melihat Dewa Kematian hingga hilang dari pandangannya. Ia terus berdoa agar kebohongannya tidak diketahui. Di dalam kamar Dewa Kematian terdapat sebuah ruangan lagi yang terdapat lilin untuk menandakan batas waktu kehidupan. Dibelakang lilin tersebut adalah bingkai foto yang akan diambil rohnya. Namun saat menempelkan kartu pada foto tiba-tiba lilin di depan bingkai foto Iriana menjadi lebih terang.
“Ini aneh.”
“Tuan, Dewa Api ingin menemui anda.”
__ADS_1
“Baiklah, suruh dia menunggu.”
Ia meninggalkan kebingungannya terlebih dahulu untuk menemui Dewa Api. Lebih membingungkan lagi ada urusan apa Dewa Api ke istananya. Sudah 350 tahun tidak pernah bertegur sapa.
“Ada apa kemari?”
“Kau menerima kartu kematian yang palsu.”
“Palsu? Tunggu aku tidak mengerti. Coba ceritakan dari awal agar aku mengerti.”
“Kartu yang kau terima dari anak didikmu itu palsu akibat permintaan dari Alpha. Ia sampai memohon pada Ankou karena roh yang akan kau cabut adalah seorang Tuan putri bernama Iriana sekaligus kekasihnya.”
“Karena aku tahu kebenarannya dan atas izinku api itu menjadi lebih terang.”
“Haha, aku lupa jika yang ada di depanku seorang Dewa Api. Terima kasih sudah memberitahuku. Aku akan menghukum Ankou setelah berbincang denganmu.”
“Tidak perlu menghukumnya, seharusnya yang kau hukum adalah Alpha karena dia yang meminta. Ankou tidak ingin melakukan itu, dia hanya terpaksa.”
“Benarkah? Kau serius? Atau keduanya saja kita hukum?”
__ADS_1
“Untuk Ankou kau hanya cukup beri dia peringatan. Aku yakin dia tidak akan melakukan perbuatan itu lagi. Namun berbeda dengan Alpha yang sangat keras kepala. Aku ingin dia belajar dari kesalahannya.”
“Dia adalah bagian dari dirimu tidak seperti Ankou yang hanya anak didikku. Apa tidak masalah jika aku yang menghukumnya?”
“Akan lebih bermasalah jika aku yang
memberi hukuman. Dia marah padaku sampai sekarang karena peristiwa itu. Sudahlah, ini aku berikan bubuk bidara yang bisa membatalkan sihir pada kartu. Jadikan ini sebagai alasannya. Aku pergi dulu.”
Belum sempat berucap Dewa Api langsung pergi begitu saja. Maksud hati ingin bertanya masalah apa yang dikatakan sampai ia menyuruhnya untuk menghukum Alpha nukan dirinya.
Di tengah pencabutan roh pada pesta:
Pencabutan roh manusia sudah selesai diambil. Dewa Kematian menaruh roh tersebut dalam sebuah botol kaca kemudian ditutup dengan kain suci. Setelah urusannya selesai kedua mata mereka saling beradu. Ia tidak lupa untuk menghukum Alpha.
“Kemarilah” Dewa menjulurkan sebuah rantai yang langsung mengikat tubuhnya sehingga ia tidak terlihat oleh manusia. Alpha terus meronta-ronta, mencoba melepas sihir yang ada pada rantai namun itu percuma.
“Ikutlah denganku agar kau tahu apa hukuman bagi Kembaran Dewa yang suka mencampuri mati dan hidup seseorang. Kau sudah tahu jika itu bukan tugasmu sehingga kau menyuruh anak didikku untuk memberikan kartu kematian yang asli padamu, kan?”
BERSAMBUNG
__ADS_1