Terbatas Takdir

Terbatas Takdir
Bab 23: Awal Dari Cinta


__ADS_3

Kedatangan Ana disambut Ibunya.


“Ana bagaimana denganmu? Apa kau senang berada di kampus?”


“Lumayan, Bu. Aku punya teman dan dia seniorku. Namanya Al.”


“Laki-laki? Apa pacarmu?”


“Ibu? Kami pertama kali berkenalan, jangan begitu lagi. Kalau seniorku dengar aku yang malu.”


Ana bergegas menuju kamar dengan muka kesal. Ia kemudian mundur beberapa langkah untuk memberitahu bahwa ia akan dijemput seniornya besok pagi.


“Ibu, besok aku akan berangkat lebih awal karena jadwal kampus diadakan jam 6 pagi. Jadi sebelum jam itu aku harus pergi. Seniorku menawarkan diri untuk mengantarku. Apa boleh? Aku takut jika Ayah akan repot atau masih mengantuk.”


“Boleh saja. Ternyata anak Ibu sudah besar. Sebentar lagi akan punya pacar.”


“IBU....” mulai kesal kembali Ana cepat-cepat menuju kamar. Ia berbaring di tempat tidurnya, perlahan memejamkan mata.


Walaupun kegiatan di awal kampus tidak terlalu mengeluarkan tenaga, tapi bagi Ana ia sudah kelelahan. Ia mengambil ponsel di dalam tas dan mengecek nomor kontak.


“Alpha? Namanya tidak asing. Aku merasa sangat akrab.” Ana mulai mengingat wajah seniornya itu. Wajahnya memerah menahan malu, bersembunyi di balik selimut.


“Apa aku jatuh cinta pada pandangan pertama? Ah, aku hanya kagum dengan wajah dan sifatnya. Ya hanya itu.” Namun Ana tidak menampik jika seniornya itu memang tampan.


“Apa dia sudah pulang?”


Terdengar suara Ibunya memanggil Ana. “Sayang, apa kau sudah ganti baju. Ibu sudah siapkan makan siang.”

__ADS_1


“Sebentar lagi aku turun.”


Rumah Eros


“Kau terlihat senang, Alpha.”


“Ini karena aku bisa berbicara dengan Ana lagi.”


Eros memberikan jus jeruk pada Alpha. “Minum ini untuk melepas haus.”


“Terima kasih.” Alpha meminum jusnya.


“Sudah lama Ayahmu tidak ke sini.”


“Dewa Hefa?”


“Tanpa ke sini pun dia tahu apa yang kulakukan dan kurasakan.”


“Dia tidak rindu padaku?”


“Hahaha, ternyata kau juga bisa bercanda. Aku ke kamar dulu. Tubuhku lelah sekali karena begadang semalam.”


“Jangan terlalu banyak mengetik tengah malam. Jika kau mengantuk solusinya hanya tidur.”


“Ya temanku. Dilihat-lihat kau awet muda ya? ” Alpha mengamati.


“Memangnya aku saja yang begitu. Kau pun sama.”

__ADS_1


“Tapi kan kau lebih tua dariku.” Alpha mengejek Eros yang umurnya sepadan dengan Ayahnya. Ia menyindir karena Eros diumurnya yang sudah tua sampai sekarang belum mendapatkan jodohnya. Padahal dia seorang Dewa Cinta.


“Sini kau. Akan kupukul kepalamu dengan tinjuku.” Alpha buru-buru pergi menghindari amukan Eros.


Aku sangat senang kau bahagia. Teruslah tersenyum, Alpha.


Pagi hari


Ana sudah rapi dengan pakaiannya. Ia memilih untuk minum susu agar tidak terlambat dan memasukkan makanannya ke dalam kotak bekal. Ibunya yang sedari tadi melihat anaknya hanya bisa tersenyum.


Grace ingin melihat pria mana yaang akan menjemput putrinya. Mereka berdua mendengar bunyi motor berhenti di depan halaman rumah. Ana langsung berlari membuka gerbang.


“Al...”


“Oh jadi ini teman priamu.” Alpha kaget karena kemunculan Grace.


“Ibu.... aku kaget.” Ana mengelus dadanya.


“Mengapa kaget? Hati-hati ya bawa motornya. Terima kasih sudah mau mengantar anakku.”


“Sama-sama tante. Saya dan Ana ke kampus dulu."


Di atas motor, Ana dan Alpha tidak berbicara karena canggung. Hanya bunyi motor yang mengisi kekosongan. Namun ekspresi Ana berubah cepat ketika Alpha memegang tangan Ana.


“Pegangan, nanti kau jatuh.”


Wajah mereka memerah karena malu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2