
“Robert gawat.”
“Apanya yang gawat?”
“Alpha. Aku tidak bisa merasakan auranya.”
“Duduklah dulu.” Robert berusaha menenangkan.
“Tidak bisa, cepatlah kau cari dia dengan kekuatan indigomu.”
“Kau yang murid Dewa saja tidak bisa menemukan apa lagi aku. Bagaimana dia bisa hilang?”
“Aku mengejarnya karena kami sempat bertengkar dan tiba-tiba ada cahaya. Alpha hilang bersama cahaya itu.”
“Aku tidak dapat merasakan auranya juga. Pasti pemilik cahaya itu lebih kuat darimu. Pasti dia seorang Dewa.”
“Kau langsung merujuk ke Dewa?” tanya Eros penuh selidik.
“Kau murid seorang Dewa yang bahkan tidak bisa menemukan Alpha. Berarti orang terkuat di atasmu siapa lagi jika bukan Dewa.”
Ankou berpikir ke belakang untuk menebak siapa Dewa yang membawa Alpha. Dia teringat akan taruhannya bersama Dewa Eros. Akhir-akhir ini ia sering bertemu dengannya.
Dasar tukang ikut campur.
8 tahun kemudian
Ana menyisir rambutnya yang kusut di depan kaca. Setelah merasa rapi ia turun menuju ruang makan.
__ADS_1
“Selamat pagi Ayah, Ibu.”
“Selamat pagi Ana.”
“Selamat pagi Ana. Bantu Ibu menaruh makanan ke piring. Setelah itu taruh ke meja, ya.” Pinta Grace.
“Ya Ibu.”
Ana langsung sigap membantu Ibunya yang sibuk. Ia tidak ingin hari pertamanya terlambat masuk kampus sehingga Ana harus cepat sarapan. Selesai makan Ana dan Ayahnya pamit pada Grace.
“Kami pamit dulu.” kata Ayah.
“Ana ke kampus dulu, Bu.”
“Tidak terasa ya Ana sudah masuk kuliah.”
Ana sepanjang perjalanan tersenyum untuk menutupi rasa gugupnya. Ia tidak lupa terus memakai kalung yang pernah Ayahnya beli untuk hari ulang tahunnya.
“Ayah pikir kamu tidak akan pernah pakai kalung itu.”
“Ana pernah berpikir begitu. Entah mengapa Ana ingin memakainya.”
“Apa tidak terlalu mencolok? Lebih baik taruh di balik bajumu. Sekarang musim pencurian.”
“Ya, Ayah.”
Akhirnya mereka sampai di kampus tempat Ana belajar. “Ana nanti jika pulang kau naik bus atau taksi, ya. Ayah tidak bisa jemput.”
__ADS_1
“Baik, Ayah.”
Ana menutup pintu mobil. Ia melangkah masuk dengan hati berdebar. Telapak tangannya saling rapat akan kegugupan Ana. Bertahun-tahun Ana terus konsultasi pada guru yang sekarang menjadi psikolognya. Ms Joana selalu memberikan bimbingan agar Ana tidak takut dengan orang lain.
“Baiklah, mereka sama sepertimu, Ana. Mereka manusia. Jadi kau jangan takut.” Ana menyemangati dirinya.
Terdengar sangat keras seseorang menggunakan pengeras suara memanggil mahasiswa baru untuk berkumpul di lapangan.
“Ayo semuanya, bagi kalian mahasiswa baru untuk berkumpul karena kami akan menjadi mentor kalian.”
Ana mengikuti rombongan yang lain dan berbaris. Banyak dari mereka yang sudah berteman dari SMA sedangkan Ana tidak memiliki teman sama sekali. Ia terlihat canggung.
“Dengarkan baik-baik. Cek portal kampus dan di situ terdapat pembagian kelompok. Lihat nama kalian kemudian cari mentor kalian berdasarkan nomor kelompok.”
Ana mengikuti arahan kakak tingkatnya. Ia mendapatkan angka 2 dengan nama mentor Al. Ana melihat seorang laki-laki memegang sebuah papan dengan angka 2. Di sana sudah terdapat mahasiswa yang berkumpul.
“Di kelompokku ada 10 anak. Tinggal satu orang lagi...”
“Saya kak.” Ana mengacungkan tangannya.
“Karena sudah berkumpul kakak langsung saja untuk memperkenalkan diri. Nama kakak Al angkatan 2019. Senang berjumpa dengan kalian.” Semuanya bertepuk tangan menyambut salam perkenalan.
“Pertama kita akan memperkenalkan diri masing-masing. Siapa yang ingin mulai duluan.”
Semua mata tertuju pada Ana. Terpaksa ia memperkenalkan diri dengan malu-malu.
“Hai...” air ludah turun ke kerongkongan yang kering. Suara berhenti, keringat dingin bercucuran. Ana sekali lagi menyesalkan keadaannya saat ini.
__ADS_1
BERSAMBUNG