
Selama ditinggal Alpha, Ana menjadi tidak mood. Bayangkan saja selama perbincangan Helene terus berbicara tentang Alpha. Ia sudah berhenti tapi kemudian membicarakannya lagi. Bagaimana tidak bosan. Ana kembali senang setelah Alpha datang menemuinya.
“Ana bagaimana hasilnya?”
“Ya, sangat mudah.”
“Berikan itu pada Selena dan kita akan pergi ke suatu tempat.”
“Ke mana?”
“Kau akan tahu.” Alpha mengedipkan matanya. Ana buru-buru memberikan naskah yang sudah diediting. Di dalam pikirannya mengapa Alpha begitu genit. Setelah pergi ke ruang meeting ia langsung ke parkiran untuk jalan. Helene yang melihat dari jauh sangat kecewa.
“Sebenarnya kita mau kemana? Aku penasaran.”
“Anggap ini bentuk rekomendasi karena kau sudah memberitahuku tempat bagus kemarin malam. Aku juga ada projek kecil untuk pengetikan naskahku.”
“Kau ingin menerbitkan sebuah novel?”
“Ya, aku termotivasi karena aku punya paman seorang penulis. Ia dikagumi banyak pembaca.”
Mereka melaju ke suatu tempat yang ternyata letak cafe itu di gedung yang tinggi sehingga bisa melihat seluruh pemandangan kota. Ana bahkan kagum walaupun saat itu bukan dalam keadaan malam. Karena kata Alpha pemandangan akan lebih bagus saat berkunjung di waktu malam.
“Kau suka?”
“Aku sangat suka. Ini lebih bagus dibanding tempat kemarin.”
__ADS_1
“Sama-sama bagusnya. Oh ya kau mau pesan apa?” Alpha menyodorkan buku menu ke Ana.
“Aku ingin cofee latte dan puding fruity.”
“Aku akan pesan es kopi hitam dan sus blueberry.”
“Ditunggu sebentar pesanannya.” kata waiter.
“Nama pamanmu siapa? Aku hapal semua penulis dari buku yang kubaca.”
“Kau kenal Evan. J.?Dia pamanku lebih tepatnya bukan paman tapi sudah kuanggap paman sendiri karena aku tinggal lama dengannya.”
“Memangnya rumah lamamu dimana? Apa kau tinggal di luar negeri?”
“Ya bisa di bilang begitu.” Alpha sedikit berbohong. Tidak mungkin mengatakan ia tinggal di kayangan. Yang ada pasti ia ditertawakan. “Jika di kampus kau sangat sopan sekali denganku. Kau memanggilku kakak.”
“Tidak, tidak panggil saja namaku langsung. Itu lebih enak didengar sekaligus akrab.”
Pesanan mereka sampai di meja. Ana dan Alpha sangat menikmati makanan yang disajikan.
“Aku tertarik dengan kisah cinta Amy dan Tom. Aku ingin mewawancarai mereka. Apa kau mau ikut jadi timku?”
“Aku mau. Ini pengalaman pertamaku.”
“Ini juga pengalaman pertama walaupun sebelumnya aku pernah mengetik naskah novelku di web.”
__ADS_1
“Mengapa tidak sekalian ke sana saja? Jadi kita bisa sedikit bertanya.” usul Ana.
“Aku ingin menghabiskan waktu denganmu. Besok saja aku jemput jam 9.”
Ana jadi sedikit terbawa perasaan namun ia belum yakin. Mungkin menurutnya Alpha orang yang terbiasa mengatakan hal-hal itu pada orang lain, bukan dengan dirinya saja.
“Ngomong-ngomong mengapa kau tertarik dengan kisah Caffeciato?”
“Karena aku berharap kisah cintaku seperti kisah cinta mereka.”
“Kau...sudah memiliki pacar?”
“Lebih tepatnya dijodohkan. Aku memilih dia karena aku ingin melupakan seseorang.”
Alpha menghembuskan napas panjang. Terlihat sangat berat menceritakan masa lalu.
“Aku sudah sangat mengenalnya namun, cinta kami terhalang.”
“Karena restu orangtua?” tebak Ana.
“Lebih dari itu, aku tidak ingin lebih menjelaskannya lagi.”
Ana juga tidak berani bertanya. Alpha tiba-tiba menampakkan wajah yang tegas, rahang bawah yang mengeras. Sangat menakutkan karena pertama kali Ana melihat wajah yang sebelumnya selalu dihiasai keramahan.
“Aku akan menghubungi pemilik cafe, aku punya nomornya.” Ana coba mengalihkan topik.
__ADS_1
Namun Alpha hanya mengangguk tidak ada kata-kata. Suasana jauh lebih dingin dan canggung.
BERSAMBUNG