
“Lama ya tidak berjumpa? Terakhir kau masih berumur 6 tahun.”
“Tidak usah membahas masa laluku, terlalu menyedihkan. Aku baru tahu kau punya toko perhiasan di samping kau menjadi Dewa. Aku pikir tugasmu hanya sebagai cupid.”
“Aku salah satu Dewa yang tidak suka di kayangan. Di bumi lebih menyenangkan dan juga aku jadi tahu manusia yang aku takdirkan bersama.”
“Kau hebat.”
“Kau juga hebat. Buktinya uangmu banyak. Pekerjaan apa yang kau tekuni sekarang?”
“Menjadi guru les privat sekarang.” Sembari meneguk kopinya.
“Akalmu banyak juga, ya?” kalimat yang membuat Ankou tersentak hingga ia menjadi batuk. Eros membantunya untuk minum segera air putih. Akhirnya Ankou lega setelah meminum itu.
“Kenapa kau tersedak?”
“Entahlah sepertinya aku hanya kaget.”
“Dengan ucapanku? Aku sekedar memuji karena kau bisa melakukan banyak hal. Maaf kau jadi begini.”
“Ah, tidak usah minta maaf. Aku yang berlebihan. Setelah ini kau mau langsung ke toko atau mau ke suatu tempat? Aku bawa mobil soalnya.”
“Tidak perlu aku bisa sendiri. Aku antisosial, lebih suka melakukan semuanya sendiri. Ini persoalan pribadi.”
__ADS_1
“Berarti kita berpisah, aku duluan. Soalnya temanku menunggu. Sampai jumpa.” Ankou menuju tempat parkir yang terlihat dari tempat mereka duduk. Toko tersebut berdinding kaca sehingga mudah terlihat dari luar. Eros terus menatap kepergian Ankou sampai ia menghabiskan kopi lattenya.
Ankou tidak curiga dengan apa yang kulakukan sekarang, kan?
Di mobil Ankou terus terbatuk-batuk. Akhirnya ia memarkirkan mobil di depan apotek. Ia membeli obat yang akan ia minum. Perjalanan ia lanjutkan ke rumah Robert.
“Robert bisa kau buat air jeruk nipis hangat?”
“Kau kenapa?”
“Tenggorokanku sangat kering sekali.”
“Kau makan apa sampai begitu. Apa kau punya pantangan memakan suatu hal?”
“Tidak ada. Aku.... tidak punya alergi. Huuk...huuk...aku sehabis minum kopi tadi. Aku tersedak hingga bubuknya.... seperti tersangkut. Sudah minum air putih tapi tidak cukup.”
“Terima kasih, sedikit enakan sekarang. Aku sampai membeli obat di apotek.”
“Hati-hati, banyak manusia mati karena tersedak.”
“Rasanya lucu jika aku murid Dewa Kematian akan mati walaupun sebenarnya aku juga manusia.”
“Namun kau abadi.”
__ADS_1
Ankou meminum air jeruk nipisnya lagi. Tidak ada perbincangan setelahnya. Mereka masih sibuk dengan pikiran masing-masing. Alpha menghampiri untuk memecah keheningan.
“Kalian kenapa hanya diam?”
“Ah, Alpha kita jalan-jalan yuk daripada kau di rumah terus.”
“Aku memilih membersihkan rumah dibanding ikut denganmu.”
Mendengarnya membuat Ankou tertawa pahit. Sejak dulu mereka sangat dekat. Ini pertama kalinya ia mendengar sahabatnya sendiri berbicara yang menyakiti hatinya. Ankou meyakinkan dirinya bahwa apa yang dikatakan Alpha karena murni tidak ingat apapun.
“Kau tidak pernah tahu suatu saat kau akan butuh dengan siapa. Jaga sikapmu.” Ankou meminum airnya lagi. “Bagaimana hubunganmu dengan Ana? Baik-baik saja?”
“Kau tahu darimana?” Alpha kemudian melirik Robert.
“Aku sarankan untuk menjauh dari manusia. Hiduplah dengan tenang walaupun kau mungkin akan dibenci olehnya karena meninggalkannya.”
“Mengapa kalian berdua menyuruh hal yang sama. Apa sangat berbahaya jika aku di sekitar Ana?”
“Kau hanya boleh melihatnya dari jauh dan jika bisa tinggallah denganku. Jangan tinggal dengan Robert. Manusia seperti inang bagi hantu sepertimu. Kau tertarik? Daripada kau tidak ada tempat tinggal.”
“Aku sudah nyaman dengan Alpha. Dia semua yang membereskan rumahku.” bela Robert.
“Kau hanya anggap dia babu. Ayo, Alpha. Tidak ada waktu. Sore nanti aku akan bekerja.”
__ADS_1
Ankou menarik tangan Alpha seperti tali layangan.
BERSAMBUNG.