Terbatas Takdir

Terbatas Takdir
Bab 17: Encounter


__ADS_3

“Kau punya hobi baru ya sekarang? ”


“Aku duluan.”


Eros menghalangi langkah Ankou. “Aku belum selesai bicara, mengapa ingin sekali kau pergi. Untuk apa kau ke rumah itu?”


“Lebih baik tanyakan saja pada Dewaku karena ia yang memberiku tugas.”


“Untuk apa bertanya pada orang yang jauh jika ada kaitannya di depan mata? Aku akan memeperingatkanmu untuk pertama kalinya. Jangan ganggu mereka.”


“Apa hakmu?"


“Mungkin mereka bukan siapa-siapaku. Tugasku hanya menakdirkan mereka bersama.”


“Itu tidak akan terjadi wahai Dewa Eros. Kau bahkan tahu Dewa dan manusia tidak boleh bersama membentuk ikatan.”


“Dalam hatimu sebenarnya kau mulai lelah dengan tugas bodohmu. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri.”


“Siapa bilang? Aku memikirkan Alpha juga. Karena perempuan itu sahabatku dihukum. Aku yang di sampingnya saja tidak tega.”


“Betapa kerasnya kalian semua memisahkan mereka aku paling mempunyai tanggung jawab akan kehidupannya. Aku sudah menakdirkan mereka seperti itu. Suatu saat kau akan menyesal dengan usahamu”


“Heh..kita bertaruh. Aku akan tetap memisahkan mereka.”


Ankou tetap tidak mendengarkan perkataannya. Eros juga tidak memaksa Ankou untuk percaya dengan apa yang ia katakan, karena setiap manusia yang ia nasehati pasti akan menganggap angin lalu.

__ADS_1


**Rumah Ankou


“Kau darimana?” tanya Alpha.


“Dari rumah teman.”


“Tuan Robert?”


“Bukan, teman yang membuatku jengkel. Tidurlah aku ingin istirahat. Oh ya, kau mau tidur dimana? Sebelah kamarku juga ok.”


Alpha pindah ke sebelah kamar Ankou. Di dalamnya terlihat lebih sederhana. Hanya ada warna putih dan hitam. Ia tidak terlalu suka dengan warna yang menurutnya monotone. Ia akan meminta Ankou menggantinya menjadi warna merah.


Ini pertama kalinya aku tidak ke sana? Besok aku akan menengok Ana. Aku tidak akan minta izin dengannya. Dia pasti tidak setuju.


Alpha tertidur lelap.


“Alpha, aku akan ke kantor dan siangnya akan mengajar di rumah muridku.”


“Yang kemarin?”


“Tidak karena anak itu sementara diambil alih oleh bosku.”


“Apa karena cara kerjamu kurang bagus, ya?” nada sedikit menghina.


“Dengar ya, pekerjaanku dialihkan karena dulunya dia adalah psikolog. Anak yang ditangani memiliki karakter pendiam. Tidak suka bermain dengan anak seumuran. Mengerti. Aku berangkat.”

__ADS_1


Terdengan bunyi pintu yang ditutup. Sejenak Alpha ingat akan Ana karena ia anak yang pasif. Ia segera ke rumah Ana ketika Ankou sudah berangkat.


Semoga ia suka dengan pemberianku.


Alpha bermaksud memberi Ana berupa buku harian karena ia tahu Ana sangat suka menulis. Semua emosinya ia keluarkan lewat tulisan sebelum Ana bertemu dengannya. Hampir saja ia terlambat, ia langsung menemui Ana.


“Ana.” Namun ia tidak menengok. Alpha mengira Ana marah padanya.


“Ana, ini aku Alpha.”


“Ana...”


Alpha kaget ketika Ana yang menabrak tubuhnya. Ia terlihat serius dengan ekspresi tidak memperdulikan Alpha.


“Mengapa Ana menabrakku? Seharusnya ia sadar jika aku di depannya. Ada yang tidak beres, tubuhku tembus ketika ia menabrakku. Apa sekarang ia tidak bisa melihat hantu lagi?”


Alpha mendatangi rumah Robert meminta penjelasan. Pasti ia tahu akar permasalahannya.


“Tuan Robert..”


“Akhirnya kau kembali. Aku tahu kau tidak kerasan berada di rumah Ankou.”


“Bukan itu. Aku ke sini karena ada yang ingin aku tanyakan. Apa manusia yang awalnya melihat hantu bisa menjadi manusia normal, tidak bisa melihat hantu? Aku menemui Ana dan ia tidak tahu aku ada di depannya. Kau tahu yang terjadi, tubuhku tembus ketika ia menabrakku. Seharusnya tidak.”


Pasti ini ulah Ankou. Dia mulai nekat sekarang. Dasar gegabah.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2