Terbatas Takdir

Terbatas Takdir
Bab 27: Kesepian


__ADS_3

“Aku pulang dulu ya. Titip salam untuk orang tuamu.”


“Tunggu....”


Ana menghentikan langkah Alpha dengan memegang tangannya. Tubuhnya bergerak sendiri di luar sadar.


“Hmmm, lebih baik kau pulang nanti saja. Di luar terlihat gelap. Sepertinya akan turun hujan.” untungnya Ana pintar berkilah.


“Justru langit yang mendung pertanda aku harus segera pulang.”


Ana tidak bisa menahan seniornya itu lebih lama. Akhirnya ia merelakan Alpha untuk pergi. Ia sampai bertanya dalam hati mengapa ia sangat sedih dan kecewa.


“Setelah pulang aku akan menghubungimu.” seakan Alpha tahu isi hatinya. Ana sedikit senang dengan pernyataan itu.


Tidak jauh sekitar 100 m dari rumah Ana ia melihat sesosok pria yang pernah ia kenal dulu. Namun Alpha hanya melewati tanpa menyapa. Ia terus melangkah maju seakan tidak terjadi apa-apa. Sampai di rumah ia membaringkan tubuhnya yang lelah.


#Ingatan Alpha


“Alpha aku beri kau kebebasan dari hukumanmu. Sihirku bisa membuatmu memiliki wujud namun manusia yang pernah mengenali tidak akan mengenalimu lagi.” Kata Dewa Hefa.


“Ingat atau tidak bukanlah masalah bagiku sekarang. Apa bedanya dengan Ana yang tidak ingat aku sama sekali?”


“Baiklah jika begitu. Berarti Ankou juga tidak akan mengingatmu.”

__ADS_1


“Ya, entah mengapa sepertinya itu lebih baik. Eros selalu mengingatkanku untuk tidak usah dekat dengan Ankou.”


“Kenapa?”


“Aku tidak pernah tahu alasannya.”


#Kembali ke semula


Ingatan itu tidak pernah ia lupa begitupun dengan sahabatnya, Ankou. Setelah ia mendapatkan kekuatannya kembali, kenangan yang sempat terlupa dalam otaknya kembali perlahan. Bagaimana ia menyuruh Ankou menolong Iriana sampai ia mendapat hukuman.


Begini ya rasanya tidak dikenal oleh orang dekat? Sangat sakit. Lebih baik aku mandi untuk menyegarkan pikiranku.


Ponsel berdering ketika Alpha sedang mandi. Tertulis pesan diterima dari Ana. Banyak sekali pesan masuk, ada sekitar 10 pesan. Alpha yang sudah selesai langsung mengecek karena bunyi ponsel yang terus berdering. Tanpa basa-basi ia menelpon tanpa membalas pesannya.


“Katanya sehabis pulang akan mengabari aku. Maaf mengganggu, aku jadi tidak enak.”


“Ah, tidak mengganggu kok. Kembali ke topik ada apa?”


Terdengar tidak ada suara Alpha pun panik. “Ana kau kenapa?”


“Hmm aku hanya kesepian saja. Apa boleh kita bertemu nanti malam sekaligus membahas tema sosial kelompok?”


“Boleh saja. Oh ya kau tidak boleh keluar sebelum aku menjemputnya, ya.”

__ADS_1


“Kenapa?”


“Turuti saja. Aku bersiap-siap ke rumahmu sekarang.”


“Aku tunggu.” Ana menutup ponselnya. Ia melihat jendela dan membuka sedikit gordennya. Ada sosok pria yang terus mengintai rumahnya. Menurut Ana sudah 2 hari itu terjadi.


Apa ini yang dimaksud Alpha? batinnya.


Ia menutup gorden jendela, takut jika pria itu melihatnya. Ada 20 menit Alpha akhirnya sampai ke rumah Ana. Ia disambut oleh senyuman.


“Kita mau ke mana?” tanya Alpha penasaran.


“Kalau ke Caffeciato bagaimana? Di sana tempat favorit anak muda”


“Apa tidak terlalu ramai?”


“Kita bisa ke roooftopnya. Aku yakin pasti kau suka.”


Untuk kedua kalinya mereka naik motor sambil berpelukan erat. Pipi Alpha memerah selama perjalanan menahan degupan jantungnya.


Kali ini ia takut tidak bisa meninggalkan Ana lagi. Namun, ia sudah berjanji pada Dewa Hefa dan Dewa Eros untuk tidak mencintai Ana.


Sampai di depan cafe mereka menuju rooftop. Pamandangan indah dari atas dan lampu kelap-kelip menghiasi malam.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2