
Tepat jam 12 malam Alpha terbangun dari tidurnya. Ia mengelus rambut Ana dengan perlahan. Ia membayangkan andai anak kecil yang tidur di sampingnya adalah kekasihnya dulu. Namun, itu hanya mimpi.
“Haih kenapa aku begini sih? Jelas-jelas dia cuma anak kecil, bukan gadis dewasa. Kalau Ana sudah dewasa pasti cantik, ya. Buktinya dia populer di kalangan teman prianya di sekolah.”
Alpha dengan hati-hati bangun berniat untuk pergi. Namun Ana menarik tangannya sambil memanggil namanya dengan suara serak. Ia tersenyum yang kemudian Alpha mencium keningnya. “Mengigau, ya?”
Alpha menoleh ke belakang sebelum ia pergi dari rumah itu. Ia tidak tega meninggalkan Ana tidur sendirian . Tapi, ia sudah menetapkan keputusan bahwa Ana harus bisa mandiri tanpanya. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat makhluk itu lagi.
“Hei, tunggu.”
“Ada apa? Akhirnya kamu tidak takut bahkan berani menegur.”
“Aku berani karena kamu teman tuan Robert. Ia memintaku agar kau menemuinya. Itu saja. Kalau mau kau boleh ikut denganku.”
“Katakan padanya jika aku sibuk. Banyak urusan yang aku lakukan.”
“Sibuk? Sepertinya kamu hanya berputar-putar di daerah sekitar rumahku?” Alpha menyindir.
“Hei bocah. Aku ini murid Dewa Kematian. Aku ini mengamati roh-roh yang akan dicabut.”
“Kau murid seorang Dewa Kematian? Berarti apa kau tahu mengenai diriku? Aku tidak pernah tahu tentang masa laluku. Tolonglah aku. Kau terbiasa dengan urusan seperti itu. Pasti kau mencatat amal baik dan buruk seseorang saat masa pencabutan”
__ADS_1
“Aku tidak tahu.”
“Sudah kuduga kau hanya abal-abal.”
“Apa katamu.”
“Iya abal-abal alias palsu.”
“Ya tuhan... antarkan aku pada Robert.”
“Panggil dia tuan Robert.”
Alpha mengantarkannya sambil menggeretakkan giginya. Ia kesal dan seharusnya tidak menyampaikan pesan tuan Robert pada makhluk yang dia anggap gila dan menyusahkan. Sesekali makhluk itu melirik Alpha. Alpha yang sadar merasa aneh dengan lirikan itu karena menurutnya terlalu misterius.
Sesampainya di rumah, ia memanggil tuan Robert bahwa temannya datang. Tuan Robert langsung memeluk makhluk itu tanpa canggung sedikitpun.
“Sudah lama kau tidak kemari.” Robert menyapa
“Kau sudah sangat tua sekarang. Terakhir bertemu saat sebelumnya kau bereinkarnasi. Apa kabar?”
“Baik. Oh ya, terima kasih banyak Alpha. Kau boleh beristirahat di kamar yang sudah aku siapkan. Kenapa kau balik jam segini? Bukannya nanti pagi?”
__ADS_1
“Lebih cepat lebih baik bukan.”
Ia berlalu tanpa menghiraukan mereka berdua. Tuan Robert langsung mempersilahkan tamunya untuk duduk.
“Katanya kau sedang mencari seseorang siapa yang kau cari, Ankou?”
Untuk berjaga-jaga Ankou menyisipkan ruangan itu dengan sihirnya menjadi kedap suara.
“Aku mencari Alpha.”
“Alpha?”
“Ya, Alpha yang barusan lewat. Dia teman lamaku. Namun dia dihukum karena kesalahannya. Akibatnya dia tidak bisa mengingat masa lalunya dan wujudnya seperti hantu. Selama ratusan tahun menunggu akhirnya ia bereinkarnasi dengan wujud begitu.”
“Kesalahan apa yang diperbuat sampai aku tidak bisa memecahkan mantra pada tubuhnya? Jangan bilang kau baru menampakkan diri setelah tahu temanmu sudah bereinkarnasi? Aku lihat dia sudah lama dengan wujud itu.”
“Memang sudah lama. Hanya saja aku baru berani karena aku takut aku menangis di depannya. Seharusnya aku tidak setuju dengan idenya itu.”
Mereka berdua terdiam dengan pikirannya masing-masing.
BERSAMBUNG
__ADS_1