
Pagi ini, Dini sedang mengumpulkan sampah sayuran yang akan di bawanya ke tempat pembuatan pupuk. Pupuk itu nantinya akan di pakai untuk memupuk sayuran yang ada di kebun abah.
Saat itu, Tejo melihat Dini yang tengah sibuk memasukkan sampah-sampah itu ke dalam karung. Perlahan ia mendekat pada Dini. Tejo telah berdiri di samping Dini yang tengah berjongkok tapi, ia tidak mengatakan apapun.
Dini tahu jika Tejo berada disampingnya. Ia hanya melirik Tejo sekilas sambil melakukan tugasnya. Dini tidak yakin ingin menyapa Tejo duluan. Mengingat kejadian tadi malam.
"Maaf ya Din", ucap Tejo. "Aku sadar nggak seharusnya aku ikut campur urusan kamu dengan Wahyu. Aku telah menganggap kamu sebagai sahabat. Kamu adalah orang pertama yang membantu dan menolongku saat aku hilang ingatan. Kamu mau kan maafin aku?"
Tak terasa air mata Dini berlinang. Tapi, itu tidak diketahui oleh Tejo. Dini tidak mengerti apa yang telah terjadi pada hatinya. Namun, saat mendengar perkataan Tejo hatinya begitu sakit. Seolah Tejo akan berhenti memperjuangkannya. Mungkinkah Tejo sudah tidak menginginkannya lagi ataukah Tejo tidak ingin terlibat lebih jauh lagi? Begitulah yang terlintas di benak Dini.
Saat Dini tau jika Tejo ingin berjongkok juga, ia cepat-cepat menyeka air matanya. Tapi, sepertinya Tejo tahu jika Dini sedang menangis.
"Ada apa Din? Kenapa kamu nangis?", tanya Tejo yang heran sambil melihat wajah Dini.
Dini langsung memalingkan wajahnya kearah lain. Ia tidak ingin Tejo melihat wajahnya yang dibanjiri air mata. Ia masih berusaha menghapus air matanya.
"Din...",
"Aku gak apa-apa Jo. Aku cuma terharu aja. Kamu meminta maaf padaku. Aku pikir kamu masih marah padaku", ucap Dini berbohong.
Ada rasa yang aneh di hati Tejo. Ia merasa kalau Dini sedang berbohong. Tapi, Tejo tidak ingin masalah ini berlarut-larut. Dia mencoba memahami keadaan Dini saja.
Dini berdiri ingin mengangkat karung itu, tapi ia merasa sedikit kesusahan. Karena karung itu terasa berat.
"Bantuin dong! Nggak peka banget sih jadi laki-laki. Kamu tega liat aku bawa karung ini sendirian?", ucap Dini kesal pada Tejo yang masih jongkok melihatnya saja.
Tejo tersenyum, ia tidak menyangka Dini akan berkata seperti itu. Tapi, itulah Dini yang Tejo kenal. Tejo lega Dini bisa kembali seperti yang Tejo kenal sebelumnya.
Namun, dibalik itu sebenarnya Dini hanya ingin mengalihkan pembicaraan saja. Agar tidak terjadi kecanggungan diantara mereka.
"Emangnya mau dibawa kemana sih?", tanya Tejo penasaran.
"Ke tempat pembuatan pupuk. Nanti kamu juga tau", jawab Dini sambil berjalan meninggalkan Tejo.
Tejo mengangkat karung itu, tapi saat itu juga ia baru menyadari bahwa isi karung itu sangat bau. Tejo tidak tahan mencium aroma yang busuk itu.
"Din, kok bau banget sih!", teriak Tejo.
__ADS_1
"Namanya juga sampah Jo", jawab Dini santai.
"What?", Tejo terkejut karena ia baru menyadarinya.
***
"Kenapa tempatnya jauh dari pemukiman warga Din?" tanya Tejo bingung.
Mereka sudah sampai ke tempat pembuatan pupuk kompos yang memang lokasinya jauh dari pemukiman warga. Di sini Dini mengungkapkan alasannya yaitu karena tidak ingin mengganggu warga dengan bau busuk sampah yang ada di sana. Karena memang, tempat itu sekaligus tempat penampungan sampah sayuran dari warga dan juga sampah dari kebun mereka.
Karena Tejo sudah sampai di tempat ini, ia merasa ingin tahu proses pembuatannya. Dini pun dengan senang hati mengajari Tejo untuk membuat pupuk kompos dari sampah sayuran yang dibusukkan.
Tapi, lama-kelamaan Tejo tidak tahan dengan baunya membuatnya terus saja muntah-muntah. Bukannya kasihan, Dini malah tertawa terbahak-bahak mengejek Tejo. Lalu, sengaja Tejo melemparkan beberapa sampah sayuran itu kepada Dini sangking geramnya melihat Dini yang bahagia di atas penderitaannya.
Alhasil Dini pun marah pada Tejo, "Jo, jahat banget sih! Baju aku kan jadi kotor!"
"Balasan!", jawab Tejo yang masih geram.
Lalu tiba-tiba Tejo merasa takut melihat wajah Dini yang berubah menjadi marah. Tejo mundur beberapa langkah lalu langsung lari terbirit-birit.
"Tejo...!", Teriak Dini kesal.
"Din, ampun Din. Aku nggak sengaja, jangan marah ya", ucap Tejo memohon sambil menyatukan telapak tangannya dan menutup matanya takut, kalau-kalau Dini memukulnya.
"Jo, Jo lihat deh", ucap Dini.
Tejo pun membuka matanya dan melihat kearah mata Dini melihat. Lalu Tejo ikut terperanjat melihat pemandangan di hadapannya. Ia baru menyadari bahwa mereka sudah sampai di depan hutan.
Dini pun berlari masuk ke dalam hutan. Tejo menjadi bingung apakah ia harus menemani Dini atau membiarkan dini seorang diri. Karena ada rasa takut saat Tejo melihat hutan itu.
"Jo, kemarilah! Ada yang ingin aku beritahu padamu!" teriak Dini dari dalam hutan.
Dengan ragu Tejo melangkahkan kakinya masuk ke dalam hutan itu. Ia berjalan sambil melihat sekelilingnya yang penuh dengan pepohonan yang menjulang tinggi.
"Din, kamu di mana?", teriak Tejo yang belum juga menemukan Dini.
Tup!
__ADS_1
Tejo terkejut karena ada yang memegang bahunya dari belakang. Tapi, Tejo langsung lega karena orang itu adalah Dini.
Dini memegang tangan Tejo lalu menariknya, "Ayo Jo, ke sini". Dini berlari sambil menarik tangan Tejo.
Tejo hanya bisa menurut pada Dini. Ia ikut berlari kemana pun Dini membawanya. Ia tidak mengatakan apapun. Tejo merasa jantungnya berdegup kencang melihat Dini dari belakang yang sesekali melihat dirinya sambil tersenyum indah.
Angin yang membawa aroma wangi tubuh Dini masuk ke hidung Tejo dan membuat Tejo semakin terpikat. Seolah memorinya tidak akan pernah melupakan aroma ini.
Tidak lama kemudian, Dini menghentikan langkahnya. Tejo yang sedari tadi tertegun melihat Dini mendengar suara gemericik air. Saat Tejo melihat ke sisi lain, ternyata di depan mereka ada sebuah sungai.
"Kamu ingat?", tanya Dini pada Tejo yang terlihat bingung.
"Maksud kamu?", Tejo benar-benar tidak mengerti.
"Masa kamu lupa sih? Tempat ini, adalah saksi bisu pertemuan pertama kita waktu itu", jawab Dini dengan wajah sumringah.
Dini merasa lucu melihat Tejo yang benar-benar kebingungan. Dini berjalan ke arah batu besar yang berada di tepi sungai itu. Ia naik ke atas batu itu dan duduk di sana.
"Waktu itu, aku duduk di sini. Sedang meratapi nasibku yang di tinggal nikah oleh Wahyu. Kamu, beneran gak ingat tempat ini ya Jo?", tutur Dini yang menatap lurus ke sungai.
Dini tidak mendengar jawaban apapun dari Tejo. "Aku pikir tadi, mungkin kalau aku bawa kamu kemari kamu bisa ingat sesuatu. Kenapa kamu bisa hanyut di sungai ini?", lanjut Dini.
Tejo benar-benar terkejut mendengar kebenaran Dini. Ternyata ini adalah tempat dimana Dini menolong dirinya. Tapi, entah mengapa ia sama sekali tidak mengenali tempat ini.
"Iya Jo, saat aku sedang menangisi nasibku di sini, tiba-tiba aku melihat tubuh seseorang yang tersangkut di bawah akar pohon itu. Dan orang itu adalah kamu Jo", ucap Dini sambil menunjuk sebuah pohon di arah kanannya.
Tejo melihat arah tangan Dini, lalu ia berjalan menghampiri pohon tersebut. Tejo melihat pohon yang besar itu dan melihat ke bawah pohon itu. Matanya mencari-cari sesuatu yang mungkin tertinggal dan bisa menjadi petunjuk siapa dia sebenarnya. Tapi, sepertinya apa yang Tejo harapkan tidak ada di tempat itu. Tejo juga sama sekali tidak ingat bahwa dia pernah terdampar di bawah akar pohon tersebut.
"Waktu itu, aku takut sekali. Aku berteriak minta tolong, tapi tidak ada yang bisa mendengarku dari sini. Dan aku juga tidak sampai hati jika membiarkanmu begitu saja", Dini masih melanjutkan ceritanya.
Tejo berbalik dan kembali ke tempat ia berdiri semula. Ia masih melihat-lihat keadaan sekelilingnya. Berharap mendapatkan ingatannya kembali.
"Aku bertekad untuk menolongmu walaupun aku sendirian. Aku masuk ke sungai dan menarik tubuhmu lalu membawanya ke atas tanah. Awalnya aku kira kamu sudah tidak tertolong lagi. Tapi, aku memeriksamu kembali dan aku mendengar detak jantungmu. Aku bersyukur kamu masih bernyawa pada saat itu walaupun wajahmu sudah sangat pucat sekali seperti mayat. Tapi, aku bingung harus bagaimana. Sedangkan pertolongan pertama yang harus aku berikan padamu adalah...", ucapan Dini terhenti sampai di situ lalu ia menggigit bibir bawahnya, tidak yakin akan memberitahukan kebenaran itu pada Tejo.
Mendengar cerita yang masih terpotong itu, Tejo pun berjalan ke arah batu besar yang di duduki Dini. Sebenarnya, Tejo tau apa yang akan dikatakan Dini. Tapi, ia ingin mendengarnya langsung dari Dini untuk memastikannya. Ia sudah dekat dengan batu besar itu. Ia berjalan sambil melihat Dini yang sedang duduk di atas batu itu. Dan sampailah ia dihadapan Dini.
Dini melihat Tejo yang berada di bawahnya, "Iya, Jo. Waktu itu aku memberikanmu napas buatan. Karena aku nggak mau kamu kehilangan nyawamu. Dan asal kamu tau, itu adalah ciuman pertamaku dengan seorang pria".
__ADS_1
Tejo terus memandangi wajah Dini yang memerah itu. Di situ Tejo merasa sangat bahagia mendengar pengakuan Dini bahwa mereka pernah menyatukan bibir mereka. Seolah ada bunyi "Klik" dari hati Tejo yang mengartikan bahwa Tejo benar-benar jatuh cinta pada Dini dan menetapkan Dini adalah belahan jiwanya. Tapi, yang sangat di sayangkan bagi Tejo, ia tidak bisa merasakan ciuman Dini saat itu.
***