Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)

Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)
Bab 40. Itu Beneran Alan?


__ADS_3

Alan baru saja menghubungi Dini bahwa ia hampir sampai ke rumah. Saat itu, Dini sudah selesai masak. Walaupun awalnya sangat susah Dini menyakinkan mbak Sri kalau ia ingin memasak. Mbak Sri takut dimarahi jika membuat nona mudanya bekerja di dapur. Namun, Dini juga bersikeras untuk tetap ingin memasak dan pada akhirnya mbak Sri membiarkannya.


Dini sudah menyiapkan makanannya di meja makan. Ia begitu puas dengan hasil masakannya. Ada dendeng sapi, sayur capcay, dan telur puyuh balado. Lalu, tidak lama, Alan pun masuk ke rumah. Dini buru-buru menyambut Alan dengan mencium punggung tangannya. Tanpa basa-basi lagi, Dini pun mengajak Alan makan bersama.


Sesampainya di meja makan, Alan mengerutkan dahinya ketika melihat menu yang tidak biasa itu. "Ini pasti kamu yang masakkan?", tebak Alan pada Dini.


Dini pun menjadi tersenyum, "Iya...... Mas...".


"Uhuk.. uhuk...", Alan tersedak saat minum segelas air putih yang ada di hadapannya kala mendengar ucapan tak biasa dari Dini. "Kamu bilang apa tadi?", tanya Alan yang ingin memastikannya lagi.


"Tadi kan Mama nyuruh kita untuk manggil pakai panggilan sayang...."


"Iya.. Coba ulangi lagi. Aku mau dengar", pinta Alan sumringah.


"Iya, Mas Alan", jawab Dini sambil menekan kata-katanya. "Udah, ah", ucap Dini malu yang melihat Alan terus tersenyum padanya.


***


Cuaca panas di luar, kini tergantikan dengan udara sejuk saat berada di dalam gedung mall. Alan terus saja menggandeng jemari Dini sambil berjalan mengelilingi mall. Dan tidak di pungkiri, Dini juga sangat senang bisa berada di sana. Karena ia merasa sudah lama sekali tidak datang ketempat itu.


Mereka pun memasuki toko pakaian. Alan mempersilahkan Dini untuk membeli apapun yang dia inginkan. Lalu, Dini memilah-milah pakaian demi pakaian. Dia melihat harga yang begitu mahal. Ia menjadi merasa tidak enak harus menghabiskan banyak sekali uang suaminya. Tapi, dia juga takut membuat Alan malu jika ia tidak jadi membeli baju-baju itu.


Ada dua model baju yang dia suka. Dan harganya sama-sama mahal. Dia hanya ingin memilih salah satunya. Namun, karena bingung harus pilih yang mana, ia kemudian membawa baju-baju tersebut ke hadapan Alan dan menanyakan pendapat Alan.


"Mbak.. Mbak..", panggil Alan pada pegawai toko tersebut.


Dini menjadi bingung. Bukannya memilihkan baju untuknya, malah Alan memanggil pegawai toko. Dini pun menjadi manyun karena tidak mendapatkan respon yang baik dari Alan.

__ADS_1


"Iya Pak, ada yang bisa saya bantu", ucap pegawai wanita itu saat berada di antara mereka.


"Saya ambil dua baju yang di pilih istri saya ini ya", ucap Alan yang menunjuk pada Dini.


Dini ternganga mendengar jawaban dari Alan. Ia tidak menyangka Alan akan membelikan kedua-duanya tanpa melihat lebel harga yang tergantung di baju tersebut.


"Tapi Mas, harganya...", ucap Dini pelan untuk memberitahukan harga baju tersebut yang mungkin Alan lupa melihatnya.


"Sayang, kamu boleh ambil yang mana aja yang kamu mau. Okay", jawab Alan yang tersenyum sambil memegangi kedua pundak Dini.


"Oh iya, sultan mah kagak perlu ngeliat harga. Nggak seperti rakyat jelata kayak aku, hiks", gumam Dini saat Alan sudah pergi dari hadapannya untuk memilih baju juga.


Dan akhirnya, Dini pun kembali melihat-lihat baju yang akan ia beli. Dan setelah beberapa lama, mereka pun selesai membeli beberapa baju. Saat keluar dari toko tersebut, Dini ingin ke toilet.


Saat Dini baru saja masuk ke dalam toilet, ia mendengar ada yang memanggil dirinya. Wanita itu ingin meminta bantuan Dini untuk mengambilkan tisu karena di dalam biliknya airnya tidak keluar dan tidak ada tisu juga. Dini melihat ada tulisan "Toilet rusak" di pintu bilik yang sedang wanita itu pakai. Dengan sigap Dini mengambilkan beberapa lembar tisu dan juga seember air untuknya, ketika ia melihat ada ember di sudut ruangan itu.


"Kenapa kamu masuk ke situ? Kan udah ada tulisannya, toilet rusak?" tanya Dini yang penasaran.


Kemudian, wanita itu berbalik badan melihat apa yang di bilang oleh Dini. Saat melihatnya, wanita itu pun tertawa membuat Dini juga ikut tertawa.


"Tadi itu, entah kenapa perut aku mules banget. Jadi aku buru-buru masuk, dan nggak ngebaca tulisan itu sama sekali", jelas wanita itu. "Aku udah sempat panik tadi, untungnya nggak lama kamu masuk. Sekali lagi makasi ya", lanjutnya.


"Iya sama-sama", jawab Dini sambil tersenyum.


"Oh iya, kamu sendirian?", tanya Sonia.


"Aku bareng suami", jawab Dini sambil tersenyum.

__ADS_1


"Yah, aku kira kamu sendirian. Biar sekalian kita bareng, hehehe", ucap Sonia.


Mereka pun keluar dari Toilet bersamaan. Di luar, Dini langsung menunjuk seorang pria yang sedang menunggunya dari kejauhan. Pria itu menghadap kearah lain yang membuat Sonia tidak dapat melihat wajahnya. Kemudian, Dini pamit dan langsung bergegas menemui suaminya. Sonia masih penasaran, ia seperti tidak asing dengan pria itu. Dan benar saja, saat berbalik arah untuk melihat Dini, Sonia terkejut melihat pria itu adalah Alan.


Alan? Itu beneran Alan? Tapi, bukannya Alan sudah.... Apa mungkin cuma mirip ya? Batin Sonia yang sangat bingung.


Sonia melihat kemesraan mereka berdua. Ia masih tidak habis pikir melihat pria yang sangat mirip dengan Alan itu. Hatinya begitu penasaran. Namun, tidak tahu harus bertanya pada siapa.


Di lain sisi, Alan mengajak Dini ke supermarket yang ada di mall itu juga. Mereka membeli berbagai cemilan dan tidak lupa Dini membeli bumbu dan bahan-bahan masakan yang ia perlukan untuk memasak.


Bruuk! Tiba-tiba Dini menabrak seseorang saat ia berjalan mundur mencari sesuatu di rak bahan makanan. Dini langsung meminta maaf pada orang tersebut atas kesalahannya.


"Kamu?", ucap Sonia yang tidak percaya bertemu lagi dengan Dini.


"Eh, kamu? Oh iya, namaku Dini. Tadi belum kenalan kan?", ucap Dini sambil tersenyum.


"Aku Sonia", jawab Sonia. "Pasti kamu suka masak ya?" tebak Sonia karena melihat Dini membawa banyak sekali bumbu masakan.


Dini tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian, Alan datang untuk menghampiri Dini. Ia membawa beberapa belanjaan untuk di masukkan ke dalam keranjang. Sonia begitu tidak percaya. Dari dekat Sonia merasa pria itu benar-benar Alan.


"Em, Pak Alan Mahendra?", tanya Sonia yang tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.


"Kamu kenal sama suami aku?", ucap Dini terkejut.


Deg! Sonia tidak menyangka pria itu benar-benar Alan, kekasihnya. Alan hanya tersenyum kepadanya tanpa mengatakan apapun. Sonia merasa ini benar-benar aneh. Alan seperti tidak mengenalnya. Dan dia telah menikah dengan wanita lain. Padahal sebelumnya Alan terlihat begitu sangat mencintai dirinya.


***

__ADS_1


__ADS_2