Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)

Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)
Bab 17. Menjadi Orang ke Tiga


__ADS_3

Saat hendak berangkat ke kebun, Abah mengingatkan Dini untuk tidak bertemu lagi dengan Wahyu. Karena para pekerja yang juga warga desa menanyakan kedekatan Dini dan Wahyu yang telah beristri. Mereka menyangka Dini adalah orang ketiga di antara Wahyu dan Bella.


"Abah mohon sama kamu. Jangan buat Abah malu. Dan jangan kamu merusak reputasimu sendiri!", ucap Abah yang kesal dengan sikap Dini.


"Abah jangan salah sangka dulu, kami cuma berteman kok. Apa salah kalau kami menjadi teman?", jawab Dini yang tidak ingin di salahkan.


"Tidak, tidak salah kalau dia jadi temanmu. Tapi, itu sebelum dia menikah. Lagian, mana ada seorang gadis dan seorang pria beristri mempunyai kedekatan yang setiap hari berjumpa dan makan bersama itu di namakan teman. Yang ada teman makan teman!", balas Abah yang emosinya mulai naik.


"Abah....", ucap Dini tapi, ia belum sempat menyelesaikannya.


"Cukup! Apa kamu sadar, kamu menjadi orang ketiga diantara Wahyu dan istrinya? Apa kamu tidak pernah berpikir bagaimana hancurnya hati Abah dan Emak saat mendengarkan informasi seperti ini? Dimana akal sehat kamu Din? Abah tau kamu cinta dengannya! Tapi, pria baik-baik bukan cuma dia saja di dunia ini! Abah benar-benar kecewa padamu kali ini!", ungkap Abah yang langsung marah lagi karena Abah menganggap kalau Dini egois dan tidak memikirkan perasaan orang lain. Apapun alasannya Abah telah memutuskan jika Dini tidak perlu lagi membantu Abah di kebun maupun di peternakan.


Mata Dini mulai berkaca-kaca. Ini sungguh tidak adil bagi Dini. Hanya karena ia berdekatan dengan Wahyu, Abah langsung menghalangi Dini untuk bekerja di kebun dan di peternakan. Dini telah memohon-mohon pada Abah agar menarik ucapannya. Tapi, Abah tidak bisa dibantah. Sekali Abah mengatakan tidak maka, artinya tidak. Dan itu membuat Dini semakin sedih dan kecewa.


Abah menyuruh Dini untuk masuk ke dalam kamarnya. Dengan langkah gontai Dini mengikuti perintah Abah sambil menangis. Abah juga memerintahkan Emak agar selalu memantau Dini dan tidak boleh membiarkan Dini keluar atas seizin dari Abah.


Sedangkan Tejo sudah berangkat ke kebun tanpa sarapan terlebih dahulu seperti biasanya. Emak mengadu pada Abah mengenai hal ini. Itu karena Emak merasa khawatir pada Tejo. Apalagi pekerjaan Tejo termasuk berat. Kalau sempat dia tidak sarapan bisa-bisa tubuhnya lemas dan akan menjadi sakit.

__ADS_1


Abah paham dengan apa yang Emak khawatirkan. Abah mencoba menenangkan Emak dan berjanji akan mengingatkan Tejo sarapan nanti saat Abah menemuinya di kebun.


Dan di kebun, Tejo sangat serius dengan pekerjaannya. Ia tidak memikirkan perutnya yang lapar. Rasa marah di hatinya lebih besar ketimbang rasa lapar di perutnya. Dengan uang yang telah ia terima dari Abah, sekarang Tejo memilih akan membeli makanan sendiri dari pada makan di rumah Dini dan bertemu dengannya.


"Jo", seseorang memanggil sambil menepuk pundak Tejo dari belakang.


Tejo menghentikan pekerjaannya dan melihat kearah belakang, "Eh, Abah. Ada apa Bah? Tumben Abah jam segini sudah datang?"


"Kamu kenapa nggak sarapan di rumah Jo? Emak khawatir loh sama kamu. Apa ada masalah Jo?", tanya Abah yang juga mengkhawatirkan Tejo.


"Saya, saya merasa malu aja kalau terus-terusan menikmati kebaikan Abah dan Emak. Saya inikan hanya orang asing yang numpang di rumah Abah di tambah lagi di beri pekerjaan sama Abah. Masa sarapan saja saya harus menumpang juga. Dengan gaji yang saya terima, saya bisa kok Bah beli makanan sendiri. Atau saya cari rumah sewa disini aja ya Bah. Biar nggak terjadi fitnah gitu", jawab Tejo panjang lebar yang memang ingin menjauh dari Dini.


"Emangnya, Abah punya salah sama kamu sampai kamu mau cari rumah sewa?", tanya Abah dengan wajah cemberutnya.


Tejo menundukkan kepalanya lalu menggelengkannya. Ia sangat takut Abah memarahinya karena sudah lancang ingin pindah dari rumah Abah.


"Lalu? Emak? Apa Emak punya salah padamu?", tanya Abah lagi.

__ADS_1


Dan lagi-lagi, Tejo menggelengkan kepalanya. Ya, memang ini bukan salah Abah atau pun Emak. Apakah mereka sesayang itu pada Tejo sampai sebegitunya mengkhawatirkan Tejo.


"Terus kenapa Jo? Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan Abah? Oh, atau karena Dini? Apakah Dini membuatmu kecewa?", tebak Abah.


Tejo masih saja tertunduk. Tapi, kali ini tebakan Abah tepat. Tejo memang sedang kecewa dengan Dini. Ia begitu mencintai Dini. Sampai-sampai ia juga mengatakan perasaannya pada Dini. Ia pikir, Dini juga mencintainya dan akan langsung menerima cintanya. Padahal Tejo akan ikhlas walaupun ia akan hanya menjadi pelampiasan Dini. Namun, semua dugaan Tejo salah. Dini malah memilih kembali pada Wahyu yang telah memberikan luka padanya. Tapi, Tejo tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan Dini tidak mau mendengarnya dan menyebutnya sebagai orang asing yang tidak perlu ikut campur pada urusannya.


"Jo, benarkah semua ini karena Dini? Apakah kamu benar-benar cinta dengannya?" tebak Abah lagi yang sangat ingin tahu jawaban dari Tejo.


Tejo lalu tersenyum, "Abah, tidak pantas rasanya saya mencintai anak Abah. Terlalu lancang sepertinya. Terlebih saya ini hanyalah orang asing yang bahkan tidak tahu jati diri saya sendiri. Abah tidak perlu khawatir. Saya hanya tidak ingin merepotkan Abah dan Emak. Saya kan seorang pria jadi, sudah seharusnya saya bisa mandiri".


Abah menggelengkan kepalanya, ia merasa sedih mendengar jawaban Tejo, "Tapi, yang Abah liat mata kamu mengatakan lain. Abah ingat kamu pernah menyatakan cinta pada Dini. Kamu tidak bisa berbohong Jo".


Ya, Tejo tidak bisa mengelak lagi. Abah tahu Tejo sedang terluka hatinya. Lalu, Abah pun memeluk Tejo untuk sedikit menenangkan hatinya. Tejo menerima perlakuan Abah terhadap dirinya. Ia seperti merasakan pelukan seorang ayah padanya.


Dan pada saat itu tiba-tiba saja terdapat sebuah bayangan di benak Tejo. Bayangan itu, sama persis dengan apa yang sedang ia lakukan sekarang. Yaitu berpelukkan dengan seorang ayah. Tapi, Alan tidak bisa mengingat wajah yang ada di dalam bayangannya itu. Dan Alan pun merasa kesakitan di bagian kepalanya. Ia merintih sambil memegang kepalanya. Abah pun menjadi terkejut melihat Tejo yang kesakitan.


"Jo, ada apa?", tanya Abah panik sambil memegang tubuh Tejo yang hampir terjatuh.

__ADS_1


Tejo mencoba menenangkan dirinya. Ia mengatur napasnya perlahan. Setelah itu Tejo hanya bilang dirinya tidak apa-apa. Karena hal tersebut sering terjadi saat ada bayangan yang terlintas di benaknya. Abah tidak bisa bilang apa-apa lagi. Karena memang sepertinya Tejo ingin menghindari mereka.


***


__ADS_2