
Semenjak kepergian Alan, maka Bobby lah yang menjadi pengganti Alan sebagai CEO. Semenjak itu juga Bobby merasa paling berkuasa di perusahaan tersebut.
"Bagus ya, kerja sambil ngemil. Kamu kira ini perusahaan nenek moyang kamu! Kalau kerja itu fokus! Kalau kamu seperti ini lagi, saya tidak segan-segan memecat kamu!", Bobby sedang memarahi salah satu karyawannya yang ketahuan mengemil pada saat kerja.
"Dan ini, kenapa tempat ini sudah seminggu tidak ada penghuninya! Kemana dia?", lanjut Bobby lagi.
"Itu tempat Fitri Pak, dia lagi cuti melahirkan", jawab salah seorang karyawan dengan gugup.
Bobby tampak diam saja namun, raut wajahnya terlihat tidak suka dengan jawaban itu. Selain itu, Bobby juga semena-mena membuat peraturan membuat karyawan di sana merasa tidak nyaman. Bahkan, sampai ada yang mengajukan keberatan dan langsung di pecat secara tidak terhormat olehnya.
"Ingat ya, kalau kalian tidak suka dengan peraturan yang saya buat, kalian bisa angkat kaki dari sini! Masih banyak orang di luar sana yang mau bekerja disini!", lanjutnya karena melihat wajah-wajah tidak suka terhadap dirinya.
Para karyawan itu memang sangat membutuhkan pekerjaan di perusahaan tersebut untuk mencari nafkah. Apalagi gaji yang di tawarkan lumayan besar. Dan karena itu juga Bobby tidak mau ada karyawan yang malas-malasan.
Ibnu pernah menegur Bobby tapi, Bobby selalu mempunyai alasan yang masuk akal. Sebenarnya perusahaan di tangan Bobby juga berjalan dengan baik dengan kedisiplinan yang di buatnya. Namun, Bobby menyalahgunakan kekuasaannya dengan menghamburkan uang perusahaan untuk kesenangannya sendiri. Tapi, sampai saat ini Ibnu belum tahu sebab data keuangan masih bisa di tutupi oleh Bobby.
Di lain sisi, Gilang yang mengetahui hal itu sangat gatal ingin mengadukannya pada Ibnu. Namun, Gilang tidak punya bukti untuk menuduh Bobby. Gilang sudah berusaha mencari bukti-bukti tapi tidak ia temukan. Bobby bermain dengan sangat rapi. Sampai Gilang di pindahkan ke bagian pemasaran untuk melancarkan aksinya.
Gilang pun mengancam Bobby. Tapi, Bobby tidak merasa takut karena ia yakin Ibnu dan lainnya tidak akan menemukan kesalahan di data keuangan. Malah, Bobby balik mengancam akan memecat Gilang jika Gilang tetap kuekueh untuk mengadu pada Ibnu. Jika bukan karena prestasi yang bagus, Bobby sudah memecatnya dari dulu.
__ADS_1
Hari ini, Bobby lagi-lagi tidak masuk kantor dan Gilang mengetahuinya. Gilang sudah bertekad untuk membongkar kebusukkan Bobby. Dia sudah tidak perduli lagi dengan ancaman Bobby. Namun, ada satu masalah lagi yaitu tangan kanan Bobby.
Gilang berniat untuk memasuki ruangan Bobby untuk mencari bukti-bukti kebusukkan Bobby. Tapi, tidak mungkin ia ke ruangan Bobby tanpa melewati Jhony, si tangan kanan Bobby. Gilang masih memikirkan sebuah rencana. Karena bagi Gilang tidak ada waktu lagi untuk menunggu lebih lama.
Jam 12 siang, Gilang mengajak Rere dan Doni untuk makan siang bersama. Ya, Gilang berniat untuk mengajak mereka bekerja sama untuk mengungkapkan kebusukkan Bobby.
"Gila kamu Lang. Aku takut ah, kamu tau sendiri Pak Bobby seperti apa. Bisa-bisa aku di pecat", ungkap Rere yang langsung ketakutan oleh ajakan Gilang.
"Ayo dong Re. Ini demi perusahaan ini supaya sistemnya kembali lagi seperti sedia kala", pinta Gilang.
"Duh lang, aku nggak sanggup ah. Kamu cari orang lain aja deh. Emangnya kamu bisa jamin kalau kita nggak bakalan di pecat?", lanjut Rere yang merasa tidak nyaman.
"Ya udah gini aja deh. Aku bakal pastikan kalian tidak akan di pecat. Pokoknya aku ada cara deh biar kalian terlihat tidak terlibat", ungkap Gilang dengan yakin.
Rere dan Doni tampak berpikir. Gilang pun masih berusaha meyakinkan mereka. Lalu setelah beberapa kali di bujuk, akhirnya Rere dan Doni pun setuju untuk membantu Gilang. Gilang sangat senang dan ia langsung menceritakan rencananya.
***
"Aku kan udah bilang aku nggak sengaja, kok kamu nyolot gitu sih! Terus aku harus gimana?", bentak Rere pada Doni.
__ADS_1
"Dari tadi nggak sengaja, nggak sengaja mulu yang kamu bilang. Kamu tau gak, nggak sengaja kamu ini udah buat laporan yang lainnya berantakan! Arrgghhh", balas Doni yang tak kalah marah dan di akhiri dengan memukul meja.
"Ya, udah terus aku harus gimana! Gimana! Biar kamu puas!", jawab Rere berteriak-teriak sambil mengeluarkan air matanya.
Suasana di kantor itu pun jadi ricuh. Pasalnya Doni marah pada Rere yang telah salah memasukkan angka penjualan dan berimbas kepada laporan yang lainnya.
Kericuhan itu pun terdengar sampai ke telinga Jhoni. Dengan sigap Jhoni mendatangi orang-orang yang membuat rusuh itu. Sesampainya di sana, Jhoni langsung melerai pertengkaran itu dan meminta alasan pada mereka atas terjadinya keributan itu.
Gilang tengah bersembunyi dibalik tembok, melihat Jhoni dan lainnya yang tengah sibuk melerai Rere dan Doni. Karena sudah di rasa aman, Gilang pun bergegas pergi mengarah pada ruangan Bobby. Sampai di depan pintu ruangan Bobby, Gilang merogoh kantung celananya untuk mengambil sebuah kunci yang telah lama ia pegang.
Perlahan Gilang masuk ke dalam ruangan itu. Lalu, ia menguncinya kembali dari dalam. Ia pun segera mencari bukti-bukti di tempat itu. Gilang membaca satu-persatu berkas yang ia temukan di ruangan tersebut. Lalu, pada akhirnya dia pun menemukan sesuatu. Gilang lalu membawa berkas-berkas itu dan di simpan di dalam bajunya.
Kemudian, ada sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dan ternyata itu adalah pesan dari Doni. Ia mengirimkan pesan bahwa dirinya dan Rere sudah selesai menjalankan misi mereka. Namun, Gilang masih berada di dalam ruangan Bobby. Jika Gilang keluar begitu saja, maka dirinya akan ketahuan.
Gilang pun punya ide untuk menghidupkan alarm kebakaran yang ada di ruangan Bobby. Suara nyaring itu pun terdengar oleh semua orang yang berada di gedung perusahaan itu. Mereka pun buru-buru berlari berhamburan. Dengan demikian, Gilang bisa tenang keluar dari ruangan itu tanpa di curigai siapapun.
Gilang berjalan keluar dan langsung menuju parkiran. Ia melajukan mobilnya dengan bukti yang telah dibawanya. Sedangkan yang lain belum tahu aksi Gilang. Mereka masih panik berhamburan keluar gedung. Setelah beberapa menit kemudian, mereka baru menyadari jika alarm yang mereka dengar adalah alarm palsu. Tidak ada kejadian kebakaran di gedung kantor mereka.
Kejadian tersebut membuat mereka geram termasuk Jhoni. Jhoni langsung menyuruh seseorang untuk memeriksa CCTV untuk mengetahui siapa orang yang sudah iseng membunyikan alarm tersebut.
__ADS_1
***