
Kini Dini dan Bella duduk di teras rumah Dini. Bella menjelaskan apa yang terjadi pada Tejo tadi. Dini yang mendengarnya sangat sedih. Karena, Tejo terlihat sering sakit kepala. Ia begitu khawatir. Dan, sebelumnya Bella juga sempat mengatakan ingin berbicara pada Dini. Tapi, saat mereka sudah sudah selesai membicarakan Tejo, mereka hanya saling diam. Tidak tahu harus dimulai dari mana.
"Maaf ya Bel. Kamu pasti marah banget sama aku", ucap Dini membuka pembicaraan karena ia tau kemana jalan percakapan mereka.
"Ya, sangat. Aku sangat marah padamu. Kenapa Din? Kenapa kamu melakukan hal itu? Kamu masih saja dekat dengan Mas Wahyu padahal kamu tahu Wahyu telah memiliki istri", jawab Bella sambil memberikan pertanyaan juga pada Dini.
Dini menundukkan kepalanya. Ia sadar dirinya bersalah dan ia sangat malu pada Bella. Tapi, Dini bingung harus menjelaskan apa pada Bella. Apakah dia harus mengungkapkan isi hatinya semua pada Bella?
"Aku, aku hanya ingin memastikan. Apakah aku masih mencintai Wahyu atau tidak".
"Lalu, apa yang kamu dapatkan?"
Dini menggelengkan kepalanya, "Aku rasa, cintaku pada Wahyu sudah tidak ada lagi. Karena saat bersama Wahyu pun aku hanya memikirkan Tejo. Aku rasa hatiku benar-benar telah memilih Tejo".
"Bagus dong. Karena Tejo juga cinta sama kamu", ucap Bella.
"Aku tau. Karena Tejo pernah mengatakannya padaku. Tapi, aku takut Bel", ucap Dini lirih.
"Takut? Takut kenapa?", tanya Bella bingung dan penasaran.
__ADS_1
"Saat ini Tejo memang mencintaiku. Tapi, bagaimana nanti setelah ia mendapatkan ingatannya kembali? Tidak ada kepastian bahwa Tejo akan tetap cinta padaku. Di tambah lagi bagaimana jika di kehidupan Agra ia telah berkeluarga. Hatiku akan hancur untuk kedua kalinya Bel", jelas Dini dengan wajah yang begitu sedih.
Ya, memang ucapan Dini tidak salah juga. Wajar jika Dini takut patah hati lagi. Bisa-bisa hatinya tidak dapat disatukan kembali. Bella menjadi bingung harus bilang apa pada Dini. Ini memang hal yang sangat sulit. Bella baru paham sekarang apa yang sedang Dini alami.
"Kamu tidak usah berkecil hati Din. Lakukan saja apa yang hati kamu kehendaki. Jika hatimu menginginkan Tejo maka, berikanlah. Setidaknya kamu tidak perlu membohongi hati kamu dan Tejo. Urusan jodoh itukan di tangan Allah. Kalau pada akhirnya Tejo tidak menjadi milik kamu, berarti memang itulah kehendak Allah. Jodoh kamu kan sudah tertulis dan nggak mungkin tertukar. Jadi apa yang kamu takutkan? Jalani aja Din. Ya, aku berharap kalian memang berjodoh", jelas Bella panjang lebar untuk menyemangati Dini.
Dini menundukkan kepalanya. Ia sangat malu pada Bella yang begitu bersikap dewasa, lain dengan dirinya. Ia mencerna ucapan Bella. Dan Dini juga setuju dengan apa yang Bella ucapkan. Tidak ada yang perlu ia takutkan. Kalau memang dirinya berjodoh dengan Tejo, pasti mereka akan bersatu.
"Makasih ya Bel aku sedikit lega sekarang", ucap Dini sambil memandangi Bella.
Tapi, Bella seperti sedang melihat sesuatu di belakang Dini. Dan Dini mengikuti arah mata Bella memandang. Dini melihat kebelakang dan ternyata ada Wahyu yang sedang melihat mereka dari kejauhan. Wahyu menghentikan sepeda motornya di tepi jalan dan memperhatikan mereka.
"Sepertinya tidak. Aku sudah tidak mencintai Wahyu. Di paksa pun tidak bisa. Hatiku sudah tertuliskan nama Tejo. Aku benar-benar cinta pada Tejo. Tapi, aku harap kalian tidak pernah bercerai", jawab Dini. "Maafin aku. Semua ini karena ulah bodohku....".
"Udahlah Din. Kalau dari awal Wahyu mengerti arti pernikahan ini semua tidak akan terjadi. Kamu dekat dengannya pun itu karena ulahnya juga yang tidak bisa menjaga dirinya. Ya, sudah aku pulang dulu ya", jawab Bella lalu memeluk Dini.
Bella pun berlalu meninggalkan Dini. Ia menghampiri Wahyu dan menanyakan ada keperluan apa Wahyu ke rumah Dini. Lalu Wahyu menegaskan ia hanya ingin menjemput Bella. Karena motornya telah di bawa pulang oleh orang suruhannya. Jadi dia ingin mengajak Bella pulang bersamanya. Dan akhirnya, Bella mau dan ikut dengan Wahyu.
Sedangkan Dini, ia masih saja khawatir dengan keadaan Tejo. Ia kembali lagi ke kamar Tejo dan mengetuk pintu sambil memanggil nama Tejo. Tidak lama, Tejo pun membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
"Jo, kamu sudah baikan?", tanya Dini khawatir.
Tapi, Tejo hanya diam memandangi Dini sangat tajam. Seperti Elang yang sedang melihat mangsanya. Dini pun menundukkan kepalanya. Merasa takut dan sangat bersalah pada Tejo.
"Maafin aku Jo. Aku nggak bermaksud melukai hatimu. Aku cuma ingin memastikan apakah aku mencintai Wahyu atau aku mencintai dirimu. Jujur Jo aku sangat takut kehilanganmu. Suatu saat nanti, saat ingatanmu telah kembali kamu akan pergi dariku. Dan aku tidak bisa Jo. Karena aku sangat mencintaimu", ucap Dini dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Kini Tejo tau alasan Dini. Tejo paham apa yang Dini rasakan sekarang. Dia pun tidak punya jawaban. Dini patut untuk takut karena memang dirinya pun tidak tahu seperti apa kehidupannya yang sebelumnya. Tejo menjadi kasihan pada Dini. Walaupun dia senang Dini mengakui kalau ia mencintai Tejo juga. Tapi, apakah Tejo boleh egois? Karena saat ini yamg ada dihatinya cuma Dini dan dia sangat menginginkan Dini.
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang? Maaf telah membuatmu memikirkan hal ini sendirian. Dan kalau kamu ingin menjauhiku ya sudah tidak apa-apa. Aku akan mencoba untuk mengerti", jawab Tejo sambil memegang pundak Dini.
"Sudah aku coba untuk menjauhimu. Tapi, yang aku dapat adalah rindu. Rasanya hari-hariku tidak lengkap tanpa kehadiran kamu. Aku sudah terbiasa denganmu. Dan tidak bersama denganmu itu sangat menyiksaku", jawab Dini sambil mengeluarkan air matanya.
"Aku hanya tidak ingin kamu terluka dan kecewa karena diriku. Ucapan kamu bisa saja benar. Saat ingatanku kembali aku akan pergi darimu tanpa merasa bersalah sedikitpun", jawab Tejo yang hatinya juga terasa perih.
Dini sudah mulai terisak-isak, " Tidak apa-apa Jo. Aku sudah memutuskan tidak akan menjauhimu lagi. Aku sudah siap jika suatu saat kamu akan meninggalkan ku. Yang penting sekarang aku bisa jujur pada hatiku kalau aku mencintaimu. Kita akan selalu bersama sebelum waktu itu tiba. Aku percaya pada takdir Allah. Jika kita berjodoh, kita pasti akan bersatu".
Melihat Dini yang menangis, hati Tejo pun merasa seperti teriris. Pasalnya dirinyalah yang telah membuat Dini menangis dan terluka. Disini Dini lah yang akan banyak berkorban untuk cintanya. Dan juga akan banyak terluka nantinya jika memang Tejo akan meninggalkannya.
Ya Allah bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa membiarkan Dini begitu banyak berkorban dan menderita hanya karena mempertahankan cinta ini. Cinta yang mungkin tidak akan bisa membuat kami terus bersama, batin Tejo yang kini merasa gundah.
__ADS_1
***