
Di dalam kamar Alan dan Dini.
"Ya udah, di coba lagi deh. Pelan-pelan aja. Atau coba di basahi dulu biar tegang. Jadi gampang masuknya", ucap Alan yang terus memperhatikan Dini yang fokus memasukkan benang itu.
"Duh, susah banget... nggak masuk-masuk. Loyo banget sih!", ucap Dini yang sudah kesal.
"Sabar Din. Sini deh biar aku coba...", ucap Alan ingin merebut jarum dan benang dari tangan Dini.
"Udah, biar aku aja", Dini kembali menarik jarumnya.
Karena sama-sama penasaran dan juga berebut ingin memasukkan benang. Akhirnya tanpa di sengaja jarum itu menusuk tangan Dini.
"Aaauuhh Ssshh!", teriak Dini kesakitan.
Dari luar Mira yang mendengarnya terkejut dan langsung menutup mulutnya. "Jebol!", ucapnya pelan dan ia sangat senang. Mira pun berjinjit pelan-pelan balik lagi ke kamarnya. Ia lupa dengan air minum yang ingin di ambilnya. Ia tidak sabar ingin menceritakan kejadian itu pada suaminya.
Sedangkan di dalam kamar Alan dan Dini, mereka masih berusaha memasukkan benang tersebut ke dalam lubang jarum. Lalu Dini teringat sesuatu. Ia mencoba menggunting benangnya dengan cara horizontal. Jadi, ujung benang menjadi lancip. Dan benar saja akhirnya benang itu pun dan masuk ke lubang jarum. Kemudian Dini pun mulai menjahit kedua kancing baju itu yang terlepas. Setelah selesai, Alan langsung memakainya. Ia mengucapkan terima kasih kepada Dini dengan mengecup kening Dini.
Lalu di kamar Mira dan Ibnu. Mira masuk ke kamar dengan kegirangan. Membuat Ibnu merasa keheranan. Ia pun menanyakan apa yang sedang dialami Mira sampai begitu bahagianya.
"Pa.. Pa.. Ada kabar baik Pa", ucap Mira yang duduk di sofa di samping Ibnu.
Ibnu mengerutkan dahinya namun, matanya tetap ke arah laptop yang ada di hadapannya. Ada banyak laporan yang harus ia lihat.
"Papa tau nggak. Tadi, pas Mama mau lewat kamar Alan dan Dini, Mama dengar mereka lagi itu Pa", sambung Mira menggebu-gebu.
Mendengar hal itu, Ibnu pun menjadi menghentikan pekerjaannya dan langsung memandang wajah istrinya. Tidak bisa di pungkiri ia juga penasaran dengan apa yang ia dengar.
__ADS_1
"Tau nggak Pa. Mama dengar awalnya mereka kesulitan. Ih lucu banget deh kalau Papa dengar ya, pasti papa ketawa deh. Tapi, begitu Mama dengar Dini menjerit kesakitan, Mama yakin mereka udah berhasil Pa", oceh Mira panjang lebar.
"Jadi, bentar lagi kita dapat cucu dong Ma?", tanya Ibnu yang ingin memastikan.
"Iya Pa", jawab Mira kegirangan.
Tapi, bukan hanya Mira, bahkan Ibnu juga ikut kegirangan mendengar dirinya akan menjadi seorang kakek. Mereka berdua pun berpelukkan karena bahagia akan segera mendapatkan cucu.
***
Keesokan paginya, mereka sarapan bersama. Tapi, ada sesuatu yang aneh menurut Dini dan Alan. Mereka melihat Ibnu dan Mira terus tersenyum-senyum membuat mereka keheranan. Mereka tersenyum sambil lirik-lirikkan dan juga sambil melihat ke arah Alan dan Dini.
Dini dan Alan juga saling berpandangan. Mereka tidak mengerti apa yang sedang menimpa kedua orang tua itu.
"Mama sama Papa kenapa sih? Aneh banget senyum-senyum terus", tanya Alan sambil mengunyah makanannya.
"Uhuk.. uhuk...", Dini terbatuk-batuk setelah mendengar ucapan Mira.
Dini tidak habis pikir Mira mengatakan hal seperti itu. Padahal dirinya dan Alan belum melakukan hubungan intim itu. Tapi, Dini berpikir mungkin kedua mertuanya itu memang sangat menginginkan seorang cucu.
Alan mencoba menenangkan Dini dengan menepuk-nepuk punggung Dini. Lalu, Mira memberikan segelas air pada Alan untuk diberikan ke pada Dini. Alan pun membantu Dini untuk minum. Saat minum, Dini melihat wajah Alan. Ia jadi berpikir bagaimana cara meminta sesuatu itu. Ini sangat memalukan jika dirinya sebagai wanita meminta lebih dahulu. Tapi, ia kasihan dengan mertuanya yang begitu mengharap seorang cucu.
"Kamu nggak apa-apa Din?", tanya Mira yang khawatir.
"Nggak apa-apa kok Ma", jawab Dini kikuk.
Mereka pun melanjutkan sarapan. Setelah beberapa saat, mereka pun menyelesaikannya. Ibnu dan Alan langsung berpamitan pergi ke kantor. Karena pagi ini mereka akan benar-benar sibuk. Sekalian mereka ingin menyampaikan undangan untuk pesta pernikahan mereka lagi nantinya.
__ADS_1
"Oh iya Din, nanti jam makan siang aku pulang ya. Setelah itu, kita belanja", ucap Alan sebelum pergi.
"Belanja? Belanja apa?", tanya Dini bingung.
"Belanja keperluan kamu".
"Em, nggak usah deh. Kayaknya masih....".
"Udah nggak apa-apa", sahut Mira. "Mama setuju. Pokoknya nanti kalian berdua pergi belanja. Dan satu lagi. Kayaknya kalian mesti ada panggilan sayang deh. Biar makin mesra gitu", sambung Mira semangat.
Alan menyetujui ucapan ibunya. Namun, Alan ingin memikirkannya nanti saja. Karena ia buru-buru harus berangkat ke kantor. Dan sebelum Alan pergi, Dini mencium punggung tangan Alan. Wajahnya terlihat merona karena malu. Walaupun malu tapi, Dini harus melakukannya. Alan juga merasa senang dengan hal tersebut. Ia membalasnya dengan kecupan di dahi Dini. Mira yang melihat adegan tersebut juga tersenyum bahagia melihat keharmonisan mereka. Setelah itu, Alan dan Ibnu pun pergi.
"Din, Mama juga harus pergi mau ketemuan sama teman-teman Mama. Kamu mau ikut nggak?", tanya Mira sebelum pergi.
"Em, Dini di rumah aja gak apa-apa ya Ma. Soalnya Dini masih capek banget", jawab Dini yang sebenarnya tidak enak menolak ajakan Mira.
"Ha..... I see.. I see...", jawab Mira yang mengingat betapa hebohnya kejadian tadi malam. "Iya nggak apa-apa kok. Kamu istirahat aja ya. Kalau gitu Mama pergi dulu ya sayang", lanjut Mira.
Dini pun mencium punggung tangan Mira. Setelah itu mereka cipika-cipiki (cium pipi kanan, cium pipi kiri).
Bodoh banget sih aku. Udah tau anak barusan perang tadi malam, malah di ajak pergi. Mana nanti juga dia mau pergi sama Alan. Duh, faktor U deh kayaknya ini. Ucap Mira dalam hati sambil tersenyum dan berlalu pergi.
Dini heran melihat Mira yang sejak tadi selalu tersenyum-senyum saat melihat dirinya. Ia merasa serba salah jadinya. Padahal ia tadi sempat takut, ibu mertuanya akan kecewa saat ia tolak ajakannya. Pasalnya, Dini memang masih capek karena acara pernikahannya dan juga perjalanan jauh menuju ke rumah barunya ini. Tapi, saat tahu alasannya, ibu mertuanya malah tersenyum lagi membuatnya berpikir, mungkinkah ada sesuatu yang salah padanya?
Dini hanya bisa menghela napas karena tidak tahu jawaban atas pertanyaannya sendiri. Ia pun menaiki anak tangga dan masuk ke kamarnya. Untuk merebahkan tubuhnya serta meregangkan otot-ototnya. Dini merasa sangat nikmat bisa bersantai di kasur lagi.
Ia tiduran sambil memikirkan apa yang akan dimasaknya nanti untuk suaminya. Karena katanya, Alan akan pulang siang nanti.
__ADS_1
***