Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)

Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)
Bab 43. Gaun Pernikahan


__ADS_3

Nyaman. Sangat nyaman. Begitulah yang di rasakan Dini saat ini. Ia tidur dalam pelukan suaminya yang keduanya sedang berbalut dengan selimut. Tidak terasa waktu subuh telah tiba. Dini perlahan membuka matanya. Dan yang dia lihat pertama kali adalah wajah tampan suaminya yang masih tertidur. Ia mengembangkan senyumnya karena terpesona melihat wajah Alan.


Kemudian, ia tersadar dan harus segera mandi. Namun, dirinya juga baru sadar jika tubuhnya... Ya, tidak memakai sehelai benang pun. Ia juga merasa kesulitan untuk menggerakkan tubuhnya karena terkunci oleh tubuh Alan. Dan, mau tidak mau ia harus membangunkan Alan.


"Mas... Mas... Bangun Mas, udah pagi", ucap Dini sembari menyentuh pipi Alan dengan jari telunjuknya.


Perlahan Alan membuka matanya. Ia tersenyum melihat wajah indah wanitanya itu. Bukannya melepaskan pelukannya, Alan malah semakin erat memeluk Dini karena masih gemas dengannya.


"Lepasin Mas. Aku mau mandi", rengek Dini dalam pelukan Alan.


Lalu, Alan pun melepas pelukannya. Namun, ia sempatkan untuk mencium kening Dini. Dan kini Dini bingung harus bagaimana. Secara baju-bajunya berserakan di lantai. Ia terus menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Loh kok masih diam di sini? Katanya mau mandi", tanya Alan yang heran melihat sikap Dini.


Akhirnya Dini menarik semua selimut itu dan membalutkannya di tubuhnya. Kini Dini sudah seperti dadar gulung. Ia berjalan kearah kamar mandi dengan cosplay dadar gulungnya.


"Cie, yang mau keramas", ucap Alan menggoda Dini.


"Yah, ini semua juga gara-gara kamu, Mas", jawab Dini sebelum ia masuk ke kamar mandi.


***


Dini sudah berpakaian rapi, kemudian Alan baru saja keluar dari kamar mandi. Alan memakai pakaian yang telah disiapkan oleh Dini.


"Sayang, dasinya mana?", tanya Alan.

__ADS_1


Dini pun bergegas membuka lemari lalu, mengambil dasi di dalam laci lemari tersebut. Dini sudah menata ulang isi lemari itu. Karena ia ingin dirinya yang tahu letak barang-barang di lemari. Jadi, Alan menyuruhnya mencari sesuatu ia tidak akan kesulitan untuk mencarinya.


"Oh iya, sekalian sapu tangan juga ya, Sayang", perintah Alan lagi.


Dini tidak pernah membantah atau marah saat di suruh oleh Alan. Ia malah sangat senang bisa melayani suaminya.


"Kamu mau minum apa Mas? Kopi, teh, coklat panas?" tanya Dini sambil memasangkan dasi di leher Alan.


"Coklat panas aja deh kayaknya".


"Terus kamu mau sarapan apa?", tanya Dini lagi dengan memberikan sapu tangan kepada Alan.


"Roti panggang aja".


"Sayang, aku boleh minta tolong nggak? Ambilkan map kuning yang ada di meja kerjaku", pinta Alan.


Dini pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia berjalan ke arah ruang kerja. Saat itu ia berpapasan dengan ibu mertuanya.


"Kamu mau kemana Sayang?", tanya Mira.


"Mau ambil berkas di ruang kerja. Oh, iya. Mama mau sarapan apa? Biar Dini buatkan".


"Nggak perlu sayang. Nanti Mama buat sendiri. Kamu buatin sarapan untuk Alan aja ya", jawab Mira sambil mengelus bahu Dini. "Oh iya. Kamu siap-siap ya. Abis sarapan kita ke butik ya. Fitting baju".


Dini pun menganggukkan kepalanya. Kemudian, masing-masing mereka melanjutkan pekerjaannya. Setelah Dini mendapatkan berkas yang dimaksud Alan dan memberikannya pada Alan, ia pun bergegas ke dapur untuk membuat secangkir coklat panas dan roti panggang pesanan suaminya tadi.

__ADS_1


Dan beberapa saat, mereka telah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Di sela-sela makan, Mira menyampaikan bahwa dirinya dan Dini akan ke butik setelah ini untuk fitting baju gaun yang akan di pakai di pesta pernikahan nanti. Mereka pun mendapatkan persetujuan dari suami masing-masing.


***


Mira dan Dini telah tiba di salah satu butik yang cukup populer. Mereka pun masuk dan gaun-gaun indah yang di pajang itu begitu menarik perhatian mereka. Lalu, pemilik butik itu pun datang dan menyapa pelanggannya.


"Halo Tante", sapa Nuri sambil cipika-cipiki dengan Mira.


"Halo, Oh iya. Kenalin ini Dini, istri anak tante yang mau fitting baju".


Mira dan Nuri pun berjabat tangan. Dengan ramah, Nuri mempersilahkan Dini untuk mencoba bajunya. Nuri menyuruh pegawainya untuk membantu Dinda mengenakan gaunnya.


Beberapa saat mereka menunggu Dini selesai memakai gaunnya, akhirnya ia keluar juga dari ruang ganti. Mira begitu senang melihat Dini yang begitu cantik saat mengenakan gaun tersebut. Gaun berwana putih yang di lapisi brukat dan juga payet di bagian atasnya. Dan bagian bawahnya terdapat tiga lapisan. Namun, yang paling depan lapisan kainnya sangat lemas.


Mira sangat puas dengan pilihannya. Begitu juga dengan Dini. Walaupun ini adalah pesta yang kedua. Namun, masih ada rasa harap-harap cemas di hati Dini. Ia tidak tahu seperti apa tamu-tamu yang akan menghadiri acaranya nanti. Ada sedikit rasa takut jika dirinya akan membuat malu keluarga suaminya.


"Oh iya Nur. Tante lagi nyari makeup artis nih. Kira-kira kamu ada rekomendasi nggak?", tanya Mira.


"Kebetulan banget tante, aku juga menyediakan makeup artis".


"Wah, bagus itu. Kalau begitu sekalian aja pakai makeup kamu. Jadi, tante tidak pusing-pusing lagi mikirinnya", ujar Mira.


Dan akhirnya, Mira sedikit lega karena beberapa masalah sudah terselesaikan. Apalagi Dini yang menurut Mira tidak banyak permintaan. Ia selalu sependapat dengan dirinya. Lagian, apalagi yang harus di permasalahkan oleh Dini. Semua kemewahan ini sudah lebih dari cukup untuknya. Mengetahui keluarga suaminya yang begitu menerimanya dan menyayanginya ia sudah sangat bersyukur.


***

__ADS_1


__ADS_2