
Dini kini kembali berpisah dengan kedua orang tuanya. Kedatangan mereka membuat rasa rindunya sedikit berkurang. Namun, memang saat ini Dini harus lebih memilih ikut bersama suaminya. Semua harapan dan doa pun diberikan kepada kedua pasangan tersebut.
Dini kembali pada aktivitasnya sehari-hari setelah berakhirnya acara pesta pernikahan yang sangat meriah itu. Seperti biasa dengan telaten Dini mempersiapkan segala sesuatunya untuk Akan sampai Alan berangkat ke kantor. Lambat laun Alan menjadi semakin terbiasa semuanya di kerjakan oleh istrinya.
Lalu, di kantor. Orang yang tak kenal lelah untuk menjatuhkan Alan kini sedang berbincang dengan Alan. Mereka tampak sangat akrab. Beberapa kali mereka tertawa bersama. Ya, Bobby membiasakan dirinya untuk lebih dekat dengan Alan. Itu pun karena ada maksud dan tujuannya.
Namun, Alan masih saja belum mengerti. Ia tidak ingat apa yang dilakukan Bobby kepada dirinya hingga membuatnya hilang ingatan seperti saat ini.
Melihat Bobby yang begitu ramah padanya serta mendukung semua kebijakannya, Alan membuang jauh-jauh ucapan orang-orang mengenai Bobby. Pada kenyataannya, pada saat Alan kembali pun Bobby tidak pernah mengusiknya sama sekali. Kalau memang Bobby ingin melakukan hal buruk padanya sudah pasti Bobby telah melakukannya sejak ia kembali.
"Begini Al. Entah kenapa klien kita yang satu ini ingin bertemu dengan kamu. Gimana, kamu mau menemuinya? Asal kamu tau kerja sama dengan Pak Satya ini yang paling berpengaruh di perusahaan ini", ungkap Bobby sambil membujuk Alan.
Alan sempat menimbang-nimbang apakah ia harus pergi atau tidak. Karena Bobby begitu mendadak memberitahukan kepadanya. Tapi, setelah di pikir-pikir karena hari itu Alan tidak terlalu sibuk jadi, ia memutuskan tidak ada salahnya untuk bertemu dengan kliennya itu.
Mendengar persetujuan itu, Bobby begitu senang. Ia tahu tidaklah sulit membujuk Alan. Bobby langsung menyuruh Alan untuk bersiap-siap karena mereka akan pergi saat itu juga.
***
Dalam perjalanan, Alan sempat mengirimkan pesan kepada Dini jika, ia sedang menuju luar kota. Ia juga berpesan kepada Dini agar tidak menunggunya karena kemungkinan ia akan pulang larut malam.
Namun, entah mengapa pesan yang dilihatnya itu, membuat hatinya resah. Ia menyayangkan kepergian Alan begitu mendadak. Tapi, mau dikatakan apalagi. Dini juga tidak bisa menghentikan pekerjaan Alan. Ia hanya berpesan hati-hati di jalan dan mendoakan Alan selamat sampai tujuan.
Dini berbaring di kasurnya. Namun, sesekali ia terduduk lagi. Setelah itu, ia berbaring lagi dan juga mengganti posisi tidurnya. Kadang miring ke kanan dan kadang miring ke kiri. Ia begitu gelisah. Seperti ada yang mengganggu hati dan pikirannya.
__ADS_1
Tidak hentinya ia beristighfar dan memanjatkan doa untuk Alan. Karena, yang di ingatannya bayang-bayang Alan. Tapi, tidak juga membuatnya tenang.
"Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa hati hamba ini sangat gelisah? Astaghfirullah al 'adzim", ucap Dini kemudian mengatur napasnya.
***
Saat sampai di sebuah jembatan, Bobby memberhentikan laju mobilnya. Ia turun dari mobil dan juga mengajak Alan untuk turun. Alan sempat bingung mengapa Bobby berhenti di tempat seperti itu.
Saat Alan turun, dan melihat jembatan tersebut, sekelebat ingatan muncul di pikirannya. Ia merasakan pusing, namun ia tetap berjalan di jembatan itu sambil memperhatikannya. Memang Alan seperti tidak asing dengan jembatan tersebut.
Dan di sisi lain, Bobby mengambil sebuah balik kayu yang tergeletak di pinggir jalan. Ia sudah membuat senyum jahat diwajahnya. Lokasi ini sangat mendukung Bobby untuk melancarkan aksinya. Jalan ini di kenal memang sunyi, karena sudah beralih ke jalan lintas yang memang baru di buat beberapa bulan lalu.
Bobby berjalan perlahan-lahan ke arah Alan yang sedang sempoyongan. Semakin lama ia semakin dekat dengan Alan. Untuk yang kedua kalinya, ia akan menyingkirkan Alan dan akan menguasai semua yang Alan miliki.
Tiba-tiba saja, Alan mengingat saat itu. Ya, saat ia berada di jembatan itu bersama dengan Bobby. Ia bertengkar dengan Bobby, dan sampai pada akhirnya Alan terjatuh dari jembatan tersebut. Kepala Alan saat itu terbentur kuat pada sebuah batu besar yang berada di sungai itu dan setelah itu, ia tidak ingat apa-apa lagi.
"Aku.. aku sudah ingat semuanya", gumam Alan. "Kau memang sakit jiwa Bobby! Berani-beraninya kamu ingin membunuhku lagi! Aku tidak akan segan-segan membuatmu masuk penjara!", ucap Alan geram melihat kelakuan Bobby.
"Oh, sudah ingat kamu sekarang? Seharusnya kamu berterima kasih padaku karena telah membuat mu ingat kembali", ucap Bobby sombong sambil tersenyum angkuh. "Dan sekali lagi Alan, aku akan mengalahkanmu! Akan aku pastikan terlebih dahulu kau mati di hadapanku!".
"Kau memang tidak punya hati nurani! Aku ini saudaramu! Bagaimana bisa setega itu kau padaku!"
"Kalau soal harta tidak ada kata saudara! Jika mendapatkannya dengan cara kau tiada, maka aku akan membuatmu tiada!"
__ADS_1
"Aku tidak akan kalah lagi! Dan kau akan segera mendekam di penjara!"
"Dengan tubuh lemah itu, kau tidak akan bisa mengalahkanku! Ciiiiaat!", ucap Bobby lalu mengayunkan balok kayu yang sedari tadi dipegangnya ke arah Alan yang masih terduduk lemas.
Tapi, dengan tenaga yang tersisa, Alan menguatkan diri untuk menghalangi Bobby. Ia langsung menendang tangan Bobby dan terhempas lah balok kayu tersebut.
"Brengsek!" teriak Bobby kesal.
Alan perlahan-lahan berdiri menghadap Bobby. Ia sudah sangat siap jika harus berkelahi dengan Bobby. Walaupun, tubuh dan kepalanya masih terasa sakit.
Dan benar saja, dengan beringas Bobby maju dahulu dan menghantam Alan. Kondisi Alan cukup lemah saat itu. Alan juga terus berdoa di dalam hatinya agar bisa lepas dari dari Bobby.
Bobby kembali mengambil balok kayunya dan menghujani Alan dengan pukulan menggunakan balok kayu itu. Sesekali Alan mampu membalas Bobby dengan menendangnya dan membuatnya terdorong. Tapi, tetap saja Bobby terlihat akan berhasil mengalahkan Alan lagi.
"Kau akan mati di tanganku!", ucap Bobby antusias melihat Alan yang kembali terduduk, terkulai lemas. "Ada kata-kata terakhir sebelum kau meninggalkan kami?", lanjut Bobby percaya diri.
"Kau pikir aku takut? Aku tidak akan mati di tanganmu! Kau tau kan, sangat sulit menyingkirkan ku. Kau sangat naif Bobby", ucap Alan tersenyum mengejek Bobby.
Bobby begitu geram dengan ucapan yang terlontar dari mulut Alan. Ia merasa sangat bodoh di depan Alan. Ia merasa terhina. Tidak pikir panjang lagi, hatinya yang sudah lama memanas, kini adalah puncaknya. Ia menegangkan balok kayunya lalu ingin menghempaskannya di kepala Alan. Namun, sedikit lagi mengenai kepala Alan.
"Woi! Berhenti!", tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan.
***
__ADS_1