Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)

Terbiasa Denganmu (Kisah Cinta CEO Amnesia)
Bab 25. Pertemuan Gilang dan Alan


__ADS_3

"Assalamu'alaikum", ucap Gilang di depan pintu rumah Abah.


Seseorang yang sedang berada di rumah pun langsung menjawab salam mereka dan bergegas menemui tamu yang datang ke rumahnya. Betapa terkejutnya Emak melihat kedatangan Gilang dan Dara.


Dara langsung memeluk erat Emak. Begitu sangat rindu karena sudah hampir setahun mereka tidak bertemu. Emak langsung menyuruh mereka masuk dan ingin segera membawakan minuman kepada mereka.


Dari dalam kamar, Dini mendengar suara ribut dari luar. Ia pun penasaran dan bergegas keluar dari kamar untuk mengetahui siapa tamu yang datang ke rumahnya. Begitu tau bahwa Dara dan Gilang yang datang ia begitu senang. Dan langsung memeluk Dara dengan erat.


Tidak lupa Dara memberikan sebuah hadiah untuk Dini, adik sepupu kesayangannya yang sudah dia anggap seperti adik kandungnya sendiri. Dini merasa sangat bahagia. Ia tidak sabar dan langsung membuka hadiahnya yang ternyata adalah baju-baju baru dan juga sebuah tas sandang yang sangat cantik berwarna merah kesukaannya. Lalu, matanya terperanjat melihat sebuah kotak yang ia tahu itu adalah kotak handphone. Matanya langsung berbinar-binar dan langsung memeluk kotak tersebut.


"Ayo di buka dong", pinta Dara.


Dengan malu-malu Dini membuka kotak tersebut. Dan dia pun terkejut lagi, pasalnya itu adalah handphone yang memang ingin dia beli. Karena sudah beberapa bulan ini Dini mengumpulkan uangnya untuk membeli handphone tersebut. Dan kini ia tidak perlu lagi mengeluarkan uangnya.


"Makasih ya kak", ucap Dini sambil memeluk dan menciumi Dara.


"Eit, makasihnya ke Kak Gilang dong. Kan belinya pakai uang Kak Gilang", ucap Dara.


"Hehehe makasih ya Kak Gilang", ucap Dini malu-malu.


"Iya sayang. Sama-sama", jawab Gilang sambil tersenyum karena lucu melihat tingkah Dini.


Kemudian Emak datang membawakan minuman serta cemilan untuk mereka santap. Tak lupa pula Dara memberikan hadiah untuk Emak dan juga Abah. Emak juga merasa sangat bahagia menerima hadiah dari anaknya itu. Kemudian, Emak ingin menghubungi Abah supaya cepat pulang karena kedatangan Dara dan Gilang. Namun, Dara berpesan agar Emak tidak bilang bahwa mereka telah berada di rumah untuk mengejutkan Abah. Emak pun menuruti perintah Dara dan langsung berjalan ke kamar untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Abah.


"Oh iya. Sebagai gantinya gimana kalau Dini masak untuk Kak Dara dan Kak Gilang. Kalian mau dimasakin apa?", tawar Dini.


"Em, apa ya Mas kira-kira", tanya Dara pada suaminya.


"Dini mau masak apa aja pasti enak. Semua yang Dini masak pasti Kakak makan", jawab Gilang memuji Dini.

__ADS_1


Dini pun tampak tersipu malu karena telah di puji. Kemudian Dini mengusulkan ingin memasak kare kambing spesial untuk kakak-kakaknya. Mereka berdua pun setuju dengan usulan Dini.


Kemudian Dini langsung bergegas untuk pergi ke peternakan untuk mengambil daging kambing. Namun, tidak di sangka Abah sudah sampai di depan rumah. Dini langsung sedikit takut karena Abah melarangnya keluar rumah sebelumnya.


"Mau kemana kamu?", tanya Abah pada Dini yang berada di teras.


"Mau ke peternakan Bah. Mau ngambil daging kambing. Dini mau masak kare kambing", jawab Dini dengan sedikit rasa takut.


"Tumben?"


"Soalnya ada tamu, Bah. Jadi, mau sekalian di ajak makan".


"Tamu? Siapa?"


"Kayaknya Abah harus liat sendiri deh".


"Ya sudah, kali ini Abah izinkan kamu keluar. Tapi, Abah mohon jangan melakukan sesuatu yang memalukan".


"Wa'alaikum salam", jawab Gilang dan Dara bersamaan sambil melihat ke arah orang yang baru masuk ke rumah itu.


"Dara? Gilang?", ucap Abah terkejut dengan senyuman lebar di bibirnya.


Dari luar Dini mendengar suara ricuh dari dalam rumahnya. Hatinya juga ikut merasa senang karena rumahnya menjadi ramai sekarang. Ia pun bergegas mengendarai motornya menuju peternakan.


***


Dini telah membawa 3 kg daging kambing pilihan dari peternakan Abah. Ia sedang mengendarai motornya menuju rumahnya. Tanpa sengaja Dini melihat Wahyu yang sedang duduk sendirian di tepi jalan sambil memandangi hamparan sawah yang luas. Dini menghentikan laju motornya di sisi jalan lainnya.


Dini merasa Wahyu sedang dirundung masalah. Ia terlihat seperti sedang melamun. Dini penasaran dengan apa yang sedang Wahyu pikirkan. Tapi, Saat ia hendak turun dari motornya, ucapan Abah langsung terlintas di benaknya. Tidak mungkin ia mengecewakan Abah lagi. Dini langsung mengurungkan niatnya untuk menemui Wahyu.

__ADS_1


Ia langsung melajukan motornya kembali. Dan saat tiba di rumah, ia langsung membersihkan daging kambing itu dan setelah itu ia langsung merebusnya agar dagingnya empuk. Sambil menunggu daging yang di rebus, Dini menyiapkan bumbu kare. Di rumah selalu tersedia bumbu masakan serta dedaunan untuk aromatik ada tumbuh di halaman rumahnya.


Saat itu juga, sebuah mobil pickup masuk ke halaman rumah Abah. Tejo turun dari mobil, ia langsung masuk dari pintu belakang karena ingin mandi. Dari kejauhan, sudah tercium aroma sedap yang menggugah seleranya. Kemudian ia buru-buru masuk dan mendapatkan Dini yang sedang memasak.


"Ssstt, masak apa?", tanya Tejo yang berada di pintu.


"Eh Jo, cepetan mandi gih. Setelah itu kita makan bareng. Ini aku lagi masal kare kambing, acar timun dan nanas, sama mau buat telur dadar. Pokoknya enak deh", jelas Dini sambil mengaduk-aduk masakannya.


"Tumben banget banyak yang dimasak?", tanya Tejo penasaran.


"Iya dong. Soalnya Kakakku dan suaminya datang kesini. Dah, cepetan mandi sana", jawab Dini.


"Ya, udah deh kalau gitu aku ambil baju di kamar dulu", ucap Tejo


***


Dini sedang meletakkan makanan yang ia masak di atas tikar yang sudah dipersiapkan Abah tadi. Ya, mereka akan makan lesehan. Aroma masakan Dini sangat sedap. Semua orang tidak tahan lagi ingin memakannya.


Mereka pun mulai mengambil piring dan mengisinya dengan nasi. Dan tiba-tiba Tejo datang sambil mengucap salam. Gilang yang melihat kedatangan seorang pria itu pun kaget dan langsung berdiri.


"Pak Alan?", ucap Gilang kaget.


Semua heran dengan apa yang di ucapkan Gilang. Begitu juga dengan Tejo. Ia juga kaget karena lagi-lagi ia mendengar nama Alan. Nama yang membuat kepalanya sangat sakit karena nama itu terus berdatangan di dalam benaknya. Dan Tejo juga heran, mengapa pria itu menyebut dirinya Alan. Apakah itu nama aslinya dan apakah karena itu ia menganggap nama Alan tidak asing di telinganya. Namun, siapa pria itu. Kenapa dia mengenal dirinya dan menyebutnya dengan panggilan "Pak".


"Kak Gilang kenal sama Tejo?", tanya Dini.


"Tejo?".


"Ia Tejo, itu nama yang Dini berikan karena dia lupa ingatan dan lupa dengan namanya juga", jawab Dini.

__ADS_1


"Apa? Lupa ingatan?", tanya Gilang yang masih bingung


**"


__ADS_2